Laporkan Masalah

PEMANFAATAN FOTO UDARA PANKROMATIK HITAM PUTIH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENENTUKAN LAHAN KRITIS (STUDI KASUS DI KAWASAN HUTAN LINDUNG KABUPATEN PACITAN, JAWA TIMUR)

ASEP YOGI JUNAEDI, Ir. Sahid,M.S.; Ir. Ambar Kusumandari. M.E.S

2003 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Hutan merupakan sumberdaya alam yang memffiE berbagai fungsi, antara lain fungsi lindung, fungsi suaka alam dan fungsi wisata. Populasi penduduk bumi yang kian meningkat berpengaruh terhadap sumberdaya alam dan lahan yang ada. Pengelolaan lahan kritis yang baik mampu mengurangi laju degradasi kualitas lingkungan hidup sehingga pembangunan berkelanjutan yang holistik dan ekologis dapat terwujud. Penentuan lahan kritis hams dilakukan terlebih dahulu, sebelum pengelolaan dilakukan, oleh karena itu diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung terciptanya tujuan di atas. Tujuan penelitian ini adalah memetakan dan mengklasifikasi lahan kritis serta menentukan klasifikasi prioritas lebih lanjut di kawasan hutan lindung Kabupaten Pacitan dengan memanfaatkan Foto Udara dan Sistem Informasi Geografis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode skoring dan klasifikasi dari empat parameter yang digunakan yaitu penutupan lahan, kelas kelerengan, erosi dan manajemen. Pengolahan lebih lanjut dengan teknik penginderaan jauh foto udara dan overlay peta. Hasil penelitian dan analisis menunjukkan bahwa kawasan hutan lindung sangat kritis memiliki luasan sebesar 163,497 ha (25.26%), kawasan hutan lindung kritis sebesar 183,848 ha (28,74 %), kawasan hutan lindung agak kritis sebesar 9,073 ha (14,86%), kawasan hutan lindung potensial kritis sebesar 192,029 ha (30,02%), dan kawasan hutan lindung tidak kritis sebesar 5,112 ha (0,8%). Kata kunci : Lahan Kritis, Hutan Lindung, Foto Udara, Sistem Informasi Geografis 1. Mahasiswa Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan UGM 2. Dosen Pembimbing I, Staf Pengajar Fakultas Kehutanan UGM 3. Dosen Pembimbing II, Staf Pengajar Fakultas Kehutanan UGM Asep Yogi Junaedi Sahid 2) i ) Ambar Kusumandari 3) INTISARI

Forest as natural resource has many function\ function, conservation function and tourism functionMfhe increasing population growth has significant effects toward existing natural resource and land area. The management of critical land if carried out well can decrease the rate of degradation of environment quality so that a holistic and ecologic sustainable development can be done achieved. Determining critical land area is then needed before management can be done, because of that there is a need for the science and technology to support the goals above. The purpose of this research is to map and classify critical land also to determine and classify further according to priority in the protected forest area of Kabupaten Pacitan with the use of Air-photos and Geographic Information System. The research method used is the scoring method and classification of four parameters that are used, consisting of : land coverage, slope class, erosion and management. Furthe management is taken with remote sensing techniques of airphotos and overlay maps. The results and analysis of the research shows that the protected forest area is in very critical condition with a very critical land area of 163.497 ha (25.26%), a critical land area of 183. 848 ha ( 28.74 %), a rather critical of 9.073 ha ( 14.86 %), a land area of potentially critical land as much as 192.029 ha ( 30.02 %), and a land area of not critical land area of 5.112 ha (0.8 %).

Kata Kunci : Lahan Kritis, Hutan Lindung, Foto Udara, Sistem Informasi Geografis

  1. Abstract.pdf  
  2. Bibliography.pdf  
  3. Table_of_Content.pdf  
  4. Title.pdf