Konsep Hubungan Bola (Rumah Tinggal) Terhadap Landa’ (Lumbung Padi) di Kampong Pepandungan Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan
Dwila Nur Haq, Prof. Ir. Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng., Ph.D., IPU
2026 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap unsur-unsur pembentuk hubungan antara bola (rumah tinggal) dan landa’ (lumbung padi) dalam sistem hunian masyarakat Kampong Pepandungan, Kabupaten Enrekang, serta memahami konsep dasar yang melandasi hubungan tersebut. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan informan kunci, serta dokumentasi visual terhadap pola ruang dan orientasi bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara bola dan landa’ dibentuk oleh lima sub-konsep utama, yaitu: (1) Pangtoean Lino (orientasi terhadap arah mata angin dan Gunung Rantemario), (2) Gunanna (fungsi bangunan dalam kehidupan sehari-hari), (3) Ngenan (penataan tempat dan jarak antara bola dan landa’), (4) Panggaukan (cara memperlakukan dan merawat bangunan menurut adat), dan (5) Matappa (keyakinan spiritual terhadap makna bangunan dan hasil bumi). Kelima unsur tersebut merupakan manifestasi dari nilai-nilai kosmologi lokal yang berpijak pada konsep Tallu Lino, yakni alam sebagai kaki, bola sebagai badan, dan landa’ sebagai kepala. Hubungan ini tidak hanya mencerminkan struktur fungsional dan spasial, tetapi juga menjadi cerminan sistem nilai budaya dan religius masyarakat Pepandungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem hunian tradisional di Kampong Pepandungan tidak terlepas dari kerangka berpikir kosmologis yang mengatur cara masyarakat menata ruang, menghormati alam, serta menjalani kehidupan yang harmonis dengan leluhur dan lingkungan sekitar. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pelestarian arsitektur tradisional berbasis kearifan lokal serta pengembangan desain kontekstual yang berpihak pada identitas budaya.
This research aims to explore the fundamental elements that shape the relationship between bola (house) and landa’ (rice barn) within the traditional settlement system of Kampong Pepandungan, Enrekang Regency. Employing a qualitative approach through phenomenological methods, data were collected through field observations, in-depth interviews with key informants, and visual documentation of spatial patterns and building orientation. The findings reveal that the relationship between bola and landa’ is constructed through five key sub-concepts: (1) Pangtoean Lino (orientation toward cardinal directions and Mount Rantemario), (2) Gunanna (functional roles of the buildings in daily life), (3) Ngenan (spatial arrangement and distance between bola and landa’), (4) Panggaukan (cultural treatment and care of the buildings), and (5) Matappa (spiritual beliefs embedded in the buildings and agricultural produce). These elements represent the manifestation of local cosmological values rooted in the Tallu Lino concept, in which nature is the feet, bola is the body, and landa’ is the head. This relationship not only reflects functional and spatial organization but also embodies the cultural and religious worldview of the Pepandungan community. The study concludes that the traditional settlement system in Kampong Pepandungan is inseparable from a cosmological framework that governs how the community organizes space, respects nature, and maintains harmony with ancestral and environmental forces. These findings are expected to serve as a foundation for preserving vernacular architecture rooted in indigenous wisdom and for developing contextual architectural designs that reinforce cultural identity.
Kata Kunci : Bola,Landa’,Tallu Lino,kosmologi lokal,arsitektur tradisional,Kampong Pepandungan