Analisis Perbedaan Tingkat Produksi dan Konsumsi Garam di Kabupaten Purworejo
Isyfan Falah, Ir. Nur Mayke Eka Normasari, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM.
2026 | Tesis | S2 Teknik Industri
Kabupaten Purworejo merupakan salah satu wilayah pesisir di Pantai Selatan Jawa yang memiliki potensi pengembangan tambak garam. Namun, hingga saat ini daerah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan garam konsumsi masyarakatnya secara mandiri. Rata-rata kebutuhan garam konsumsi di Kabupaten Purworejo mencapai 2.313 ton per tahun, sedangkan produksi lokal hanya sekitar 240 ton per tahun pada periode 2021–2024. Kondisi ini menyebabkan kesenjangan produksi dan konsumsi (gap) yang sangat besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat produksi dan konsumsi garam di Kabupaten Purworejo serta memproyeksikan kondisi hingga tahun 2030 menggunakan metode regresi. Data historis yang digunakan meliputi produksi garam, konsumsi garam, luas lahan garam, dan jumlah penduduk. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada periode peramalan 2025–2030, produksi garam diproyeksikan meningkat dari 48,49 ton menjadi 82,48 ton, namun peningkatan tersebut belum mampu menutup gap karena konsumsi diperkirakan naik dari 2.536 ton menjadi 2.830 ton. Gap produksi dan konsumsi berada pada kisaran 2.400–2.500 ton per tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa model regresi konsumsi garam persamaan, yaitu Konsumsi Garam = ?4.262,52 + 0,00848 (Jumlah Penduduk), sedangkan model regresi untuk produksi garam dirumuskan dalam persamaan, Produksi Garam = 24,98 + 40,13 (Luas Lahan). Berdasarkan hasil peramalan, penambahan lahan garam seluas 60 hektare melalui skema pemanfaatan lahan Government Ground mampu meningkatkan produksi garam dan memperkecil kesenjangan antara produksi dan konsumsi, sehingga berpotensi mempersempit kesenjangan antara produksi dan konsumsi di Kabupaten Purworejo.
Kabupaten Purworejo is one of the coastal areas along the southern coast of Java that has potential for the development of salt ponds. However, to date, the region has not been able to meet its domestic salt consumption needs independently. The average demand for consumption salt in Kabupaten Purworejo reaches 2,313 tons per year, while local production is only around 240 tons per year during the 2021–2024 period. This condition results in a substantial gap between production and consumption. This study aims to analyze the disparity between salt production and consumption levels in Purworejo Regency and to project conditions through 2030 using regression methods. Historical data used in this analysis include salt production, salt consumption, salt farming area, and population size. The results indicate that during the 2025–2030 forecasting period, salt production is projected to increase from 48.49 tons to 82.48 tons; however, this increase is insufficient to close the gap, as consumption is expected to rise from 2,536 tons to 2,830 tons. Consequently, the production–consumption gap remains in the range of 2,400–2,500 tons per year. The analysis shows that the regression model for salt consumption is expressed as: Salt Consumption = ?4,262.52 + 0.00848 (Population), while the regression model for salt production is formulated as: Salt Production = 24.98 + 40.13 (Land Area). Based on the forecasting results, the expansion of salt farming land by 60 hectares through the utilization of Government Ground land has the potential to increase salt production and reduce the gap between production and consumption, thereby contributing to a narrower production–consumption disparity in Kabupaten Purworejo.
Kata Kunci : produksi garam, konsumsi garam, regresi / salt production, salt consumption, regression