Komunikasi Advokasi Organisasi Penyandang Disabilitas dalam Mewujudkan Pengadilan Inklusif. Studi Kasus Organisasi SAPDA Yogyakarta
Harum Retnadi G.S., Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.I.P., M.Si.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Komunikasi
Penelitian ini mengkaji praktik komunikasi
advokasi yang dilakukan oleh organisasi penyandang disabilitas Sentra Advokasi Perempuan
Difabel dan Anak (SAPDA) di Yogyakarta dalam mendorong pengadilan inklusif di
Indonesia. Dengan menggunakan Teori Komunikasi Advokasi (Advocacy Communication
Theory/ACT) dari Monica Cornejo (2022), paradigma konstruktivis, pendekatan
kualitatif, dan metode studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana
SAPDA menjalankan komunikasi advokasi untuk memperjuangkan hak-hak penyandang
disabilitas dalam peradilan. SAPDA dipilih sebagai studi kasus karena secara
konsisten dan strategis telah berkontribusi dalam upaya advokasi sistem
peradilan yang inklusif di Indonesia. Sejak diberlakukannya Peraturan
Pemerintah Nomor 39 Tahun 2020, SAPDA berhasil mendukung 172 pengadilan pada
September 2025 dalam upaya mereka menjadi lebih inklusif. Ini adalah sebuah
capaian yang hingga saat ini belum dapat disamai oleh organisasi masyarakat
sipil lainnya di Indonesia. Untuk memahami bagaimana SAPDA menginterpretasikan
tantangan, membangun makna, dan menyesuaikan strateginya sepanjang proses
advokasi, penelitian ini menggunakan konsep sensemaking dari Teori
Informasi Organisasi Karl Weick. Pendekatan ini memungkinkan analisis yang
lebih mendalam terhadap dinamika internal organisasi dalam merespons
kompleksitas lingkungan advokasi. Studi ini memberikan wawasan tentang proses
komunikasi advokasi yang dilakukan oleh organisasi penyandang disabilitas serta
bagaimana strategi komunikasi yang adaptif dapat meningkatkan efektivitas implementasi
kebijakan di sektor peradilan.
This study examines the advocacy communication practices of the
disability organization Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA) in
Yogyakarta, focusing on its efforts to promote inclusive courts in Indonesia.
Drawing on Monica Cornejo (2022)’s Advocacy Communication Theory (ACT), a
constructivist paradigm, a qualitative approach, and a case study method, this
research explores how SAPDA engages in advocacy communication to advance the
rights of persons with disabilities within the judicial context. To understand
how SAPDA interprets challenges, constructs meaning, and adapts its strategies
throughout the advocacy process, this study applies the concept of sensemaking
from Karl Weick’s Organizational Information Theory. This approach enables a
deeper analysis of the organization’s internal dynamics in responding to the
complexities of the advocacy environment. SAPDA is selected as the case study
as they have consistently and strategically contributed to inclusive justice
system advocacy in Indonesia. Since the enactment of Government Regulation No.
39 of 2020, SAPDA has successfully supported 172 courts as of September 2025 in
their efforts to become more inclusive, an achievement unmatched by any other
civil society organization in the country. The study provides insights into the
processes of advocacy communication carried out by disability organizations and
how adaptive communication strategies can enhance the effectiveness of policy
implementation within the judicial sector.
Kata Kunci : Komunikasi advokasi, sensemaking, advokasi disabilitas, pengadilan inklusif, organisasi penyandang disabilitas, SAPDA/Advocacy communication, sensemaking, disability advocacy, inclusive court, disability organization, SAPDA