Perbandingan antara Ultrasonografi Diafragma (DE, DTF) Dan Rapid Shallow Breathing Index (RSBI) terhadap Keberhasilan Weaning pada Pasien Dengan Ventilasi Mekanik > 48 Jam di ICU RS Sardjito Yogyakarta
Meta Restu Synthana, dr. Calcarina FRW Sp.An-TI, Subsp TI (K)., Dr. dr Akhmad Yun Jufan Sp. An-TI. Subsp An TI (K), M.Sc
2025 | Tesis-Subspesialis | SUBSPESIALIS ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF
Latar Belakang : Weaning adalah transisi bertahap dari ventilasi mekanik menuju pernapasan mandiri, membutuhkan evaluasi ketat atas kesiapan fisiologis pasien untuk mengurangi risiko komplikasi seperti reintubasi. Penilaian kesiapan untuk weaning sering kali mengandalkan parameter tradisional seperti indeks napas cepat dangkal/ Rapid Shallow Breathing Index (RSBI), yang meskipun telah digunakan secara luas, masih memiliki keterbatasan dalam akurasi prediktifnya. Oleh karena itu, DE dan DTF telah dikembangkan sebagai parameter tambahan untuk mengevaluasi fungsi diafragma dan mengatasi keterbatasan RSBI
Tujuan : Mengetahui Apakah Ultrasonografi diafragma memiliki angka keberhasilan weaning lebih tinggi pada pasien terventilasi mekanik > 48 jam dibandingkan dengan Rapid Shallow Breathing Index (RSBI) di ICU RS Sardjito yogyakarta.
Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan metode cohort prospektif di Intensive Care Unit (ICU) Yogyakarta. Dilakukan Spontaneous Breathing Trial (SBT) pada pasien yang akan dilakukan weaning, pasien dengan toleransi baik selama SBT, dilakukan pengukuran Rapid Shallow Breathing Index (RSBI), dan dilakukan ultrasonografi diafragma dengan menghitung Diaphragmatic Excursion (DE) dan Diaphragmatic Thickening Fraction (DTF). Data dianalisis berdasarkan luaran berhasil weaning dan gagal weaning. Sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (PPV) dan nilai prediksi negatif (NPV) dihitung untuk ekskursi dan tdi untuk memprediksi keberhasilan weaning. Kurva Receiver Operating Characteristics (ROC) digunakan untuk mengevaluasi dan membandingkan utilitas klinis ekskursi diafragma, DTF (?tdi%) , serta RSBI untuk keberhasilan weaning.
Hasil: Terdapat perbedaan signifikan DE secara statistik (p= 0.0) antara kelompok berhasil weaning dan gagal weaning. Dengan rata-rata DE yang lebih tinggi (1,54 mm) pada pasien berhasil dibandingkan kelompok yang gagal (0,98 mm). Tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik (P = 0.869) antara kedua kelompok pada DT ekspirasi, DT inspirasi dan DTF. Rata-rata DTF pada kelompok berhasil (41,18%) dan gagal (47,62%). Dengan cut off RSBI < 105>
Kesimpulan: DE lebih efektif dibanding RSBI dalam memprediksi keberhasilan weaning pada pasien terventilasi mekanik > 48 jam di ICU RS Sardjito Yogyakarta. DTF tidak lebih baik dibanding RSBI dalam memprediksi keberhasilan weaning pada pasien terventilasi mekanik > 48 jam di ICU RS Sardjito Yogyakarta.
Background: Weaning is the gradual transition from mechanical ventilation to spontaneous breathing, which requires thorough evaluation of the patient's physiological readiness in order to reduce the risk of complications such as reintubation. Readiness for weaning is often assessed using traditional parameters such as the Rapid Shallow Breathing Index (RSBI), which, despite its widespread use, still has limitations in predictive accuracy. Therefore, Diaphragmatic Excursion (DE) and Diaphragmatic Thickening Fraction (DTF) have been developed as additional parameters to evaluate diaphragm function and address the limitations of RSBI.
Objective: To determine whether diaphragm ultrasonography has a higher rate of extubation success in patients with prolonged mechanical ventilation compared to the Rapid Shallow Breathing Index (RSBI) in the ICU of RS Sardjito Yogyakarta.
Method: This study was conducted using a prospective cohort method in the Intensive Care Unit (ICU) of RS Sardjito, Yogyakarta. A Spontaneous Breathing Trial (SBT) was performed on patients eligible for extubation. For patients who tolerated the SBT well, RSBI was measured, followed by diaphragm ultrasonography to assess Diaphragmatic Excursion (DE) and Diaphragmatic Thickening Fraction (DTF). Data were analyzed based on weaning outcomes (success vs. failure). Sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), and negative predictive value (NPV) were calculated for DE and DTF in predicting weaning success. Receiver Operating Characteristic (ROC) curves were used to evaluate and compare the clinical utility of diaphragmatic excursion, DTF (?tdi%), and RSBI in predicting weaning success.
Results: There was a statistically significant difference in DE (p = 0.000) between the successful and failed weaning groups. The average DE was higher (1.54 mm) in the successful group compared to the failed group (0.98 mm). There was no statistically significant difference (P = 0.869) between the two groups in expiratory DT, inspiratory DT, and DTF. The average DTF in the successful group was 41.18% and the failed group was 47.62%. With a RSBI cutoff of <105>
Conclusion: DE is more effective than RSBI in predicting weaning success in mechanically ventilated patients for >48 hours in the ICU of Sardjito Hospital, Yogyakarta. DTF is not better than RSBI in predicting weaning success in mechanically ventilated patients for >48 hours in the ICU of Sardjito Hospital, Yogyakarta.
Kata Kunci : Weaning, Rapid Shallow Breathing Index (RSBI), Diaphragmatic Excursion (DE), Diaphragmatic Thickening Fracting (DTF)