Rencana Pengembangan Bisnis Layanan Ojek Daring PT Tetangga Saling Bantu (Tetanggaku)
Ahmad Bairuni Hasibuan, Boyke Rudy Purnomo, S.E., M.M., Ph.D., CFP
2026 | Tesis | S2 MANAJEMEN (MM) JAKARTA
Tetanggaku
adalah layanan transportasi daring berbasis aplikasi mobile milik PT
Tetangga Saling Bantu yang pertama kali diluncurkan pada tanggal 28 Januari 2023. Tetanggaku dirancang
menggunakan teknologi terkini dengan tujuan memberikan kemudahan, kecepatan,
serta kenyamanan dalam mendukung mobilitas masyarakat Indonesia. Model bisnis
Tetanggaku berdasarkan tiga prinsip utama, yaitu keadilan ekonomi bagi mitra
pengemudi, keterjangkauan harga bagi pengguna, dan kedekatan dengan komunitas
lokal berbasis gotong royong.
Berdasarkan
data transaksi periode Januari 2023 hingga Agustus 2025, Tetanggaku menghadapi
dua permasalahan utama yang berdampak signifikan terhadap keberlangsungan
usaha, yaitu rendahnya transaksi (success rate) dan rendahnya jumlah
pemesanan harian (daily order). Rata-rata success rate tercatat
sekitar 40%, yang menunjukkan bahwa lebih dari separuh permintaan tidak
berhasil diproses. Sementara itu, jumlah rata-rata daily order hanya
sekitar 300 transaksi per hari, jauh dibawah kapasitas layanan dan potensi
pasar yang dapat dijangkau oleh aplikasi. Kondisi ini membatasi potensi
peningkatan pendapatan serta menghambat pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
Sebagai uapaya
mengatasi permasalahan tersebut, perusahaan menetapkan dua target utama, yaitu
meningkatkan tingkat keberhasilan transaksi (success rate) hingga
minimal 90?n jumlah pemesanan harian (daily order) hingga minimal
3.000 transaksi per hari. Pencapaian kedua target ini diharapkan dapat menutup
biaya operasional bulanan sekaligus mendorong pertumbuhan usaha yang
berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan model bisnis dan
penyusunan rencana bisnis yang komprehensif guna mewujudkan tujuan tersebut.
Metode
penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang didukung dengan
deskriptif kuantitatif. Strategi dan tahapan dalam menyusun rencana bisnis ini
meliputi rencana operasional, rencana organisasi, rencana pemasaran, dan
rencana keuangan. Uji kelayakan investasi menggunakan tiga kriteria yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Masing-masing
kriteria tersebut dibagi menjadi tiga skenario yaitu skenario optimis, skenario
most likely, dan skenario pesimis.
Uji kelayakan investasi selama 3 tahun kedepan untuk skenario optimis menghasilkan NPV sebesar Rp1.068.900.338, IRR sebesar 57,49%, dan PP dalam waktu 2 tahun 0 bulan sehingga dapat disimpulkan investasi pengembangan bisnis Tetanggaku ini layak untuk dijalankan. Hasil uji kelayakan investasi untuk skenario most likely yaitu NPV sebesar Rp818.576.383, IRR sebesar 55,24%, dan PP dalam waktu 2 tahun 3 bulan sehingga dapat disimpulkan investasi pengembangan bisnis Tetanggaku ini layak untuk dijalankan. Hasil uji kelayakan investasi untuk skenario pesimis yaitu NPV sebesar Rp387.994.701, IRR sebesar 6,64%, dan PP dalam waktu 2 tahun 8 bulan sehingga dapat disimpulkan investasi pengembangan bisnis Tetanggaku ini tidak layak untuk dijalankan dan dibutuhkan rencana cadangan.
Tetanggaku is a ride-hailing service owned by PT Tetangga Saling
Bantu, officially launched on January 28, 2023. Tetanggaku was developed using
up-to-date technology with the objective of providing convenience, speed, and
comfort in supporting the mobility needs of Indonesian society. The business
model of Tetanggaku is founded on three main principles, economic fairness for
driver partners, affordable pricing for users, and strong engagement with local
communities based on mutual cooperation.
Based on transaction
data from January 2023 to August 2025, Tetanggaku faces two major challenges
that significantly affect business sustainability, namely a low transaction
success rate and a low number of daily orders. The average success rate is
approximately 40%, indicating that more than half of user requests fail to be
completed. In addition, the average number of daily orders is only around 300
transactions per day, which is far below the service capacity and market
potential that the application could reach. This condition limits revenue
growth potential and hinders long-term business development.
To address these
challenges, the company has set two primary targets, increasing the transaction
success rate to at least 90% and raising the number of daily orders to a
minimum of 3,000 transactions per day. Achieving these targets is expected to
cover monthly operational costs and support sustainable business growth.
Therefore, the development of an improved business model and the formulation of
a comprehensive business plan are required to achieve these objectives.
This study employs a
qualitative descriptive research approach supported by quantitative descriptive
analysis. The business planning framework includes operational planning, organizational
planning, marketing planning, and financial planning. Investment feasibility is
evaluated using three criteria, Net Present Value (NPV), Internal Rate of
Return (IRR), and Payback Period (PP), each assessed under three scenarios:
optimistic, most likely, and pessimistic.
The investment feasibility analysis over a three-year period shows that, under the optimistic scenario, the project yields an NPV of Rp1.068.900.338, an IRR of 57.49%, and a payback period of 2 years and 0 months, indicating that the business development investment is feasible. Under the most likely scenario, the results show an NPV of Rp818.576.383, an IRR of 55.24%, and a payback period of 2 years and 3 months, which also indicates feasibility. However, under the pessimistic scenario, the analysis results in an NPV of Rp387.994.701, an IRR of 6.64%, and a payback period of 2 years and 8 months, suggesting that the investment is not feasible and requires the implementation of a contingency plan.
Kata Kunci : model bisnis, transportasi daring, rencana pengembangan bisnis, kelayakan investasi.