The Journey of Smart and Wise City Towards Sustainability: An Exploratory Case Study of The Special Region Of Yogyakarta
Tri Wahyuningsih, Prof. Drs. Wakhid Slamet Ciptono, M.B.A., M.P.M., M.P.U, Ph.D.
2026 | Tesis | S2 SAINS MANAJEMEN
Perkembangan cepat inisiatif kota pintar telah
menempatkan teknologi digital dan tata kelola berbasis data di pusat
pengembangan perkotaan. Namun, kemajuan teknologi saja tidak selalu
menghasilkan hasil perkotaan yang bermakna secara sosial atau berkelanjutan.
Sebagai respons, perdebatan terkini memperkenalkan konsep kota pintar dan
bijaksana, yang mengintegrasikan kecerdasan teknologi dengan penilaian etis,
nilai-nilai budaya, dan kesejahteraan kolektif. Meskipun relevansinya semakin
meningkat, penelitian empiris yang mengeksplorasi bagaimana kota-kota beralih
dari sekadar pintar menjadi bijaksana masih terbatas. Penelitian ini mengkaji
perjalanan menuju kota pintar dan bijaksana di Yogyakarta, Indonesia, dengan
mengeksplorasi bagaimana pembuat kebijakan dan aktor sosial menafsirkan dan
membangun makna kebijaksanaan perkotaan. Menggunakan studi kasus kualitatif
eksploratif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok
terfokus, observasi, dan analisis dokumen yang melibatkan 28 informan yang
mewakili pejabat pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, praktisi,
dan anggota komunitas. Analisis menggunakan pendekatan hermeneutik
interpretatif yang dikombinasikan dengan pencocokan pola untuk mengungkap pola
pemahaman yang muncul di antara aktor-aktor perkotaan.
Temuan menunjukkan bahwa transisi menuju kota
pintar dan bijaksana tidak semata-mata bersifat teknologi, melainkan merupakan
perjalanan kognitif dan spasial yang dibentuk oleh tingkat kesadaran yang terus
berkembang di kalangan aktor perkotaan. Pembuat kebijakan cenderung memandang
transisi ini melalui perspektif teknokratis dan berorientasi pada pengetahuan
yang sejalan dengan kebajikan intelektual Aristoteles (techne, episteme,
phronesis), sementara aktor sosial menafsirkan kebijaksanaan perkotaan melalui
pengalaman hidup yang tertanam dalam memori budaya, ikatan tempat, dan narasi
moral. Interpretasi ini sesuai dengan triad spasial Lefebvre, menggambarkan
pergerakan dari perencanaan teknokratis menuju ruang hidup yang berakar pada
budaya. Studi ini memberikan kontribusi teoretis dengan mengusulkan perjalanan
konseptual menuju Kota Cerdas dan Bijaksana, menekankan peran kesadaran
kolektif, pengetahuan kolektif, dan memori kolektif dalam membentuk
kebijaksanaan perkotaan. Studi ini mengembangkan beberapa diskursus teoretis,
termasuk hierarki DIKW, hermeneutika dalam perencanaan kota, phronesis, konsep eudaimonia perkotaan,
dan kontinuum pemahaman dan kesadaran, menunjukkan bahwa kemunculan kota bijak
tidak hanya bergantung pada kemampuan teknologi tetapi juga pada pembinaan
makna bersama, refleksi etis, dan kebijaksanaan kolektif dalam masyarakat
perkotaan.
The rapid diffusion of smart city initiatives
has positioned digital technologies and data-driven governance at the center of
urban development. However, technological advancement alone does not
necessarily produce socially meaningful or sustainable urban outcomes. In
response, recent debates have introduced the concept of the smart and wise
city, which integrates technological intelligence with ethical judgment,
cultural values, and collective well-being. Despite its growing relevance, empirical
research examining how cities transition from being merely smart to becoming
wise remains limited. This study investigates the journey toward a smart and
wise city in Yogyakarta, Indonesia, by exploring how policymakers and societal
actors interpret and construct the meaning of urban wisdom. Using an
exploratory qualitative case study, data were collected through in-depth
interviews, focus group discussions, observations, and document analysis
involving 28 informants representing government officials, academics, civil
society organizations, practitioners, and community members. The analysis
employs an interpretive hermeneutic approach combined with pattern matching to
uncover emerging patterns of understanding among urban actors.
The findings show that the transition toward a smart and wise city is
not primarily technological but represents a cognitive and spatial journey
shaped by evolving levels of awareness among urban actors. Policymakers tend to
frame this transition through technocratic and knowledge-oriented perspectives
aligned with Aristotle’s intellectual virtues (techne, episteme, phronesis), while
societal actors interpret urban wisdom through lived experiences embedded in
cultural memory, place attachment, and moral narratives. These interpretations
correspond with Lefebvre’s spatial triad, illustrating a movement from
technocratic planning toward culturally grounded lived space. The study
contributes theoretically by proposing a conceptual journey toward a Smart and
Wise City, emphasizing the role of collective awareness, collective knowledge,
and collective memory in shaping urban wisdom. It advances several theoretical
discourses, including the DIKW hierarchy, hermeneutics in urban planning, the
concept of urban eudaimonia, and the continuum of understanding and
consciousness, demonstrating that the emergence of a wise city depends not only
on technological capability but also on the cultivation of shared meaning,
ethical reflection, and collective wisdom within urban society.
Kata Kunci : smart and wise city; phronesis; Aristotelian intellectual virtues; continuum of consciousness; production of space; hermeneutics in urban planning