Laporkan Masalah

MOTIF AKTIVITAS ESTAFET SUPORTER SEPAK BOLA (STUDI KASUS BONEK ARUS BAWAH)

Alifuddin Sabrian Khautal, Milda Longgeita Br Pinem, S.Sos., M.A., Ph.D.

2026 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Fenomena estafet di kalangan suporter Persebaya Surabaya, khususnya Bonek Arus Bawah, merupakan bentuk dukungan laga tandang yang khas dan kontroversial, ditandai oleh perjalanan informal tanpa koordinasi yang jelas dengan berganti-ganti moda transportasi. Meskipun praktik ini sering dikaitkan dengan risiko keselamatan, stigma sosial, serta tindakan merugikan seperti tidak membayar makanan atau transportasi, estafet tetap berlangsung secara berulang. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Anggota Bonek Arus Bawah memaknai aktivitas estafet serta mengidentifikasi faktor sosial, ekonomi, dan kultural yang menopang keberlanjutannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi di wilayah Kota Surabaya, serta dianalisis secara tematik menggunakan teori tindakan sosial Max Weber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estafet tidak semata-mata dipahami sebagai strategi mobilitas akibat keterbatasan ekonomi, melainkan sebagai tindakan sosial yang sarat makna. Orientasi tindakan tradisional, afektif, dan rasionalitas nilai lebih dominan dibandingkan rasionalitas instrumental yang berorientasi pada keselamatan dan kepatuhan terhadap aturan. Estafet dimaknai sebagai ekspresi loyalitas, solidaritas kolektif, keberanian, serta penegasan identitas Bonek Arus Bawah. Stigma negatif seperti maling gorengan dan gembel tidak sepenuhnya menghilangkan praktik ini, tetapi dalam konteks tertentu justru ditafsirkan sebagai konsekuensi dari totalitas dukungan terhadap klub. Penelitian ini menyimpulkan bahwa estafet merupakan fenomena sosial yang kompleks dan tidak dapat dipahami secara memadai hanya melalui pendekatan rasional formal atau penertiban semata, melainkan melalui pemahaman atas makna subjektif tindakan sosial pelakunya.

The relay phenomenon among Persebaya Surabaya supporters, particularly Bonek Arus Bawah (Underwater Underwater), is a unique and controversial form of support for away matches, characterized by informal, uncoordinated travel involving multiple modes of transportation. Although this practice is often associated with safety risks, social stigma, and detrimental actions such as not paying for food or transportation, relays continue to occur repeatedly. This study aims to understand how Bonek Arus Bawah members interpret relay activities and identify the social, economic, and cultural factors that support their sustainability. This study uses a qualitative approach with a case study method, through in-depth interviews, observation, and documentation in the city of Surabaya, and is analyzed thematically using Max Weber's theory of social action. The results show that relays are not merely understood as a mobility strategy due to economic constraints, but rather as a meaningful social action. Traditional, affective, and value-rational action orientations are more dominant than instrumental rationality oriented towards safety and compliance with rules. Relays are interpreted as an expression of loyalty, collective solidarity, courage, and an affirmation of Bonek Arus Bawah's identity. Negative stigmas like "maling gorengan" (fried food thief) and "tramp" (tramp) have not completely eliminated this practice, but in certain contexts are interpreted as a consequence of total support for the club. This study concludes that relay is a complex social phenomenon that cannot be adequately understood through formal rational approaches or regulation alone, but rather through an understanding of the subjective meaning of the social actions of those involved.

Kata Kunci : Bonek Arus Bawah, estafet, suporter sepak bola, tindakan sosial, pemaknaan.

  1. S2-2026-512248-abstract.pdf  
  2. S2-2026-512248-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-512248-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-512248-title.pdf