Perbandingan Perilaku Herding pada Pasar Saham: Studi Empiris di Indonesia, China, dan Amerika Serikat dalam Masa Perang Dagang
Fitri Nurdjayanti, I Wayan Nuka Lantara, M.Si., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 MANAJEMEN (MM) JAKARTA
Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan perilaku herding pada pasar saham Indonesia (IHSG), China (SHCOMP), dan Amerika Serikat (S&P 500) selama periode perang dagang 2025. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Cross-Sectional Absolute Deviation (CSAD), penelitian menguji 50 saham berkapitalisasi pasar terbesar pada masing-masing indeks dalam enam kondisi pasar: pasar naik, pasar turun, volatilitas pasar tinggi, volatilitas pasar rendah, volume perdagangan tinggi, dan volume perdagangan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tidak ditemukan bukti empiris perilaku herding yang signifikan dan konsisten pada ketiga pasar saham. Seluruh pengujian pada kondisi pasar naik, pasar turun, volatilitas pasar tinggi, volatilitas pasar rendah, dan volume perdagangan rendah menghasilkan koefisien squared market return yang tidak menunjukkan pola negatif signifikan. Indikasi herding hanya terdeteksi secara lemah pada pasar saham Indonesia pada kondisi volume perdagangan tinggi pada tingkat signifikansi 10%, namun tidak robust dalam pengujian lanjutan. Temuan ini mengindikasikan bahwa perang dagang 2025 tidak menciptakan tekanan psikologis cukup kuat untuk memicu konformitas kolektif investor, dengan respons pasar yang lebih heterogen dan berbasis analisis individual, terutama di pasar maju seperti Amerika Serikat.
This study aims to analyze and compare herding behavior in the stock markets of Indonesia (IHSG), China (SHCOMP), and the United States (S&P 500) during the 2025 trade war. Using a quantitative approach with the Cross-Sectional Absolute Deviation (CSAD) method, the study examines the 50 largest market-capitalized stocks in each index under six market conditions which rising markets, declining markets, high volatility, low volatility, high trading volume, and low trading volume. The results indicate that, in general, no significant and consistent empirical evidence of herding behavior is found across the three stock markets. All tests under rising market conditions, declining markets, high market volatility, low market volatility, and low trading volume produce squared market return coefficients that do not exhibit a significant negative pattern. Herding indications are only weakly detected in the Indonesian stock market under high trading volume conditions at the 10% significance level; however, this finding is not robust in further testing. These findings suggest that the 2025 trade war did not generate sufficiently strong psychological pressure to trigger collective investor conformity, with market responses remaining more heterogeneous and based on individual analysis, particularly in developed markets such as the United States.
Kata Kunci : Perilaku herding, CSAD, kondisi pasar, perang dagang