A COMPARATIVE ANALYSIS OF CHATGPT 4.0 AND HUMAN TRANSLATION: CASE STUDY ON THE BILINGUAL BOOK “KUMPULAN LAGU DAN CERITA ANAK-ANAK DWIBAHASA.”
AMON BERNABAS TENIS, Dr. Adi Sutrisno,M.A
2026 | Tesis | S2 Linguistik
Perkembangan teknologi dimasa
sekarang sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Artificial
Intelligence merupakan salah satu produk dari perkembangan teknologi yang
saat ini banyak dipakai tidak saja dikalangan pelajar dan mahasiswa namun
hampir dipakai secara luas dalam masyarakat. Salah satu produk perkembangan AI
ini adalah ChatGPT 4.0. ChatGPT merupakan Large Language Model (LLM) yang
juga adalah Transformer dilatih untuk dipakai oleh berbagai macam
bidang, salah satunya adalah dibidang penerjemahan.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji: (1) keakuratan hasil terjemahan antara manusia dan ChatGPT 4.0, pada
terjemahan cerita anak dwibahasa, dengan menggunakan metrik BLEU. Kemudian
mengkaji kedekatan semantik membandingkan pada dua hasil terjemahan manusia dan
ChatGPT 4.0, menggunakan metrik BLEURT, (2) kesepadanan hasil terjemahan
manusia dan ChatGPT 4.0, apakah menggunakan kesepadanan formal atau dinamik,
(3) teknik penerjemahan yang digunakan oleh manusia maupun ChatGPT 4.0 dalam
menerjemahkan cerita-cerita pada buku bilingual Kumpulan Lagu dan Cerita
Anak-anak Dwibahasa.
Hasil penelitian menunjukan hasil
analisis menggunakan BLEU metrik menunjukan bahwa beberapa hasil terjemahan
pada ChatGPT 4.0 mencapai hasil 1.00. Dengan demikian menunjukan kemiripan
hasil terjemahan yang tinggi seperti pada cerita Wendit yang menunjukan
hasil akhir BLEU adalah 1.305. Namun, hasil analisis juga menunjukan bahwa
terdapat juga skor hasil analisis yang tidak mencapai skor standar yakni 1,
seperti yang pada cerita Roro Jonggrang yakni 0.131. Sedangkan hasil
analisis kemiripan makna semnatik dengan menggunakan metrik BLEURT menunjukan
bahwa pada cerita Mbah Batu skor akhir BLEURT menunjukan angka yang
mendekati skor standar 1.00 yakni 0.952, dan yang memiliki skor terendah yakni
pada cerita Wendit yakni 0.446.
selain itu, analisis kesepadanan makna pada hasil terjemahan menunjukan
bahwa kesepadanan formal yang dominan digunakan oleh penerjamah manusia maupun
ChatGPT 4.0 dalam menerjemahkan cerita anak-anak. Disamping itu teknik
penerjemahan yang dominan dipakai oleh manusia dan ChatGPT 4.0 adalah
terjemahan langsung (Literal Terjemahan).
The development of technology has significantly influenced various aspects of human life. One notable outcome of this development is Artificial Intelligence (AI), which has been widely utilized not only by students and academics in translation. One prominent AI-based product is ChatGPT 4.0, a Transformer-based Large Language Model (LLM) designed for various applications, including translation.
This study aims to serve: (1) the accuracy of translations produced by human translators and ChatGPT 4.0 in bilingual children’s stories using the BLEU metric, as well as to analyze semantic similarity between the two translation outputs using the BLEURT metric; (2) the types of translation equivalence employed by human translators and ChatGPT 4.0, specifically whether formal or dynamic equivalence is applied; and (3) the translation techniques used by both human translators and ChatGPT 4.0 in translating the stories in the bilingual book Kumpulan Lagu dan Cerita Anak-anak Dwibahasa.
The findings indicate that the BLEU score analysis shows several translation outputs produced by ChatGPT 4.0 achieved scores equal to or exceeding the standard value of 1.00, indicating a high degree of similarity between the source and target texts. For instance, the story Wendit obtained the highest BLEU score of 1.305. However, the analysis also reveals lower BLEU scores in certain stories, such as Roro Jonggrang, which recorded a score of 0.131. Furthermore, the semantic similarity analysis using the BLEURT metric demonstrates that Mbah Batu achieved a score close to the standard value, with a BLEURT score of 0.952, while Wendit recorded the lowest score at 0.446. In addition, the analysis of translation equivalence shows that formal equivalence is dominantly employed by both human translators and ChatGPT 4.0 in translating children’s stories. Moreover, the most frequently used translation technique by both translators is literal translation.
Kata Kunci : Perbandingan, Penerjamahan, Manusia, ChatGPT 4.0, Kesepadanan, Teknik Penerjamahan