Pengembangan Pemodelan Spasial Kerawanan Kebakaran Bangunan Berbasis Citra Satelit Dan Evaluasi Zona Layanan Pemadam Kebakaran (Studi Kasus: Kecamatan Banjarmasin Utara, Tengah dan Barat, Kota Banjarmasin)
Faris Ade Irawan, Drs. Projo Danoedoro , M.Sc.,Ph.D.
2026 | Disertasi | S3 Geografi
Permukiman perkotaan padat dengan dominasi
bangunan semi permanen memiliki tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi. Namun,
pemetaan kerawanan kebakaran bangunan hingga saat kini masih didominasi oleh
pendekatan deterministik berbasis skoring dan interpretasi visual, yang belum
mampu merepresentasikan variasi karakter material bangunan, kepadatan skala
mikro, serta keterjangkauan layanan pemadam secara spasial. Kondisi ini
menuntut pengembangan pendekatan pemodelan yang lebih objektif, berbasis data,
dan operasional. Penelitian ini bertujuan mengembangkan pemodelan spasial
kerawanan kebakaran bangunan di kawasan permukiman padat Kota Banjarmasin
melalui integrasi penginderaan jauh (PJ) resolusi sangat tinggi, Sistem
Informasi Geografis (SIG), dan machine learning. Kerangka konseptual penelitian
dibangun melalui dua pendekatan utama, yaitu pendekatan spektral–material untuk
mengidentifikasi karakteristik fisik bangunan dan pendekatan
spasial–operasional untuk mengevaluasi distribusi risiko serta jangkauan
layanan pemadam kebakaran. Dalam kerangka ini, penginderaan jauh berperan dalam
ekstraksi karakteristik permukaan melalui citra WorldView-3 (WV-3) tahun 2021
yang diproses hingga resolusi 0,5 m. Pendekatan spectral memungkinkan
identifikasi indikator kerentanan struktural secara objektif melalui NDIOI
(kombinasi NIR2–Blue) untuk mendeteksi atap seng korosi sebagai proksi bangunan
semi permanen, serta NDBI untuk memetakan kepadatan Kawasan terbangun pada
skala objek atap. Selanjutnya, pemodelan spasial yang komprehensif
mengintegrasikan variabel lingkungan dan operasional, meliputi kernel density
kejadian kebakaran, buffer sungai, serta analisis service area pos pemadam
berbasis jaringan jalan (0–10 menit). Pemodelan dilakukan menggunakan algoritma
Random Forest melalui empat skenario pemodelan. Seluruh scenario menghasilkan
akurasi di atas 90%, dengan model komprehensif menunjukkan performa paling
stabil. Data kejadian kebakaran tahun 2020–2022 digunakan sebagai data
latih–uji, sedangkan kejadian 2023–2025 dimanfaatkan sebagai validasi
independen (out-of-sample). Hasil pemetaan menunjukkan bahwa Kecamatan
Banjarmasin Tengah memiliki proporsi area rawan terbesar (28,8%), diikuti Banjarmasin
Barat (19,6%), sementara Banjarmasin Utara relatif lebih rendah (11,8%).
Penelitian ini berkontribusi melalui adaptasi NDIOI untuk konteks urban padat,
formulasi NDBI resolusi sangat tinggi, pengembangan framework pemodelan
multi-skenario berbasis machine learning, serta validasi multi-tahun berbasis
kejadian nyata sebagai dasar mitigasi kebakaran berbasis bukti spasial
Dense urban settlements
dominated by semi-permanent buildings exhibit a high level of fire
vulnerability. However, urban building fire risk mapping has relied mainly on
deterministic, score-based approaches and visual interpretation, which are
insufficient to represent variations in building material characteristics,
microscale density, and the spatial reach of fire service coverage. This
limitation highlights the need for a more objective, data-driven, and
operationally relevant modeling approach. This study aims to develop a spatial
model of building fire vulnerability in dense residential areas of Banjarmasin
City by integrating veryhigh-resolution remote sensing, Geographic Information
Systems (GIS), and machine learning. The conceptual framework is structured
around two complementary approaches: a spectral–material approach to identify
physical building characteristics and a spatial–operational approach to
evaluate risk distribution and fire service accessibility. Within this
framework, remote sensing plays a key role in surface feature extraction using
WorldView-3 (WV-3) imagery acquired in 2021 and processed to a final spatial
resolution of 0.5 m. The spectral approach enables objective identification of
structural vulnerability indicators through the Normalized Difference Iron
Oxide Index (NDIOI), derived from the NIR2–Blue band combination to detect
corroded metal roofs as a proxy for semipermanent buildings, and the Normalized
Difference Built-up Index (NDBI), which represents built-up density at the roof-object
scale. Comprehensive spatial modeling further integrates environmental and
operational variables, including kernel density of fire incidents, river
buffering, and network-based analysis of fire station service areas
(0–10-minute response times). Fire vulnerability modeling was implemented using
the Random Forest algorithm across four predictor scenarios. All scenarios
achieved classification accuracies exceeding 90%, with the comprehensive model
demonstrating the most stable performance. Verified fire incident data from
2020–2022 were used for training and testing, while independent incidents from
2023–2025 served as out-of-sample validation. The resulting maps indicate that
Central Banjarmasin has the highest proportion of high-risk areas (28.8%),
followed by West Banjarmasin (19.6%), while North Banjarmasin exhibits a
comparatively lower risk (11.8%). This research contributes through the
adaptation of NDIOI for dense urban environments, the formulation of
very-highresolution NDBI, the development of a multi-scenario machine
learning–based modeling framework, and multi-year empirical validation,
providing a spatially explicit evidence base for urban fire risk mitigation
Kata Kunci : Pemodelan spasial kerawanan kebakaran, WorldView-3, NDIOI, NDBI, machine learning, service area,Spatial fire vulnerability modeling, WorldView-3, NDIOI, NDBI, machine learning, service area