Laporkan Masalah

Hidup Nyaman Bersama Ancaman : Produksi Ruang Kedaruratan di Lereng Merapi

Isnan Nursalim, Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A.

2026 | Tesis | S2 Ilmu Politik

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme kekuasaan dalam membentuk dan mengendalikan pengetahuan, serta mengeksplorasi cara warga menegosiasikan ruang dan suara mereka di tengah dominasi nalar teknokratik di Lereng Merapi. Narasi 'ketangguhan' diposisikan sebagai wacana dominan yang mengatur ruang kedaruratan, di mana kontestasi wacana muncul dalam mengartikulasikan makna ketangguhan tersebut. Secara metodologis, penelitian ini menerapkan Critical Discourse Analysis (CDA) untuk menelusuri bagaimana jejak makna ketangguhan dibentuk, disebarluaskan, dan dipertahankan dalam praktik tata kelola bencana. Data dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ruang kedaruratan bukan sekadar sebagai domain teknis-manajerial, melainkan sebagai arena politik yang sarat akan kontestasi makna dan artikulasi kekuasaan. Proses dialektika narasi dalam situasi darurat ini justru membuka ruang deliberasi yang mengintegrasikan nalar teknokratis dengan artikulasi pengetahuan warga. Penelitian ini menawarkan paradigma alternatif dalam penanggulangan bencana dengan menggeser mekanisme kuasa yang terpusat menuju kolaborasi setara antara negara dan warga melalui proses co-production of knowledge. Dalam kerangka ini, ruang kedaruratan tidak lagi menjadi ranah eksklusif teknokrat, melainkan arena berbagi kebijaksanaan untuk mencapai keselamatan kolektif.

This study aims to analyze the mechanisms of power in shaping and controlling knowledge, as well as to explore how residents negotiate their space and voice amidst the dominance of technocratic reasoning on the slopes of Mount Merapi. The narrative of ‘resilience’ is positioned as the dominant discourse governing the emergency space, where discursive contestation emerges in articulating the meaning of resilience. Methodologically, this study applies Critical Discourse Analysis (CDA) to trace how the traces of resilience’s meaning are constructed, disseminated, and maintained within disaster management practices. Data were collected through semi-structured interviews, participatory observation, and documentary analysis. The findings reveal that the emergency space is not merely a technical-managerial domain but a political arena saturated with contestations of meaning and articulations of power. The dialectical process of narrative in this emergency context opens a space for deliberation that integrates technocratic reasoning with the articulation of community knowledge. This research offers an alternative paradigm in disaster management by shifting from centralized power mechanisms toward equal collaboration between the state and citizens through the process of co-production of knowledge. Within this framework, the emergency space is no longer the exclusive domain of technocrats but rather an arena for sharing wisdom to achieve collective safety.

Kata Kunci : Politik Teknokratik, Demokrasi Deliberatif, Ketangguhan, Ruang Kedaruratan

  1. S2-2026-540912-abstract.pdf  
  2. S2-2026-540912-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-540912-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-540912-title.pdf