Konflik Pemerintah Daerah dan Masyarakat Adat dalam Pengembangan Pariwisata di Wilayah Adat Pulau Lapang-Batang Kabupaten Alor
Supryadi Lilo, Drs. Subarsono, M.Si., M.A., Ph.D.
2026 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
Penelitian ini mengkaji konflik antara
Pemerintah Kabupaten Alor dan masyarakat adat dalam pengembangan pariwisata
konservasi di wilayah adat Pulau Lapang-Batang. Tujuan penelitian adalah (1)
menjelaskan faktor penyebab konflik, serta (2) merumuskan strategi penyelesaian
konflik yang paling relevan dengan konteks kelembagaan dan sosial setempat.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui
wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan telaah dokumen
kebijakan/arsip konflik; survei persepsi digunakan sebagai data pendukung untuk
memotret kecenderungan pandangan aktor.
Hasil analisis menunjukkan konflik
dipicu oleh kombinasi faktor struktural dan relasional: tumpang tindih
kewenangan serta rezim pengelolaan (konservasi-pariwisata-hak ulayat) yang
memunculkan ketidakpastian aturan; lemahnya keadilan prosedural terutama dalam
proses konsultasi dan penerapan prinsip FPIC; ketimpangan manfaat dan beban
(distributif) terkait akses ruang dan penghidupan; lemahnya pengakuan
(recognition) terhadap hak ulayat, lembaga adat, dan pengetahuan lokal; serta
masalah informasi komunikasi yang menurunkan kepercayaan. Berdasarkan integrasi
temuan, strategi penyelesaian yang paling layak adalah pendekatan bertahap:
negosiasi berbasis kepentingan untuk kesepakatan awal, mediasi untuk pemulihan
relasi, dan pelembagaan ko-manajemen sebagai tata kelola bersama yang mengatur
aturan operasional, mekanisme keluhan, transparansi keputusan, serta skema
pembagian manfaat.
This thesis examines the conflict
between the Alor District Government and an indigenous community in the
development of conservation-based tourism in the customary territory of
Lapang-Batang Island. The study aims to (1) identify the main drivers of the
conflict and (2) propose a context-appropriate conflict-resolution strategy. A
qualitative case study design is employed, drawing on semi-structured in-depth
interviews, participatory observation, and policy/conflict document analysis; a
perception survey is used as complementary evidence to capture actors’
tendencies and preferences.
Findings indicate that the conflict is
produced by intertwined structural and relational factors: overlapping
authorities and layered governance regimes (conservation, tourism, and
customary tenure) that create regulatory uncertainty; procedural injustice,
particularly weak consultation practices and limited operationalization of FPIC;
distributive injustice related to uneven tourism benefits and livelihood/access
burdens; recognition injustice in the limited acknowledgement of customary
rights, indigenous institutions, and local knowledge; and information
communication gaps that erode trust and accelerate escalation. Based on
integrated evidence, the thesis recommends a phased resolution pathway:
interest-based negotiation to secure verifiable interim agreements, community
mediation to restore relationships and rebuild trust, and institutionalized
co-management as a binding governance arrangement supported by transparent
decision-making, functional grievance mechanisms, and fair benefit-sharing.
Kata Kunci : Konflik kebijakan, Masyarakat Adat, Pariwisata Konservasi, FPIC, Keadilan Lingkungan, Ko-Manajemen.