Hubungan Status Mutasi IDH1 pada Glioma dengan Kejadian Hiperkoagulasi
Naila Rachma Dewi, dr. Ery Kus Dwianingsih, Ph.D, Sp.PA(K); dr. Rusdy Ghazali Malueka, Ph. D., Sp. N., Subsp. N. Onk (K)
2026 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang : Glioma adalah tumor otak primer yang agresif dan kompleks, mencakup 70-80?ri tumor otak primer pada dewasa, dengan dampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Mutasi IDH1 merupakan faktor prognostik penting yang terkait dengan kelangsungan hidup lebih baik. Glioma juga berisiko menyebabkan hiperkoagulabilitas, ditandai oleh peningkatan d-dimer, yang berhubungan dengan prognosis buruk. IDH1 diduga dapat memengaruhi kejadian hiperkoagulasi pada pasien glioma. Namun, hingga saat ini, belum ada penelitian yang mengevaluasi hubungan ini, terutama di Indonesia. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status mutasi IDH1 pada glioma dengan kejadian hiperkoagulasi pada pasien glioma di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan studi cross-sectional menggunakan data sekunder dari pasien glioma yang didiagnosis di RSUP Dr. Sardjito dan jejaring lainnya. Analisis statistik dilakukan untuk mengevaluasi hubungan antara status mutasi IDH1 dan kadar d-dimer pada pasien glioma. Hasil: Sebagian besar subjek memiliki status IDH1 wild-type (75,4%), sedangkan 24,6% merupakan IDH1-mutant. Peningkatan kadar d-dimer (?500 ng/mL) ditemukan pada 56,1% pasien. Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat perbedaan proporsi bermakna antara status mutasi IDH1 dan kadar d-dimer (p = 0,266). Estimasi OR sebesar 0,500 (95% CI: 0,146–1,714) menunjukkan kecenderungan risiko hiperkoagulabilitas yang lebih rendah pada kelompok IDH1-mutant, tetapi tidak signifikan secara statistik. Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan bermakna antara status mutasi IDH1 dan kejadian hiperkoagulabilitas berdasarkan kadar d-dimer pada pasien glioma. Hasil ini mendukung bahwa hiperkoagulabilitas pada glioma bersifat multifaktorial, sehingga pemantauan risiko koagulasi tetap diperlukan pada seluruh pasien glioma tanpa mempertimbangkan status mutasi IDH1.
Background: Glioma is an aggressive and complex primary brain tumor, accounting for 70–80% of primary brain tumors in adults, with significant impact on patient quality of life. IDH1 mutation is an important prognostic factor associated with better survival. Glioma also carries a risk of hypercoagulability, indicated by elevated d-dimer levels, which are linked to poor prognosis. IDH1 may influence the occurrence of hypercoagulation in glioma patients. However, this relationship has not been evaluated, especially in Indonesia. Objective: To determine the relationship between IDH1 mutation status in glioma and the occurrence of hypercoagulation in glioma patients in Indonesia. Methods: This study is a cross-sectional study using secondary data from glioma patients diagnosed at RSUP Dr. Sardjito. Statistical analysis was performed to evaluate the relationship between IDH1 mutation status and d-dimer levels in glioma patients. Results: Most subjects were IDH1 wild-type (75.4%), while 24.6% were IDH1-mutant. Elevated d-dimer levels (?500 ng/mL) were found in 56.1% of patients. Bivariate analysis showed no significant difference in d-dimer levels between IDH1 statuses (p = 0.266). The estimated OR was 0.500 (95% CI: 0.146–1.714), suggesting a non-significant trend toward lower hypercoagulability risk in IDH1-mutant patients. Conclusion: No significant association was found between IDH1 mutation status and hypercoagulability based on d-dimer levels in glioma patients. These findings support that hypercoagulability in glioma is multifactorial, and coagulation risk monitoring remains necessary for all glioma patients regardless of IDH1 status.
Kata Kunci : D-dimer, glioma, hiperkoagulasi, mutasi isocitrate dehydrogenase 1