Laporkan Masalah

Pengembangan Ethnotourism di Kesatuan Adat Banten Kidul Kabupaten Sukabumi

Raniri Munawar, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil; Prof. Dr. Ir. Chafid Fandeli, M.S.; Dr. Ir. Djoko Wijono, M.Arch.

2026 | Disertasi | S3 Kajian Pariwisata

Kesatuan Adat Banten Kidul (KABK) Kabupaten Sukabumi merupakan komunitas adat yang memegang teguh ajaran leluhur yang diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun. Nilai-nilai adat yang dijalankan secara konsisten kini berkembang menjadi daya tarik pariwisata, terutama sejak wilayah tersebut diintegrasikan dalam kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang diakui oleh Unesco Global Geopark (UGG). Warga adat mendukung pengembangan pariwisata sebagai bagian dari geopark, namun tetap menolak praktik-praktik yang berpotensi merusak nilai-nilai adat. Oleh karena itu, pembangunan pariwisata di KABK perlu dilandasi pemahaman terhadap nilai-nilai lokal agar keseimbangan antara pelestarian adat dan pengembangan pariwisata dapat terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengembangan ethnotourism di KABK, dengan fokus pada bagaimana nilai budaya lokal dijaga sekaligus diselaraskan dengan perkembangan sektor pariwisata.

Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi yang dilaksanakan di tiga kasepuhan yang tergabung dalam KABK Kabupaten Sukabumi, yakni Kasepuhan Gelar Alam, Kasepuhan Sinar Resmi, dan Kasepuhan Ciptamulya. Metode pengumpulan data meliputi studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara mendalam, diskusi terarah, dan dokumentasi. Informan utama terdiri atas para Abah (ketua adat) di ketiga kasepuhan, dengan narasumber tambahan dari kalangan Rorokan Adat (pembantu utama Abah), warga adat, pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, dan wisatawan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya ethnotourism di KABK berakar pada konsep `tatali paranti karuhun` (ajaran warisan leluhur), yang mencakup berbagai elemen budaya seperti bangunan adat, pakaian tradisional, kesenian lokal, kuliner khas, dan upacara adat. Pengembangan ethnotourism yang dilakukan di KABK berlangsung melalui lima aspek, yakni pembangunan fisik kasepuhan, pengembangan pemasaran, penguatan sumber daya manusia pariwisata, pengelolaan pariwisata, dan pelestarian budaya lokal. Proses pengembangan tersebut bersifat kolaboratif, melibatkan multipihak (pemerintah, warga adat, swasta dan wisatawan), namun tetap menempatkan warga adat sebagai aktor utama yang mengendalikan arah pembangunan. Keberhasilan warga KABK dalam menerima dan mengelola pariwisata yang masif terletak pada kemampuan mereka menjaga harmoni antara adat dan pariwisata, yang diformulasikan dalam filosofi lokal `pancer pangawinan`. Filosofi tersebut menjadi kerangka utama dalam pengembangan ethnotourism di KABK, yang menyeimbangkan pelestarian adat dengan pembangunan sektor pariwisata. Kajian ini memberikan pemahaman tentang model pengembangan ethnotourism yang selaras dengan adat kebudayaan di Kesatuan Adat Banten Kidul.

The Kesatuan Adat Banten Kidul (KABK) of Sukabumi Regency is an indigenous community that firmly upholds ancestral teachings transmitted across generations for hundreds of years. The customary values that are consistently practiced have now developed into tourism attractions, particularly since the region was integrated into the Ciletuh–Palabuhanratu Geopark area recognized by the UNESCO Global Geopark (UGG). Indigenous community support tourism development as part of the geopark initiative, yet they continue to reject practices that may potentially damage customary values. Therefore, tourism development in KABK must be grounded in an understanding of local values so that the balance between the preservation of customary traditions and tourism development can be maintained. This study aims to examine the development of ethnotourism in KABK, focusing on how local cultural values are preserved while simultaneously aligned with the growth of the tourism sector.

This research employs an ethnographic approach conducted in three kasepuhan communities within KABK, Sukabumi Regency, namely Kasepuhan Gelar Alam, Kasepuhan Sinar Resmi, and Kasepuhan Ciptamulya. Data collection methods include literature study, participant observation, in-depth interviews, focused discussions, and documentation. The primary informants consist of the Abah (customary leaders) of the three kasepuhan communities, with additional sources drawn from members of the Rorokan Adat (the main assistants to the Abah), indigenous residents, local government representatives, tourism industry actors, and tourists.

The findings show that ethnotourism resources in KABK are rooted in the concept of tatali paranti karuhun (ancestral teachings), which encompasses various cultural elements such as traditional architecture, customary clothing, local arts, traditional cuisine, and customary ceremonies. The development of ethnotourism in KABK takes place through five aspects, namely the physical development of the kasepuhan, marketing development, strengthening tourism human resources, tourism management, and the preservation of local culture. This development process is collaborative, involving multiple stakeholders (government, indigenous residents, the private sector, and tourists), while still positioning indigenous residents as the primary actors who control the direction of development. The success of KABK residents in accepting and managing the rapid growth of tourism lies in their ability to maintain harmony between customary traditions and tourism, which is formulated in the local philosophy of pancer pangawinan. This philosophy becomes the main framework in the development of ethnotourism in KABK, balancing the preservation of customary traditions with the development of the tourism sector. This study provides an understanding of an ethnotourism development model that is aligned with the cultural traditions of the Kesatuan Adat Banten Kidul.

Kata Kunci : Ethnotourism, Warga Adat, Kesatuan Adat Banten Kidul, Pengembangan Pariwisata.

  1. S3-2026-485771-abstract.pdf  
  2. S3-2026-485771-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-485771-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-485771-title.pdf