Peranan Modal Sosial dalam Sistem Kelembagaan Peternak Babi berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Sumba Barat Daya (Studi Kasus Wawi Patau Nga'a)-
Ervin rambu pedi mosa, Prof. Ir. F. Trisakti Haryadi., M.Si., Ph.D., IPM; Prof. (ret.) Dr. Ir. Krishna Agung Santosa, M.Sc.
2026 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Penelitian ini bertujuan menganalisis peranan modal sosial dalam sistem kelembagaan wawi patau nga’a di Kabupaten Sumba Barat Daya. Latar belakang penelitian ini menyoroti pentingnya ternak babi Sumba karena memiliki nilai budaya, ekonomi dan sosial. Fokus utama studi ini adalah mendeskripsikan elemen modal sosial (kepercayaan, jaringan, dan norma), bentuk kelembagaan yang dijalankan, serta bagaimana modal sosial tersebut memperkuat pilar-pilar kelembagaan peternak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, berlokasi di Kabupaten Sumba Barat Daya. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap informan kunci yaitu pemilik babi betina dan pemelihara. Analisis data dilakukan dengan mensintesiskan Teori modal sosial Robert Putnam dan Teori kelembagaan W. Richard Scott. Hasil penelitian menunjukkan modal sosial merupakan perekat institusional yang menjaga keberlanjutan sistem kelembagaan informal ini. Jaringan sosial yang kuat (bonding social capital) berbasis klan (kabihu) dan kedekatan geografis memfasilitasi pengawasan dan distribusi ternak. Kepercayaan interpersonal menggantikan kebutuhan akan kontrak formal, sementara norma resiprositas dalam "Ekonomi Uma" memastikan pembagian hasil yang adil dan perlindungan aset dari penyitaan utang pribadi.Kesimpulannya, wawi patau nga’a tetap relevan dan efektif sebagai mekanisme penanggulangan kemiskinan dan penjaga kohesi sosial di era modern.
This study aims to analyze the role of social capital in the institutional system based on local wisdom of wawi patau nga'a in Southwest Sumba Regency. The background of this study highlights the importance of Sumbanese pig farming because of its cultural, economic, and social values. Focus of this study is to describe the elements of social capital (trust, networks, and norms), the institutional forms implemented, and how social capital strengthens the institutional pillars of livestock farmers. The research method used is descriptive qualitative with a case study approach, located in Southwest Sumba Regency. Primary data were obtained through in-depth interviews and observations of key informants, namely sow owners and breeders. Data analysis was conducted by synthesizing Robert Putnam's Social Capital Theory and W. Richard Scott's Institutional Theory. The research found indicate that social capital is the institutional glue that maintains the sustainability of this informal institutional system. Strong clan-based social networks (bonding social capital) and geographic proximity facilitate livestock control and distribution. Interpersonal trust replaces the need for formal contracts, while the norm of reciprocity within the "Uma Economy" ensures equitable distribution of profits and protects assets from personal debt confiscation. In conclusion, wawi patau nga'a remains relevant and effective as a poverty alleviation mechanism and a safeguard of social cohesion in the modern era.
Kata Kunci : Modal Sosial, Kelembagaan, Wawi Patau Nga’a, Sumba Barat Daya, Social Capital, Institutions, Wawi Patau Nga'a, Southwest Sumba.