ANALISIS TINGKAT PERKEMBANGAN DESA DI PROVINSI JAWA TIMUR: PERBANDINGAN INDEKS DESA MEMBANGUN DAN DATA POTENSI DESA
Maulidia Savira Chairani, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc.; Dr. Andri Kurniawan, S.Si., M.Si.
2026 | Tesis | S2 Geografi
Pembangunan
desa merupakan instrumen strategis dalam implementasi pembangunan yang
berdampak terhadap dinamika pembangunan wilayah pada skala yang lebih tinggi. Pengukuran
tingkat perkembangan desa menjadi dasar penting dalam perumusan kebijakan
pembangunan yang sangat dipengaruhi oleh kesesuaian sumber data, metode
pengolahan, dan tujuan analisis. Di Indonesia, salah satu instrumen yang
digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan desa adalah Indeks Desa Membangun
(IDM) yang disusun oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi. Penelitian ini memilih Provinsi Jawa Timur sebagai wilayah kajian
karena memiliki karakteristik wilayah yang beragam serta peran strategis dalam
pembangunan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kondisi
tingkat perkembangan desa, menguji konsistensi pengukurannya, serta
menganalisis pola spasial tingkat perkembangan desa di Provinsi Jawa Timur.
Metode yang digunakan yakni Exploratory Factor Analysis (EFA) terhadap
data Podes, analisis korelasi, tabulasi silang dan uji chi-square, serta
analisis spasial menggunakan Moran’s I dan Local Indicators of Spatial
Association (LISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat perkembangan
desa di Provinsi Jawa Timur membentuk pola spasial yang tidak merata dan
dipengaruhi secara kuat oleh keterhubungan desa dengan pusat pertumbuhan
perkotaan. Desa yang lebih terintegrasi dalam jaringan ekonomi dan wilayah
cenderung memiliki tingkat perkembangan yang lebih tinggi, baik berdasarkan IDM
maupun hasil EFA. Analisis konsistensi menunjukkan adanya hubungan positif yang
signifikan antara IDM dan hasil EFA, namun dengan kekuatan hubungan yang
relatif lemah dan disertai ketidaksesuaian klasifikasi, terutama pada desa
dengan tingkat perkembangan rendah dan menengah. Perbedaan pola spasial
tersebut menegaskan bahwa penggunaan satu indeks tunggal berpotensi
menyederhanakan kompleksitas keruangan pembangunan desa, sehingga diperlukan
pendekatan multi-sumber dan multi-metode untuk mendukung perumusan kebijakan
pembangunan desa yang lebih kontekstual dan berbasis wilayah.
Rural development is a strategic instrument in the implementation of development that impacts the dynamics of regional development at a higher scale. Measuring the level of village development is an important basis for formulating development policies, which are highly influenced by the suitability of data sources, processing methods, and analysis objectives. In Indonesia, one of the instruments used to measure the level of village development is the Village Development Index (IDM), compiled by the Ministry of Villages, Disadvantaged Regions, and Transmigration. This research selected East Java Province as the study area because it has diverse regional characteristics and a strategic role in national development. This research aims to explain the conditions of village development levels, test its consistency of measurement, and analyze the spatial patterns of village development levels in East Java Province. The methods used were Exploratory Factor Analysis (EFA) on Podes data, correlation analysis, cross-tabulation and chi-square test, as well as spatial analysis using Moran's I and Local Indicators of Spatial Association (LISA). The research results show that the level of village development in East Java Province forms an uneven spatial pattern and is strongly influenced by the village's connectivity to urban growth centers. Villages that are more integrated into the economic and regional network tend to have higher levels of development, both based on the IDM and EFA results. Consistency analysis shows a significant positive relationship between IDM and EFA results, but with relatively weak strength and accompanied by classification inconsistencies, especially in villages with low and medium levels of development. These spatial pattern differences confirm that using a single index has the potential to oversimplify the spatial complexity of village development, necessitating a multi-source and multi-method approach to support the formulation of more contextual and region-based village development policies.
Kata Kunci : tingkat perkembangan desa, analisis faktor, pola spasial, data potensi desa, Jawa Timur