Leksikon Tanaman Singkong dalam Bahasa Jawa: Kajian Etnolinguistik pada Masyarakat Petani Singkong di Kabupaten Karanganyar
Ayunda Talia Eka Putri, Prof. Dr. Suhandano, M.A.
2026 | Skripsi | S1 SASTRA INDONESIA
Penelitian ini mengkaji leksikon tanaman singkong dalam bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat tani di Kabupaten Karanganyar melalui pendekatan etnolinguistik. Singkong dipandang sebagai komoditas agraris yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga memuat makna sosial, kultural, serta pengetahuan lokal yang diwariskan melalui bahasa. Leksikon yang muncul dalam praktik budidaya dan pengolahan singkong mencerminkan cara pandang masyarakat dalam mengklasifikasikan varietas, bagian tanaman, budidaya, hingga proses dan hasil olahan singkong dalam kehidupan agraris sehari-hari.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan ranah serta bentuk kebahasaan leksikon singkong yang meliputi struktur morfologis dan fonologis, dan (2) menjelaskan makna leksikal serta sistem pengetahuan masyarakat yang tercermin dalam penggunaan leksikon tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa satuan linguistik bahasa Jawa yang berkaitan dengan keseluruhan aktivitas pertanian dan pengolahan singkong. Data diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan petani di Kecamatan Jatiyoso dan Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, kemudian dianalisis menggunakan metode padan referensial dan padan translasional untuk menghubungkan bentuk bahasa dengan referen budaya serta makna konseptualnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) leksikon singkong di Kabupaten Karanganyar terbentuk dalam satuan monomorfemis, polimorfemis, dan frasa yang lahir dari pengalaman empiris serta praktik pertanian masyarakat. Dari segi semantik, (2) leksikon tersebut tidak hanya bersifat denotatif, tetapi juga mengandung makna metaforis, evaluatif, dan kultural yang merepresentasikan nilai, pengetahuan, serta strategi adaptasi masyarakat terhadap lingkungan agraris. Temuan ini menegaskan bahwa leksikon singkong berfungsi sebagai arsip budaya sekaligus medium transmisi pengetahuan lokal. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian etnolinguistik serta upaya pendokumentasian dan pelestarian pengetahuan agraris berbasis bahasa Jawa dalam konteks masyarakat Kabupaten Karanganyar.
This study examines the Javanese lexicon of cassava used by farming communities in Karanganyar Regency through an ethnolinguistic approach. Cassava is viewed as an agricultural commodity with not only high economic value but also social and cultural meanings, as well as local knowledge passed down through language. The lexicon emerging in cassava cultivation and processing practices reflects the community's perspectives on classifying varieties, plant parts, cultivation, and the processes and products of cassava processing in everyday agrarian life.
This study aims to (1) describe the domain and linguistic form of the cassava lexicon, encompassing its morphological and phonological structures, and (2) explain the lexical meaning and community knowledge system reflected in the use of this lexicon. The method used is descriptive qualitative, with data sources consisting of Javanese linguistic units related to all agricultural activities and cassava processing. Data were obtained through field observations and in-depth interviews with farmers in Jatiyoso and Tawangmangu Districts, Karanganyar Regency. They were then analyzed using referential and translational equivalence methods to connect linguistic forms with cultural referents and their conceptual meanings.
The results show that (1) the cassava lexicon in Karanganyar Regency consists of monomorphemic, polymorphemic, and phrasal units derived from empirical experiences and community agricultural practices. From a semantic perspective, (2) the lexicon is not only denotative but also contains metaphorical, evaluative, and cultural meanings that represent the community's values, knowledge, and adaptation strategies to the agrarian environment. These findings confirm that the cassava lexicon functions as a cultural archive and a medium for transmitting local knowledge. Thus, this research contributes to the development of ethnolinguistic studies and efforts to document and preserve Javanese-based agrarian knowledge in the context of the Karanganyar Regency community.
Kata Kunci : Etnolinguistik, Leksikon singkong, Pandangan umum, Kabupaten Karanganyar