Evaluasi Penerapan Konsep Ekowisata Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan
Afifah Nuri Larasati, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur
Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan telah mendapatkan penghargaan Anugerah Desa Wisata 2021 dengan tiga objek unggulan yakni alam, budaya, dan agro. Namun, pedoman pembangunan dan pengembangan kawasan Perkampungan Budaya Betawi pada Peraturan Daerah Jakarta Nomor 3 tahun 2005 dan Peraturan Gubernur nomor 151 tahun 2007 dalam pelaksanaannya, memiliki masalah penyimpangan dari pedoman yang telah ditetapkan. Ada indikasi belum optimalnya penerapan pedoman pembangunan dari kondisi destinasi sekarang, diantaranya pembangunan cluster modern tanpa memiliki ciri dan pola permukiman Betawi, penumpukan sampah dan penataan parkir serta sirkulasi yang kurang dikelola sehingga menimbulkan kesenjangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi juga mengevaluasi sejauh mana pembangunan dan penerapan ekowisata di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Metode penelitian evaluatif ini menekankan pada paradigma rasionalistik berbasis teori untuk menganalisis data temuan kualitatif dari lapangan, yang dikaji menggunakan indikator pariwisata berkelanjutan (Sustainable Development Goals dan Global Sustainable Tourism Council) serta prinsip ekowisata The International Ecotourism Society sebagai acuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh komponen ekowisata telah tersedia di kawasan namun tingkat penerapan ekowisata di Kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan berada pada tingkat rendah. Enam dari 10 komponen ekowisata yang diukur, yakni pengelolaan limbah dan emisi, dampak ekonomi lokal, keterlibatan masyarakat, feedback pengunjung, peluang karir masyarakat, serta pengelolaan destinasi menjadi prioritas perbaikan. Komponen perlindungan lingkungan dan perencanaan pengendalian pembangunan menjadi dua komponen yang berada pada tingkat rendah-menengah, sementara dua komponen lain yakni kontribusi ekonomi lokal dan perlindungan budaya relatif cukup baik.
Destinasi Perkampungan Budaya Betawi masih menghadapi tantangan dalam mencapai penerapan ekowisata yang optimal. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi indikator global dalam satu kerangka evaluatif yang belum dilakukan pada studi sebelumnya dalam konteks kawasan perkotaan. Temuan ini berkontribusi pada perumusan rekomendasi strategis berbasis regulasi serta memberikan dasar untuk pengembangan model destinasi ekowisata permukiman perkotaan yang berkelanjutan.
The Betawi Cultural Village of Setu Babakan was awarded the 2021 Tourism Village Award, recognizing its three leading attractions: nature, culture, and agro-tourism. However, the development and management guidelines stipulated in Regional Regulation (Peraturan Daerah Jakarta Nomor 3 tahun 2005) and Governor Regulation (Peraturan Gubernur nomor 151 tahun 2007) have encountered implementation deviations. There are indications that the prescribed development guidelines have not been optimally applied, as reflected in the current condition of the destination, including the proliferation of modern residential clusters lacking traditional Betawi settlement characteristics, waste accumulation, and poorly managed parking and circulation systems, which collectively create a gap between policy and practice. This study aims to identify and evaluate the extent to which ecotourism development and implementation have been carried out in the Betawi Cultural Village of Setu Babakan. Employing an evaluative qualitative approach, the research utilizes theory based rationalistic paradigm to examine field findings, assessed through sustainable tourism indicators derived from the Sustainable Development Goals (SDG’s) and the Global Sustainable Tourism Council (GSTC), as well as the ecotourism principles of The International Ecotourism Society (TIES). The results indicate that although all ecotourism components are present within the area, the overall level of ecotourism implementation remains low. Six out of ten assessed components namely waste and emission management, local economic impact, community involvement, visitor feedback mechanisms, community career opportunities, and destination management require priority improvement. Environmental protection and development control planning fall within the low to moderate category, while local economic contribution and cultural preservation perform relatively better.
The Betawi Cultural Village destination continues to face challenges in achieving optimal ecotourism implementation. The novelty of this research lies in the integration of global sustainability indicators into a unified evaluative framework, which has not been previously applied in the context of urban settlement-based destinations. These findings contribute to the formulation of regulation based strategic recommendations and provide a foundation for developing a sustainable urban ecotourism destination model.
Kata Kunci : Sustainable Tourism, Ecotourism, Betawi Cultural Village Setu Babakan