Seksualitas dan Maskulinitas Subordinat dalam Film Test Pack (2012) dan Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021)
GENNY GUSTINA SARI, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA; Ratna Noviani, SIP, M.Si., Ph.D
2025 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan Media
Disertasi ini mengkaji representasi dan negosiasi maskulinitas yang tersubordinat dalam wacana seksualitas melalui konstruksi dalam dua film Indonesia era Reformasi, yakni film Test Pack (2012) film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Fokus penelitian ini adalah pada tokoh laki-laki heteroseksual yang mengalami disfungsi seksual seperti infertilitas dan impotensi, yang dalam struktur maskulinitas hegemonik diposisikan sebagai subjek subordinat. Berangkat dari kritik terhadap kecenderungan studi sebelumnya yang lebih banyak menyoroti maskulinitas subordinat homoseksual yang oleh Connell (2025) dikategorikan sebagai 'a lack of masculinity' penelitian penelitian ini justru menyoroti kompleksitas subordinasi dalam kerangka heteronormatif, dengan fokus pada laki-laki yang tetap berada dalam norma heteroseksual namun tersubordinasi karena mengalami disfungsi seksual.
Penelitian ini bertujuan untuk membongkar bagaimana representasi dan negosiasi maskulinitas subordinat dikonstruksikan dalam kedua film tersebut, serta bagaimana konteks sosial politik turut membentuk batas dan arah representasinya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis wacana multimodal, penelitian ini mengamati aspek visul, verbal, simbolik, serta praktik tubuh sebagai komponen wacana yang membentuk makna tentang kejantanan (virility) dan maskulinitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh laki-laki dalam kedua film diposisikan sebagai medan pertarungan kuasa, menjadi objek normalisasi, kontrol, dan ekspektasi masyarakat terhadap kejantanan. Penis sebagai simbol dominasi dan fungsi seksual menjadi titik balik dari opresi simbolik terhadap tokoh utama. Meskipun film-film tersebut tampak memberikan ruang resistensi terhadap norma maskulinitas hegemonik, resistensi tersebut tampil dalam bentuk individual, simbolik, dan tidak sepenuhnya menggugat struktur patriarkal yang melingkupinya.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa maskulinitas hegemonik tidak secara otomatis dimiliki oleh laki-laki heteroseksual, melainkan harus terus menerus dibuktikan melalui pemenuhan kriteria kejantanan yang bersifat performatif, historis, dan kontekstual. Dalam konteks seksualitas di Indonesia, subordinasi maskulinitas tidak hanya dialami oleh subjek yang berada di luar norma heteroseksual, tetapi juga oleh laki-laki heteroseksual yang mengalami kegagalan performatif tubuh dalam membuktikan kejantanan melalui kinerja penis. Dengan demikian, penelitian ini memperluas konsep maskulinitas subordinat dalam kerangka Rawyen Connell dengan menunjukkan bahwa patriarki bekerja tidak hanya melalui pemberian privilese, tetapi juga melalui beban, tuntutan, dan mekanisme disipliner yang dilembagakan secara kultural dan sosial politik.
This dissertation examines the representation and negotiation of subordinate masculinities within discourses of sexuality as constructed in two Indonesian film produced during the Reform era: Test Pack (2012) and Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (2021). The study focuses on heterosexual male characters who experience sexual dysfunction, such as infertility and impotence, and are consequently positioned as subordinate subjects within the structure of hegemonic masculinity. Responding to the tendency of previous studies to focus predominantly on homosexual subordinate masculinities which Connell (2005) categorizes as "a lack of masculinity" this research highlights the complexity of subordination within a heteronormative framework, focusing on men within heterosexual norms yet are marginalized due to their sexual incapacity.
This study aims to uncover how the representation and negotiation of subordinate masculinity are constructed in the two films, as well as how the socio-political context shapes the boundaries and direction of such representations. Using a qualitative approach and multimodal discourse analysis method, this research examines visual, verbal, symbolic, and bodily practices as discursive components that produce meanings of virility and masculinity.
The findings reveal that the male body in both films is positioned as a field of power an object of normalization, control, and societal expectations of virility. The penis, as a symbol of dominance and sexual function, becomes the turning point of symbolic oppression experienced by the main characters. Although the films appear to provide space for resistance against hegemonic masculinity norms, such resistance manifests in individual and symbolic forms, without fully challenging the patriarchal structures that encompass them.
This study concludes that hegemonic masculinity is not automatically conferred upon heterosexual men, but must be continuously proven through the fulfillment of performative, historical, and contextualized criteria of manhood. Within the Indonesian sexual context, masculine subordination is experienced not only by subjects positioned outside heteronormative, but also by normatively heterosexual men who undergo performative bodily failure in proving manhood through penile performance. Accordingly, this research extends Connell's concept of subordinate masculinity by demonstrating that patriarchy operates not only through the allocation of privilege, but also through layered burdens, demands, and disciplinary mechanism institutionalized through cultural and socio-political regimes.
Kata Kunci : Maskulinitas subordinat, Seksualitas laki-laki, Disfungsi seksual, Analisis wacana multimodal, Virility, Film Indonesia