Penyusunan Indeks Desa Layak Huni (Berbasis Data Podes 2024) dan Keterkaitannya dengan Variabel Kependudukan dan Pembangunan di Indonesia
Reni Dwi Ayu, Prof. Dr. R. Rijanta., M.Sc. ; Dr. Sri Rahayu Budiani, S.Si., M.Si.
2026 | Tesis | S2 Kependudukan
Kajian kelayakhunian (livability) lebih banyak berfokus pada perkotaan, sementara upaya pengukuran kelayakhunian untuk wilayah perdesaan Indonesia masih relatif terbatas. Tesis ini menyusun Indeks Desa Layak Huni (IDLH) tahun 2024 sebagai ukuran komposit untuk menggambarkan tingkat kelayakhunian desa dalam menyediakan kondisi tinggal yang memenuhi kebutuhan dasar dan mendukung kualitas hidup penduduk. Penelitian ini memiliki dua tujuan: (1) membentuk Indeks Desa Layak Huni berbasis data Potensi Desa (PODES) 2024 dan (2) mengeksplorasi keterkaitan Indeks Desa Layak Huni dengan variabel kependudukan serta pembangunan pada tingkat kabupaten. Unit analisis utama adalah desa di seluruh Indonesia, dengan penyusunan indikator awal yang diturunkan dari PODES dalam skala ordinal 0–5 pada berbagai aspek. Pembentukan indeks dilakukan melalui Principal Component Analysis (PCA) untuk mereduksi indikator dan menurunkan bobot dari loading komponen sehingga diperoleh skor IDLH terstandar. Sementara keterkaitan hubungan IDLH dengan variabel kependudukan dan pembangunan dilakukan menggunakan uji sederhana korelasi spearman pada level kabupaten. Hasil penelitian menghasilkan 20 indikator penyusun IDLH yang terangkum dalam enam dimensi utama yaitu transportasi dan pendidikan, layanan kesehatan dasar, sarana ekonomi, sumber air dan sanitasi, sosial kultural dan keagamaan, serta keamanan dan lingkungan. Skor IDLH menunjukkan disparitas kelayakhunian yang nyata antardimensi maupun antardaerah. Percobaan model yang memisahkan wilayah ke dalam kelompok IDLH tinggi dan IDLH rendah menghasilkan struktur faktor penyusun yang berbeda. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor pembentuk kelayakhunian berpotensi bervariasi mengikuti karakteristik wilayah. Pola hubungan yang paling konsisten memperlihatkan bahwa IDLH cenderung lebih tinggi pada kabupaten dengan IPM, kepadatan penduduk, dan proporsi lansia yang lebih tinggi, serta cenderung lebih rendah pada kabupaten dengan kemiskinan, AKB, dan TFR yang lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa IDLH konsisten dengan indikator pembangunan yang umum digunakan, namun lebih kontekstual dalam menangkap kelayakhunian (livability) perdesaan. Dengan demikian, IDLH dapat dimanfaatkan sebagai alat ukur deskriptif untuk menggambarkan variasi kelayakhunian desa dan sebagai dasar eksplorasi awal pengembangan kerangka rural livability di Indonesia.
Livability
research has largely concentrated on urban, while systematic measurement of
rural livability in Indonesia remains limited. This thesis develops a Rural
Livability Index (Indeks Desa Layak Huni/IDLH) for 2024 as a composite measure
to capture how well villages provide a livable environment, supporting basic
needs and enabling improvements in residents’ quality of life. The study
pursues two objectives: (1) to construct the Rural Livability using Indonesia’s
2024 Village Potential Statistics, and (2) to explore associations between the
Rural Livability and selected demographic and development indicators at the
district level.The unit of analysis is villages across Indonesia. Candidate
indicators are derived from Village Potential Statistics data and coded on an
ordinal scale (0–5) to represent multiple aspects of rural livability. The
index is constructed using Principal Component Analysis (PCA) to reduce the
indicator set and derive weights from component loadings, producing
standardized village-level Rural Livability scores. Village scores are then
aggregated to the district level. The relationships between the Rural
Livability and demographic/development variables are examined using Spearman’s
rank correlation and scatterplot-based exploratory assessment. The analysis
yields 20 indicators grouped into six dimensions: (1) transportation and
education access, (2) basic health services, (3) economic facilities, (4) water
sources and sanitation, (5) socio-cultural and religious amenities, and (6)
security and environmental resilience. Rural Livability scores reveal
substantial disparities in livability both across dimensions and across
regions. Furthermore, estimating PCA models separately for high Rural
Livability and low groups produces different factor structures, suggesting that
the drivers of rural livability vary by regional context. The most consistent
relationship pattern shows that IDLH tends to be higher in regencies with
higher HDI, population density, and a larger proportion of older adults, and
lower in regencies with higher poverty, infant mortality rate (IMR), and total
fertility rate (TFR). Overall, the Rural Livability aligns with widely used
development measures while offering a more context-sensitive framework for
assessing rural livability in Indonesia, serving as a descriptive metric for
documenting spatial variation and a basis for further refinement of a rural
livability framework.
Kata Kunci : indeks desa layak huni, PODES 2024, analisis komponen utama, kelayakhunian perdesaan, pembangunan dan kependudukan.