Eksplorasi Modus Operandi Korupsi Tanah Kas Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta
Surya Darma, Prof. Irwan Taufiq Ritonga, S.E., M.Bus., Ph.D., CA.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Akuntansi/Akuntansi Terapan
Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
modus operandi korupsi Tanah Kas Desa (TKD) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),
Indonesia. Selain itu, penelitian ini berupaya memperdalam pemahaman mengenai
interaksi elemen-elemen fraud dalam praktik korupsi sebagai landasan konseptual
bagi perumusan strategi antifraud dan pemberantasan korupsi di sektor
pertanahan.
Desain/Metodologi/Pendekatan – Penelitian ini
menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal. Analisis
data dilakukan melalui pendekatan analisis tematik. Data penelitian terdiri
atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam
semi-terstruktur dengan sembilan aktor kunci, meliputi terpidana korupsi, pengelola,
dan pengawas Tanah Kas Desa. Data sekunder bersumber dari dokumen relevan yang
berkaitan dengan kasus dan kebijakan pertanahan. Kualitas data dan temuan
dijamin melalui penerapan prinsip validitas, reliabilitas, dan saturasi data.
Temuan – Penelitian ini menghasilkan dua temuan utama.
Pertama, modus operandi korupsi Tanah Kas Desa di DIY yang terbentuk melalui
dua dimensi yang saling terkait, yaitu dimensi intensi dan dimensi aktualisasi.
Dimensi intensi membentuk dorongan dan justifikasi tindakan, sedangkan dimensi
aktualisasi merepresentasikan praktik korupsi yang dilakukan. Kedua, hasil diskusi
menunjukkan bahwa elemen-elemen dalam Fraud Hexagon bekerja melalui mekanisme
yang saling berinteraksi. Mekanisme psikologis yang tercermin dalam stimulus,
rasionalisasi, dan ego berperan dalam penguatan intensi, sementara mekanisme
struktural mengoperasikan tindakan korupsi melalui kapabilitas, peluang, dan
kolusi. Temuan ini mendorong pengajuan rethinking terhadap Teori Fraud
Hexagon sebagai kerangka analisis yang bersifat prosesual.
Keterbatasan – Keterbatasan penelitian ini terletak pada tidak
dilibatkannya dokumen putusan pengadilan sebagai bagian dari triangulasi
teknik. Namun, keterbatasan tersebut diantisipasi melalui penerapan triangulasi
sumber yang kuat, sehingga mampu menghadirkan keragaman perspektif dan
memperkuat validitas data empiris.
Implikasi Praktis – Artikel ini berkontribusi
pada pengembangan strategi pemberantasan korupsi di sektor pertanahan dengan
memperkenalkan dimensi modus operandi dan rerangka prosesual Fraud Hexagon
sebagai dasar analisis dalam perancangan kebijakan pencegahan dan intervensi
yang lebih tepat sasaran.
Orisinalitas/Nilai – Berbeda dari studi yang
bertumpu pada dokumen hukum dan putusan pengadilan, artikel ini menawarkan
perspektif empiris langsung dari aktor yang terlibat dalam praktik korupsi. Pendekatan
ini memungkinkan terungkapnya modus operandi serta dinamika prosesual elemen
fraud yang masih relatif terbatas dibahas dalam literatur sebelumnya.
Objectives – Drawing on an empirical study, this article aims to
identify the modus operandi of corruption involving Village Treasury Land in
the Province of Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Indonesia. In addition, the
study seeks to deepen the understanding of how fraud elements interact in
corrupt practices, providing a conceptual foundation for the development of
anti-fraud strategies and anti-corruption efforts in the
land sector.
Design/Methodology/Approach – This study employed a qualitative research design utilizing a single-case study approach. Data were analyzed through thematic analysis. The
research utilized both primary and secondary data. Primary data were collected
via semi-structured, in-depth interviews with nine key actors from the Village
Treasury Land bureaucracy in the Province of DIY, comprising convicted
offenders, administrators, and supervisors. Secondary data were obtained from
relevant documents related to land cases and land governance policies. Data
quality and robustness of findings were ensured through the application of
validity, reliability, and data saturation principles.
Findings – The study yields two main findings. First, the
modus operandi of corruption involving Village Treasury Land in the Province of
DIY is constructed through two interrelated dimensions: the intention dimension
and the actualization dimension. The intention dimension shapes motivation and
justification for corrupt behavior, while the actualization dimension
represents the execution of corrupt practices. Second, the
findings indicate that the elements of the Fraud Hexagon operate through
interrelated mechanisms. Psychological mechanisms, reflected in stimulus,
rationalization, and ego, strengthen corrupt intentions, whereas structural
mechanisms operationalize corruption through capability, opportunity, and
collusion. These findings support a rethinking of the Fraud Hexagon Theory as a
process-oriented analytical framework.
Research Limitations – A limitation of
this study lies in the exclusion of court verdict documents as part of
methodological triangulation. However, this limitation was mitigated through
strong source triangulation, which enabled the incorporation of diverse
perspectives and enhanced the validity of the empirical data.
Practical Implications – This article
contributes to the development of anti-corruption strategies in the land sector
by introducing a modus operandi dimension and a processual Fraud Hexagon
framework as analytical foundations for designing more targeted prevention
policies and intervention measures.
Originality/Value – Unlike studies that primarily rely on legal documents and court rulings, this article offers direct empirical insights from actors involved in corrupt practices. This approach enables the identification of modus operandi and the processual dynamics of fraud elements that remain underexplored in existing literature.
Kata Kunci : Village Treasury Land Corruption; Modus Operandi; Rethinking Fraud Hexagon; Qualitative Case Study.