Laporkan Masalah

Palagimata sebagai Daya Tarik Wisata Benteng Keraton Buton di Kota Baubau

RAY MARCH SYAHADAT, Muhammad Baiquni; Chafid Fandeli; Dyah Widiyastuti

2026 | Disertasi | S3 Kajian Pariwisata

Masyarakat Buton Wolio yang berada di Kota Baubau memiliki kebiasaan unik yang sering dilakukan, yaitu menikmati lanskap. Kebiasaan ini pada akhirnya membentuk sebuah kebudayaan yang disebut palagimata. Meskipun masih dilakukan hingga saat ini, terjadi pergeseran makna palagimata itu sendiri. Kenyataan yang juga dihadapi hampir tidak dapat ditemukan kajian mengenai palagimata itu sendiri. Padahal, palagimata memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata, khususnya di Benteng Keraton Buton sebagai objek wisata utama di Kota Baubau. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep palagimata oleh masyarakat lokal dan wisatawan di Kota Baubau, merumuskan sejauh mana palagimata diterapkan di Benteng Keraton Buton, serta melakukan assessment terhadap palagimata sebagai daya tarik di Benteng Keraton Buton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini antara lain wawancara dengan informan kunci dan wisatawan yang pernah melakukan aktivitas wisata memandangi lanskap di Benteng Keraton Buton, netnografi, dan observasi lapangan. Data dan informasi dianalisis secara deskriptif dengan pendekatan cultural value model. Selanjutnya, data spasial dianalisis dengan menggunakan SIG dan di akhir data visual diolah dengan menggunakan scenic beauty estimation untuk mengonfirmasi hasil. Assessment terhadap daya tarik palagimata dilakukan secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa palagimata merupakan tempat yang nyaman untuk memandangi objek yang membuat pelakunya nyaman untuk berlama-lama di sana. Aktivitas memandangi objek tersebut disebut alagiomata. Saat ini masyarakat lokal masih menjalankan aktivitas tersebut, namun banyak di antara mereka yang tidak memahami bahwa hal tersebut merupakan palagimata dan alagiomata. Wisatawan meskipun juga tidak mengetahui maknanya, tetapi mereka beranggapan positif dan dapat menikmati kedua hal tersebut. Palagimata di Benteng Keraton Buton yang memiliki nilai kualitas visual yang tinggi berada di sisi utara dan timur benteng. Area yang paling difavoritkan adalah area Jaraijo sebab area ini berada di pinggir tebing sehingga luas pandang dapat sangat optimal, minim terhadap objek yang mengganggu visual, dan didukung oleh elemen yang kaya seperti area hijau, perbukitan, sungai, perkotaan, laut, dan pulau. Palagimata di Benteng Keraton Buton dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata sebab keberadaannya dapat melestarikan dan menambah nilai signifikansi, serta meningkatkan apresiasi terhadap Benteng Keraton Buton khususnya sebagai lanskap sejarah dan budaya.

The Buton Wolio community in Baubau City has a unique habit of enjoying the landscape. This habit eventually gave rise to a culture called palagimata. Although it is still practised today, the meaning of palagimata has shifted. The reality is that almost no studies exist on palagimata itself. Palagimata has the potential to become a tourist attraction, especially the Buton Kraton Fortress, which could serve as the main attraction in Baubau City. This study aims to examine the concept of palagimata among local people and tourists in Baubau City, assess the extent to which it is applied at the Buton Kraton Fortress, and evaluate its appeal as an attraction. The methods used in this study include interviews with a key informant and tourists who have participated in tourist activities, observation of the landscape at the Buton Kraton Fortress, netnography, and field observation. Data and information were analyzed descriptively with a cultural value model approach. Furthermore, spatial data were analysed using GIS, and the visual data were subsequently processed using the scenic beauty estimation method to confirm the results. Assessment of palagimata attractiveness was carried out descriptively. The results show that palagimata is a comfortable place to look at objects, which makes the perpetrator feel comfortable lingering there. The activity of looking at the object is called alagiomata. Currently, local people still engage in this activity, but many do not understand the meanings of palagimata and alagiomata. Tourists, although they also do not know the meaning, think positively and can enjoy both. Palagimata at the Buton Kraton Fortress, which has a high visual quality, is located on the north and east sides of the fort. The favourite area is the Jaraijo area because it is on the edge of a cliff. The reason are the field of view is optimal, with few objects interfering with the view, and it is supported by rich elements such as green areas, hills, rivers, cities, seas, and islands. Palagimata at the Buton Kraton Fortress can be used as a tourist attraction because its existence can preserve and add significant value, as well as increase appreciation of the Buton Kraton Fortress, especially as a historical and cultural landscape.

Kata Kunci : alagiomata, cultural value model, pelestarian visual, pariwisata lanskap, Wolio.

  1. S3-2026-468386-abstract.pdf  
  2. S3-2026-468386-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-468386-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-468386-title.pdf