DARI SINYAL KEBIJAKAN KE KEPUTUSAN PENGGUNA: ANALISIS NARASI KEBIJAKAN ENERGI BARU TERBARUKAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN NARRATIVE POLICY FRAMEWORK
Aulia Prilliyanti Dwiputri, Bevaola Kusumasari, SIP., M.Si., Ph.D.
2025 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
Penelitian ini menjelaskan alasan terbatas dan
tidak meratanya implementasi energi baru terbarukan (EBT) di Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY), meskipun kerangka regulasinya tampak progresif. Dengan
menggunakan Narrative Policy Framework (NPF), penelitian ini menelaah
regulasi dan berita daring sebagai sinyal kebijakan yang membentuk narasi
publik mengenai manfaat, beban, dan tanggung jawab, lalu mengevaluasi narasi
tersebut dengan membandingkannya terhadap metode implementasi dan pengalaman
hidup pengguna. Data penelitian mencakup 207 berita daring (2018–2025) dan 13
wawancara mendalam dengan rumah tangga, usaha mikro, pengelola komunitas, serta
dinas yang membidangi energi di tingkat provinsi. Pendekatan penelitian ini
membandingkan narasi pada tingkat makro (sinyal kebijakan), meso (implementasi
organisasi ke dalam program dan prosedur), dan mikro (penerimaan serta tindakan
pengguna) dengan memanfaatkan elemen NPF, yaitu latar, tokoh, alur, dan amanat.
Penelitian ini mengidentifikasi empat
narasi dominan: (A) EBT sebagai solusi prospektif dan percepatan transisi, (B)
EBT sebagai peluang ekonomi lokal dan inovasi sosial berbasis komunitas, (C)
EBT sebagai tantangan operasional dan risiko implementasi, serta (D) EBT
sebagai ranah koordinasi dan akuntabilitas. Narasi A dan B membangun legitimasi
awal melalui pembingkaian manfaat dan urgensi; namun, kredibilitas narasi
tersebut secara konsisten dipertanyakan pada titik layanan, termasuk perizinan,
serah terima instalasi, serta operasi dan pemeliharaan (O&M) pascaprogram.
Ketika pengguna menghadapi biaya operasi dan pemeliharaan yang tidak terduga,
kelangkaan komponen, kerumitan prosedur, atau akuntabilitas yang tidak jelas,
narasi C menguat dan dapat menyebabkan penundaan adopsi, penurunan intensitas
pemanfaatan, atau kembali menggunakan sumber energi konvensional. Narasi D
menunjukkan bahwa pengalaman tersebut mengungkap kelemahan tata kelola, seperti
mandat yang terfragmentasi, pemantauan dan evaluasi yang tidak memadai, tidak
adanya jalur bantuan yang jelas, serta minimnya persyaratan layanan.
Esai ini berargumen bahwa implementasi yang efektif lebih bergantung pada kerangka komunikasi yang berorientasi layanan, yang menjaga kestabilan ekspektasi melalui transparansi prosedural, paket operasi dan pemeliharaan yang terdefinisi jelas, serta koordinasi yang bertanggung jawab, daripada komunikasi yang bersifat promosi. Implikasi kebijakan meliputi penyederhanaan dan standardisasi prosedur, pembentukan kanal bantuan terpusat dengan mekanisme eskalasi, pengintegrasian pembiayaan dan jaminan operasi serta pemeliharaan ke dalam program, serta pengelolaan perubahan kebijakan secara transparan untuk menjaga kepercayaan dan mengurangi risiko yang dipersepsikan.
This
essay elucidates the reasons for the limited and uneven implementation of
renewable energy (Energi Baru Terbarukan or EBT) in Indonesia’s Special Region
of Yogyakarta (DIY), despite ostensibly progressive legislation. Utilizing the
Narrative Policy Framework (NPF), the study examines regulations and online
news as policy signals that shape public narratives regarding benefits,
burdens, and responsibilities, then evaluating these narratives against
implementation methods and users lived experiences. The data comprises 207
online news pieces (2018-2025) and 13 comprehensive interviews with households,
micro-enterprises, community managers, and the province energy office. The
approach juxtaposes narratives at macro (policy signals), meso (organizational implementation
into programs and procedures), and micro (user reception and actions) levels
utilizing NPF elements which are setting, characters, plot, and moral.
Four
prevailing narratives are recognized: (A) EBT as a prospective solution and
expedited transition, (B) EBT as a local economic opportunity and
community-driven social innovation, (C) EBT as operational challenges and
implementation hazards, and (D) EBT as a domain of coordination and
accountability. Narratives A and B establish initial legitimacy via benefit
framing and urgency; nevertheless, the credibility of these narratives is
consistently questioned at service interfaces, including permitting, installation
handover, and post-program operations and maintenance (O&M). When customers
encounter unforeseen operations and maintenance expenses, component shortages,
procedural intricacies, or ambiguous accountability, narrative C becomes
prominent and may result in postponed adoption, diminished usage intensity, or
a reversion to traditional energy sources. Narrative D illustrates that these
experiences reveal deficiencies in governance, including fragmented mandates,
inadequate monitoring and assessment, and the lack of defined assistance routes
and minimal service requirements.
The essay contends
that effective implementation relies more on a service-oriented communication
framework that ensures stability in expectations through procedural
transparency, clearly defined operation and maintenance packages, and
responsible coordination, rather than on promotional communication. Policy
implications encompass the simplification and standardization of procedures,
the creation of a centralized assistance channel with escalation mechanisms,
the incorporation of operational and maintenance financing and guarantees into
programs, and the transparent management of policy alterations to safeguard
confidence and mitigate perceived risk.
Kata Kunci : narrative policy framework, kebijakan energi terbarukan, sinyal kebijakan, tata kelola implementasi, operasi dan pemeliharaan, energi baru terbarukan