Perilaku Petani Padi untuk Meningkatkan Kapasitas Berinovasi di Daerah Istimewa Yogyakarta
Mustapit, Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.S.; Prof. Ir. Krishna Agung Santosa, M.Sc., Ph. D.
2025 | Disertasi | S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Kapasitas para pelaku dalam Sistem Inovasi Pertanian khususnya petani harus ditingkatkan agar dapat mengadopsi inovasi pertanian dan menjadikan mereka sebagai petani yang mandiri dan sejahtera. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku petani dalam peningkatan kapasitas untuk berinovasi menjadi penting untuk dianalisis dalam rangka memprediksi perilaku petani dan menemukan modelnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) menjelaskan perilaku petani di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk meningkatkan kapasitas berinovasi; (2) menganalisa pengaruh faktor personal petani (sikap terhadap inovasi, efikasi diri dan motivasi) dan faktor lingkungan pertanian (peran kelompok tani, peran penyuluh pertanian, peran pedagang saprodi dan hasil panen, peran lembaga penelitian dan peran pemerintah) terhadap perilaku petani untuk meningkatkan kapasitas berinovasi; dan (3) merumuskan model perilaku petani untuk meningkatkan kapasitas berinovasi yang dipengaruhi faktor personal petani dan faktor lingkungan pertanian.
Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian survei dengan pendekatan metode kuantitatif yang berupa angka-angka untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis statistika. Metode analisis data dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dan analisis structural equation modelling (SEM).
Hasil penelitian menemukan perilaku petani padi DIY dalam peningkatan kemampuan berinovasi di bidang pertanian masuk dalam kriteria sedang atau kadang-kadang. Faktor personal berpengaruh lemah dan nyata terhadap perilaku petani padi DIY dalam peningkatan kemampuan berinovasi di bidang pertanian. Sedangkan faktor lingkungan berpengaruh kuat dan nyata terhadap perilaku petani dalam peningkatan kapasitas berinovasi di bidang pertanian. Hubungan faktor personal dan faktor lingkungan sangat lemah dalam membentuk perilaku petani Padi DIY dalam peningkatan kemampuan berinovasi di bidang pertanian.
Hasil penelitian menemukan kebaruan tentang adanya disonansi kognitif pada petani padi DIY yaitu adanya ketidaknyamanan psikologis karena memiliki dua keyakinan yang berbeda yaitu peningkatan kapasitas berinovasi akan meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan serta kesejahteraan (kognitif positif) dan keyakinan bahwa karakteristik mereka yang termasuk dalam tipe laggard membuat motivasi mereka kecil dan negatif serta tidak yakin bahwa mereka akan berhasil (kognisi negatif). Penelitian ini juga menemukan kebaruan tentang tambahan karakteristik pengadopsi kategori laggard yaitu berumur tua, berpegang kuat pada norma dan menempati status sosial yang rendah sehingga membuat efikasi diri mereka berpengaruh negatif terhadap perilaku untuk meningkatkan kapasitas berinovasi di bidang pertanian. Kebaruan lainnya adalah faktor lingkungan yang berpengaruh kuat terhadap perilaku untuk meningkatkan kapasitas berinovasi di bidang pertanian pada titik tertentu (inovasi yang semakin kompleks/sulit) semakin menurunkan menurunkan motivasi petani karena karakteristik personal yang termasuk dalam kategori pengadopsi lamban.
To help farmers embrace new agricultural practices and achieve self-sufficiency and prosperity, it's crucial to enhance the capabilities of everyone involved in the Agricultural Innovation System, especially the farmers themselves. Understanding what drives farmers to improve their innovative capacity is essential for predicting their actions and creating effective support models. This research aimed to: (1) describe how farmers in the Special Region of Yogyakarta (DIY) approach increasing their ability to innovate; (2) examine how personal factors (attitudes toward innovation, self-efficacy, and motivation) and agricultural environment factors (the role of farmer groups, extension workers, traders, research institutions, and the government) impact farmers' innovative behavior; (3) develop a model that explains farmer behavior in boosting their innovation capacity, taking into account both personal and environmental influences.
This study was a quantitative survey that used numerical data for statistical analysis. It employed descriptive statistics and structural equation modeling (SEM) to analyze the collected data.
The results found that the behavior of farmers in the Special Region of Yogyakarta (DIY) in increasing their capacity to innovate in agriculture fell into the moderate or occasional category. Personal factors have a weak and significant influence on the behavior of DIY farmers in increasing their innovation capacity in agriculture. Meanwhile, environmental factors have a strong and significant influence on farmer behavior in increasing their innovation capacity in agriculture. The relationship between personal and environmental factors is very weak in shaping DIY farmers' behavior in increasing their innovation capacity in agriculture.
The research findings reveal a novel finding of cognitive dissonance among DIY rice farmers, namely the psychological discomfort they experience due to holding two conflicting beliefs: one that increasing their innovation capacity will increase rice productivity, income, and well-being (positive cognition) and the other that their laggard characteristics make them less motivated and less confident in their success (negative cognition). This study also uncovered additional novel characteristics of laggard adopters: older age, strong adherence to norms, and low social status, which negatively influence their self-efficacy in behaviors aimed at increasing their innovation capacity in agriculture. Another novelty is that environmental factors have a strong influence on behavior to increase the capacity to innovate in the agricultural sector at a certain point (increasingly complex/difficult innovations) which further reduce farmers' motivation due to personal characteristics that fall into the category of slow adopters.
Kata Kunci : perilaku petani, kapasitas berinovasi, sistem inovasi pertanian