Analisis Hubungan Struktural Kesejahteraan Antargenerasi pada Rumah Tangga Miskin: Pendekatan GSCA atas Data Panel IFLS
NANDA MULIANSYAH, Prof. Dr. Sri Rum Giyarsih, S.Si., M.Si.; Dr. Umi Listyaningsih, S.Si., M.Si.
2026 | Disertasi | S3 Kependudukan
Indonesia tengah memasuki fase bonus demografi yang ditandai oleh dominasi penduduk usia produktif. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan, namun juga menghadirkan tantangan berupa meningkatnya kebutuhan dukungan bagi penduduk lanjut usia. Dalam konteks tersebut, penting untuk memahami bagaimana kesejahteraan generasi muda berkembang dan sejauh mana hal itu berdampak pada kondisi hidup orang tua mereka.
Disertasi ini menganalisis dinamika kesejahteraan anak dari masa muda hingga dewasa serta pengaruhnya terhadap kesejahteraan orang tua dalam rumah tangga miskin di Indonesia, dengan acuan rumah tangga miskin pada tahun 1993. Penelitian berlandaskan pada Wealth Flow Theory dan konsep intergenerational transfer. Dengan menggunakan data longitudinal Indonesian Family Life Survey (IFLS), analisis dilakukan melalui metode Generalized Structured Component Analysis (GSCA) untuk menguji hubungan laten antar dimensi kesejahteraan anak dan orang tua.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan anak saat dewasa yang dipengaruhi oleh pendidikan, migrasi, dan status pekerjaan. Peningkatan tersebut berdampak positif terhadap transfer finansial kepada orang tua. Namun, hubungan antara kesejahteraan anak dan orang tua bersifat asimetris: peningkatan kesejahteraan objektif anak tidak selalu sejalan dengan peningkatan kesejahteraan subjektif orang tua. Selain itu, ditemukan variasi menurut gender, pendidikan, dan religiositas. Anak laki-laki dan anak berpendidikan lebih tinggi cenderung memberikan dukungan ekonomi lebih besar, sementara religiositas memperkuat motivasi untuk melakukan transfer antar generasi. Temuan ini menegaskan bahwa transfer kesejahteraan dalam keluarga bersifat multidimensional dan dipengaruhi oleh faktor sosial-demografis.
Indonesia is currently experiencing a demographic dividend characterized by a growing proportion of the working-age population. While this condition offers opportunities for economic growth and improved well-being, it also presents challenges related to the increasing need for social support for the elderly. In this context, it is important to understand how the well-being of the younger generation evolves over time and the extent to which it affects the well-being of their parents.
This dissertation examines the dynamics of children’s well-being from youth to adulthood and its impact on parental well-being among poor households in Indonesia, referring to households classified as poor in 1993. The study is grounded in the Wealth Flow Theory and the concept of intergenerational transfer. Using longitudinal data from the Indonesian Family Life Survey (IFLS), the analysis applies Generalized Structured Component Analysis (GSCA) to test latent relationships between the dimensions of children’s and parents’ well-being.
The findings reveal an overall improvement in children’s well-being in adulthood, influenced by education, migration, and employment status. This improvement has a positive effect on financial transfers to parents. However, the relationship between children’s and parents’ well-being is asymmetric: gains in children’s objective well-being are not always accompanied by proportional improvements in parents’ subjective well-being. The study also identifies variations by gender, education, and religiosity. Sons and more highly educated children tend to provide greater economic support, while religiosity strengthens the motivation to engage in intergenerational transfers. These findings highlight that intergenerational well-being transfers within families are multidimensional and shaped by socio-demographic factors.
Kata Kunci : kesejahteraan subjektif, kesejahteraan objektif, transfer antargenerasi, keluarga miskin, GSCA, IFLS