Strategi Arab Saudi Dalam Rekonstruksi Identitas Melalui Formula 1 Saudi Arabian Grand Prix
Aldy Fahmi Maulana, Prof. Dr. Siti Mutiah Setyawati, M.A.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional
Tesis ini mengkaji penyelenggaraan Formula 1 Grand Prix oleh Arab Saudi sebagai statecraft dalam merekonstruksi identitas nasionalnya. Penyelenggaraan ini dilatarbelakangi oleh ketidakamanan ontologis yang dipicu oleh anjloknya harga minyak global tahun 2014–2015, yang mengungkap kerapuhan model negara rentier dan identitas “Islam dan minyak” Saudi. Saat Saudi bertransisi menuju identitas modern dalam Vision 2030, negara mengalami disonansi antara identitas korporat yang diinginkannya dengan identitas sosialnya yang disematkan kepadanya. Oleh karena itu, tesis ini bertujuan untuk menganalisis motivasi Saudi memilih Formula 1 sebagai alat untuk rekonstruksi identitasnya dan implementasi ajang tersebut dalam mencapai tujuan yang sama. Tesis ini menggunakan kerangka teori konstruktivisme yang berfokus pada konsep identitas korporat dan sosial, keamanan ontologis, dan budaya anarki Lockean. Secara metodologis, tesis menggunakan desain studi kasus deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka (2016-2025) terhadap dokumen, paper, dan pernyataan publik resmi dari pemerintah Saudi dan Formula 1; serta, sumber sekunder seperti literatur akademis, laporan dari badan internasional, dan liputan media tentang ajang tersebut. Tesis ini mendekonstruksi Saudi Arabian Grand Prix bukan hanya sebagai usaha komersial, tetapi sebagai statecraft yang dirancang untuk mengelola hierarki internasional dan memvalidasi identitas barunya. Lebih lanjut, Saudi memanfaatkan Grand Prix sebagai visual speech act dan mekanisme untuk pengalihan peran, mendorong komunitas internasional untuk beralih dari kritikus menjadi mitra dalam modernisasi Saudi. Melalui siaran visual strategis dan pembangunan Sirkuit Corniche Jeddah yang berteknologi maju, Saudi berupaya membongkar stereotip orientalis dan menggeser citra globalnya dari negara petro menjadi ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi. Ajang tersebut juga berfungsi sebagai ritual dan alat sosialisasi, menggunakan enterprenir norma seperti Reema Juffali untuk menginternalisasi nilai-nilai kosmopolit di kalangan demografis muda Saudi. Pada akhirnya, Tesis ini menyimpulkan bahwa dengan berintegrasi ke dalam klub elite global melalui Formula 1, Saudi mengamankan identitas, status, dan fondasi ontologisnya di era pasca-minyak.
This thesis examines Saudi Arabia's hosting of the Formula 1 Grand Prix as statecraft in the reconstruction of its national identity. This hosting was motivated by ontological insecurity triggered by the 2014–2015 global oil price crash, which exposed the fragility of the rentier state model and Saudi's "Islam and oil" identity. As Saudi transitions towards a modern identity under Vision 2030, it experiences a dissonance between its desired corporate identity and its ascribed social identity. Therefore, this thesis aims to analyze Saudi’s motivations for choosing Formula 1 as a tool for identity reconstruction and the implementation of the event to achieve the goal in question. This thesis uses a constructivist theoretical framework that focuses on corporate and social identity, ontological security, and Lockean anarchic culture. Methodologically, the thesis employs a descriptive-qualitative case study design. Data collection was conducted through a literature review (2016–2025) of official documents, papers, and public statements from the Saudi government and Formula 1; as well as secondary sources such as academic literature, reports from international bodies, and media coverage of the event. This thesis deconstructs the Saudi Arabian Grand Prix not merely as a commercial venture, but as statecraft designed to manage international hierarchies and validate its new identity. Furthermore, Saudi utilizes the Grand Prix as a visual speech act and a mechanism for alter-casting, encouraging the international community to shift from critics to partners in Saudi modernization. Through strategic visual broadcasts and the construction of the technologically advanced Jeddah Corniche Circuit, Saudi Arabia seeks to dismantle orientalist stereotypes and shift its global image from a petro-state to a knowledge- and technology-based economy. The event also serves as a ritual and a socialization tool, using norm entrepreneurs like Reema Juffali to internalize cosmopolitan values among the younger Saudi demographic. Ultimately, this thesis concludes that by integrating into the global elite club through Formula 1, Saudi secures its identity, status, and ontological foundation in the post-oil era.
Kata Kunci : Arab Saudi, Disonansi Identitas, Formula 1, Keamanan Ontologis, Konstruktivisme, Rekonstruksi Identitas, Statecraft, Vision 2030.