Laporkan Masalah

Merawat Ingatan, Melawan Lupa: Politik Memori atas Tragedi Kanjuruhan

Mukhammad Abdul Aziz, Budiawan, S.S., M.A., Ph.D.

2026 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 merenggut 135 nyawa dalam pertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya. Lebih dari dua tahun pasca tragedi, keluarga korban dan jaringan solidaritas menghadapi berbagai hambatan dalam memperjuangkan keadilan, termasuk upaya pembungkaman sistematis melalui 'bantuan', intimidasi, dan perampasan situs ingatan mereka. Penelitian ini menganalisis bagaimana keluarga korban dan penyintas mengonstruksi memori kolektif dan melakukan perlawanan terhadap upaya pelupaan tragedi Kanjuruhan. Menggunakan pendekatan etnografi dengan metode observasi partisipatoris dan wawancara mendalam, penelitian ini mengungkap dinamika politik memori dalam konteks tragedi sepak bola. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memori kolektif keluarga korban terpusat pada ingatan tentang terbunuhnya keluarga mereka oleh gas air mata kepolisian, proses hukum yang tidak berpihak, dan perampasan situs memori Gate 13. Memori kolektif ini kemudian membentuk identitas baru sebagai "keluarga korban" yang terbagi menjadi "jalur kesejahteraan" dan "jalur keadilan". Perampasan Gate 13 melalui renovasi stadion menciptakan pertarungan wacana antara situs memori organik (Locus) yang diciptakan keluarga korban dengan situs memori fabrikasi (Memorial) yang dibangun pengelola. Meski menghadapi upaya pelupaan sistematis, keluarga korban tetap merawat ingatan melalui ritus-ritus ziarah, doa bersama, dan diskusi publik. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana memori kolektif beroperasi dalam konteks tragedi kemanusiaan di Indonesia, khususnya dalam hubungannya antara situs ingatan, ritus pengingatan, dan perjuangan keadilan.


The Kanjuruhan tragedy on October 1, 2022, claimed 135 lives during a football match between Arema FC and Persebaya Surabaya. More than two years after the tragedy, victims' families and solidarity networks face various obstacles in their fight for justice, including systematic silencing attempts through 'assistance,' intimidation, and the seizure of their memory sites. This research analyzes how victims' families and survivors construct collective memory and resist efforts to forget the Kanjuruhan tragedy. Using an ethnographic approach with participatory observation and in-depth interviews, this study reveals the dynamics of memory politics in the context of a football tragedy. The findings show that the collective memory of victims' families centers on memories of their family members being killed by police tear gas, an unjust legal process, and the seizure of Gate 13 as a memory site. This collective memory then forms a new identity as "victims' families" divided into the "welfare pathway" and the "justice pathway." The seizure of Gate 13 through stadium renovation creates a discursive struggle between the organic memory site (Locus) created by victims' families and the fabricated memory site (Memorial) built by management. Despite facing systematic forgetting efforts, victims' families continue to care for memory through rituals of pilgrimage, collective prayer, and public discussions. This research contributes to understanding how collective memory operates in the context of humanitarian tragedies in Indonesia, particularly in relation to memory sites, remembrance rituals, and the struggle for justice.

Kata Kunci : Tragedi Kanjuruhan, Politik Memori, Memori Kolektif.

  1. S2-2026-514524-abstract.pdf  
  2. S2-2026-514524-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-514524-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-514524-title.pdf