HARMONISASI RUANG SPIRITUAL, SOSIAL, DAN FISIK SEBAGAI LANDASAN EKSISTENSI PERMUKIMAN TRADISONAL PESISIR SUKU MANDAR
WIWID DINIATI, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng, Ph.D., IPU.
2026 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah
Permukiman pesisir di Kabupaten
Majene merupakan ruang hidup masyarakat Mandar yang terbentuk melalui proses
sejarah panjang dan keterikatan yang kuat dengan lingkungan laut. Dalam konteks
ini, ruang tidak hanya berfungsi sebagai wadah aktivitas fisik, tetapi juga
sebagai medium pembentukan nilai, relasi sosial, dan orientasi spiritual
masyarakat. Perkembangan wilayah pesisir yang ditandai oleh modernisasi,
pembangunan infrastruktur, serta tekanan ekologis seperti abrasi pantai telah
memunculkan perubahan signifikan dalam praktik bermukim dan pemanfaatan ruang,
sehingga memunculkan kebutuhan untuk memahami kembali makna ruang dari sudut
pandang masyarakat setempat.
Kajian ini diarahkan untuk menelaah
bagaimana masyarakat Mandar di Lingkungan Tanangan, Kelurahan Pangali-ali,
Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene memaknai ruang permukiman pesisir melalui
pengalaman hidup, nilai budaya, dan pandangan kosmologis yang diwariskan secara
turun-temurun. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologis,
melalui pengamatan langsung, wawancara mendalam, serta penelusuran praktik
sosial dan ritual yang berkaitan dengan ruang bermukim.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa
keberlanjutan permukiman pesisir Mandar bertumpu pada harmonisasi antara ruang
spiritual, ruang sosial, dan ruang fisik. Ruang spiritual berfungsi sebagai
mekanisme kultural dalam merespons ketidakpastian lingkungan maritim, yang
diwujudkan melalui praktik ritual keselamatan dan pemaknaan rumah sebagai pusat
kosmologis. Dimensi spiritual tersebut kemudian membentuk ruang sosial yang
ditopang oleh prinsip siballipariq, yang menguatkan solidaritas, kerja
sama, dan tindakan kolektif masyarakat. Selanjutnya, nilai-nilai spiritual dan
sosial tersebut terartikulasikan ke dalam ruang fisik melalui orientasi
bangunan, struktur rumah panggung, serta pembagian ruang yang mencerminkan
keseimbangan antara kebutuhan ekologis dan sistem nilai budaya. Dengan
demikian, permukiman pesisir Mandar dapat dipahami sebagai hasil interaksi
dinamis antara budaya, struktur sosial, dan lingkungan alam.
Coastal settlements in Majene
Regency represent the living space of the Mandar people, shaped through a long
historical process and a deep attachment to the maritime environment. In this
context, space functions not only as a container for physical activities but
also as a medium for the formation of values, social relations, and spiritual
orientation. The development of coastal areas, marked by modernization,
infrastructure expansion, and ecological pressures such as shoreline abrasion,
has brought significant changes to settlement practices and spatial use,
creating a need to re-examine the meaning of space from the perspective of
local communities.
This study seeks to explore how the
Mandar community in Tanangan, Pangali-ali Subdistrict, Banggae District, Majene
Regency interprets coastal settlement space through lived experience, cultural
values, and cosmological views passed down across generations. The research
employs a qualitative phenomenological approach, involving direct observation,
in-depth interviews, and an examination of social practices and rituals related
to dwelling spaces.
The findings reveal that the
sustainability of Mandar coastal settlements rests on the harmonization of
spiritual, social, and physical dimensions of space. The spiritual dimension
serves as a cultural mechanism for responding to the uncertainties of the
maritime environment, expressed through safety rituals and the conception of
the house as a cosmological center. This spiritual foundation shapes the social
dimension, which is sustained by the principle of siballipariq,
reinforcing solidarity, cooperation, and collective action within the
community. Furthermore, these spiritual and social values are articulated in
the physical dimension through building orientation, stilt-house structures,
and spatial divisions that reflect a balance between ecological needs and
cultural values. Thus, Mandar coastal settlements can be understood as the
dynamic outcome of interactions between culture, social structures, and the
natural environment.
Kata Kunci : permukiman pesisir, masyarakat Mandar, makna ruang, fenomenologi.