Pemodelan Dinamika Kerawanan Longsor Koseismik Menggunakan Machine Learning: (Studi Kasus: Rangkaian Gempa Lombok Tahun 2018)
Akbar Akhmad, Dr.rer.nat. Muhammad Anggri Setiawan, M.Si.; Dr. Danang Sri Hadmoko, M.Sc.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan
Longsor koseismik merupakan salah satu bahaya turunan
dari gempabumi yang dapat memperluas dampak bencana. Beberapa peristiwa gempa besar
di dunia telah memicu banyak kejadian longsor, namun penilaian kerawanan masih
belum memadai. Peta kerawanan longsor tersedia masih berskala regional dan
tergantung dari subyektivitas penilaian ahli, sehingga variasi lokal belum
tergambar baik. Studi longsor koseismik banyak berfokus pada seismologi atau
prediksi sekunder jangka pendek, sehingga integrasi faktor pengontrol untuk
kerawanan jangka menengah masih terbatas. Penelitian ini memodelkan dinamika
dan kerawanan longsor koseismik Pulau Lombok berbasis inventori dan machine
learning.
Inventori longsor disusun dari interpretasi citra
Sentinel-2, PlanetScope, dan Google Earth Pro pascagempa 2018. Prediktor
menggabungkan parameter seismik (PGA, MMI, jarak episenter), deformasi
(DInSAR), serta faktor geologi, topografi serta tutupan dan penggunaan lahan.
Dataset akhir berisi 7.823 titik (3.941 longsor; 3.882 non-longsor) dengan
pembagian 70% latih dan 30% uji. Empat algoritma machine learning (LR,
SVM, ANN, RF) dievaluasi memakai confusion matrix dan ROC–AUC serta
analisis variabel penting.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa longsor
berkembang mengikuti rangkaian gempa dan mengindikasikan reaktivasi lereng di
Utara. Performa model menunjukkan hasil yang baik (akurasi ~75?n AUC
>0,8), dengan model Random Forest paling unggul dan stabil. Zonasi
kerawanan tinggi–sangat tinggi membentuk sabuk di Utara Lombok (khususnya
Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur), sedangkan bagian Selatan dominan
rendah. Luaran ini mendukung prioritas mitigasi dan penataan ruang berbasis
risiko longsor koseismik.
Coseismic landslides are one of the secondary
hazards of earthquakes that can amplify and expand disaster impacts. Several
major earthquakes worldwide have triggered numerous landslides, yet
susceptibility assessment remains inadequate. Existing landslide susceptibility
maps are generally available only at regional scales and often depend on the
subjectivity of expert judgement, so local variations are not well captured.
Many coseismic landslide studies focus on seismology or short-term secondary
predictions, meaning that the integration of controlling factors for
medium-term susceptibility is still limited. This research models the dynamics
and susceptibility of coseismic landslides on Lombok Island based on an
inventory and machine learning.
The landslide inventory was compiled through the
interpretation of post-earthquake Sentinel-2, PlanetScope, and Google Earth Pro
imagery. Predictors integrate seismic parameters (PGA, MMI, and distance to the
epicenter), deformation (DInSAR), as well as geological, topographic, and land
cover/land use factors. The final dataset comprises 7,833 points (3,951
landslide and 3,882 non-landslide samples), split into 70% training and 30%
testing subsets. Four machine-learning algorithms (LR, SVM, ANN, and RF) were
evaluated using confusion matrices and ROC–AUC, complemented by
variable-importance analysis.
The results indicate that
landslides evolved along the earthquake sequence and suggest slope reactivation
in northern Lombok. Model performance is strong (accuracy ~75% and AUC >
0.8), with Random Forest being the most robust and consistently performing
model. High to very high susceptibility zones form a belt across northern
Lombok (particularly North Lombok and East Lombok regencies), whereas the
southern part of the island is dominated by low susceptibility. These outputs
support the prioritization of mitigation actions and risk-based spatial
planning for coseismic landslides.
Kata Kunci : Longsor koseismik, kerawanan, machine learning, rangkaian gempa Lombok 2018