Aplikasi geomorfologi pantai dalam pemilihan lokasi pelabuhan Teluk Sampit dan Sekitarnya kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah
Obaid Mujahid Fahmi, Drs. Sunarto, M.S.
1999 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANINTISARI Daerah Teluk Sampit dan sekitarnya merupakan muara sungai besar Mentaya dan sungai-sungai kecil lainnya. Kenampakkan geomorfologis yang berkembang di daerah ini seperti: bura (spit), rataan pasang surut tak bervegetasi, rataan pasang surut bervegetasi, dataran aluvial pantai berair tawar, dataran aluvial pantai berair payau, dataran banjir, dan rawa banyak dipengaruhi oleh gelombang dan arus. Kondisi ini dapat mempengaruhi bangunan buatan manusia dan cara beradaptasi dengan keadaan tersebut. Sementara itu, ada rencana dari pemerintah setempat untuk membangun pelabuhan samudera di daerah ini. Jika dilihat dari kondisi geomorfologis dan proses yang berkembang disana, maka menarik untuk dikaji lokasi mana yang sesuai untuk pelabuhan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan wilayah-wilayah yang mengalami erosi dan akresi (termasuk sedimentasi), menentukan lokasi potensial untuk pelabuhan (port), dan menentukan tipe perlindungan pantai yang sesuai pada lokasi potensial pelabuhan. Untuk itu, dikumpulkan data-data yang menunjang seperti: keadaan angin, pasang surut, arus, batimetri, geologi, erosi dan akresi pantai, serta peta foto udara daerah penelitian guna diinterpretasi. Teknik penentuan titik pengamatan cek lapangan adalah purposive sampling dengan unit medan sebagai unit analisisnya. Unit medan yang disusun terdiri atas geologi (litologi), lereng paras pantai, dan proses pantai. Penentuan lokasi yang cocok untuk pelabuhan dan strategi apa yang diterapkan atas lokasi tersebut menggunakan analisis yang konsep dasarnya diilhami dari analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian dapat dikelompokkan dalam 13 satuan medan. Garis pantai yang mengalami pemunduran atau erosi terjadi pada satuan medan Qtp-III-e (sebelah timur laut Sungai Kalap), Qtp-IV-e (± 3 km sebelah barat Desa ujung Pandaran), dan Qap-IV-e (Sebelah tenggara Desa ujung Pandaran), Qap-II-e (muara S.Rangkang), dan Qap-I-e (pocket beach antara Tanjung Sungnaranak dan Tanjung Cemeti. Akresi pantai terjadi di dalam Teluk Sampit sisi sebelah barat (Qar-I-a), spit Ujung Pandaran (Qap-III-a, Qap-IV-a, dan Qap-I-a), sebelah hulu, muara, dan hilir Sungai Setiruk (Qar-IV-a, dan Qar-III-a), muara Sungai Cemeti yakni Tanjung Cemeti (Qap-I-a), dan sekitar Sungai Kalap (Qtp-II-a). Lokasi yang potensial untuk pengembangan pelabuhan terdapat pada satuan medan Qtp-IV-e dengan daerah belakang pantai berupa Formasi Pembuang yang cocok untuk bangunan fasilitas penunjang aktivitas pelabuhan. Untuk mengurangi gangguan oleh gelombang dan arus pada pelabuhan direkomendasikan untuk dibangun pemecah gelombang berpasangan, dan untuk menghindari terjadinya erosi garis pantai pada bagian luar pemecah gelombang dibangun groin-groin. Pada peneltiian ini, pembangunan pelabuhan dan pembuatan pemecah gelombang sebaiknya dijadikan satu paket. Tanpa pemecah gelombang, fungsi pelabuhan tidak akan optimal dan gangguan oleh arus dan gelombang dapat mengakibatkan kerusakan pada bangunan pelabuhan.
Sampit Bay and its surrounding are mouth of River Mentaya and other channels. Waves and currents had been influencing of developed geomorphological features such as spit, beach, vegetated tidal flat, non-vegetated tidal flat, fresh water coastal alluvial plain, brackish coastal alluvial plain, flood plain, and swamp. These all phenomenon can affect to man-made and the way of adaptation. On the other hand, local government planned the area for port. Viewed for geomorphological condition and its process those are developing go thorough with interesting to investigate the area to find suitable port by means of minimizing complication of environment. The aim of this research are to determine areas where erosion and accretion happened (included sedimentation), to identify potential location for port, and to examine shore protection type properly. For that reason, data collecting is necessary such as wind, tidal, current, bathimetry, geology, shoreline erosion and accretion as well as aerial photomap that used interpreted. Determining of sample observation in used is purposive sampling in terrain unit as analysis unit. The analysis unit comprises of geology (litology), foreshore slope, and beach process. To find Proper location for Port and what kinds of strategy on that place have been used analysis technical of SWOT analysis inspiration. As the result, thirteenth terrain unit can be identified. Shoreline erosions are occurring on Qtp-III-e (northeastern Kalap Channel), Qtp-IV-e (approximate 3 km western Ujung Pandaran Village), and Qap-IV-e (Southeastern Ujung Pandaran), Qap-II-e (mouth of Rangkang Channel), and Qap-I-e (pocket beach situated between Sungnaranak Cape and Cemeti Cape). Whereas, shorelines accretion are found in inner west side of Bay Sampit (Qar-I-a), Ujung Pandaran spit (Qap-III-a, Qap-IV-a, and Qap-I-a), left side, mouth and the right side of Setiruk Channel (Qar-IV-a, Qar-III-a), mouth of Cemeti channel (Qap-I-a), and around Kalap channel (Qtp-II-a). Potential location for port is found at Qtp-IV-e terrain unit that has Pembuang geological Formation, which is suitable to support developing port facilitation. To eliminate complication by wave and current on port are recommended to develop pair wave breakers, and build groins to avoid shoreline erosion at outside of wave breakers. In this case, as prerequisite if we plan to establish port at potential location, should be one package with making up wave breakers. Without that, developing and the function of port can not become optimal. In next, port building could damage.
Kata Kunci : Geomorfologi pantai, lokasi pelabuhan