Pola Spasial Tata Wilayah Pertahanan Darat Menggunakan Sistem Informasi Geografi (Studi : Kawasan Sekitar Bandar Udara Internasional Yogyakarta)
Agoeng Koesoemo Arjanto Agustinus, Dr. Sigit Heru Murti, S.Si., M.Si.
2026 | Disertasi | S3 Geografi
Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta
di kawasan pesisir selatan Pulau Jawa yang berhadapan langsung dengan Australia
memicu dinamika perubahan tutupan lahan yang signifikan. Kawasan ini ditetapkan
sebagai obyek vital nasional yang memerlukan penataan wilayah pertahanan darat
bersifat dinamis untuk mengantisipasi potensi ancaman. Permasalahan penelitian
mencakup belum diketahuinya prediksi perubahan tutupan lahan hingga tahun 2030,
belum teridentifikasinya zona ruang pertahanan efektif berdasarkan aspek fisik
medan, dan belum tersusunnya pola spasial tata wilayah pertahanan darat
(mandala) yang mengakomodasi perkembangan kawasan strategis.Penelitian ini
bertujuan mengidentifikasi prediksi perubahan tutupan lahan, menganalisis zona
ruang pertahanan efektif, dan menerapkan pola spasial tata wilayah pertahanan
darat di kawasan sekitar Bandara Internasional Yogyakarta seluas 5.548,62 ha.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Prediksi
perubahan tutupan lahan menggunakan metode Cellular Automata-Artificial Neural
Network (CA-ANN) dengan data Citra Landsat multitemporal, menghasilkan uji
akurasi Kappa sebesar 0,81432. Penentuan ruang pertahanan efektif menggunakan
metode Analytical Hierarchy Process (AHP) berbasis Sistem Informasi Geografi
(SIG) dengan 12 parameter aspek fisik medan meliputi kemiringan lereng, kondisi
tanah, bentang lahan, akses air, curah hujan, kawasan bangunan, vegetasi,
bencana, jaringan sungai-irigasi, jalan-rel kereta api, listrik tegangan
tinggi, dan telekomunikasi. Data pembobotan diperoleh melalui wawancara
terhadap 10 personel TNI AD berpengalaman. Penentuan ruang pertahanan efisien
menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) dengan Certainty Factor
berdasarkan 5 aspek taktis medan: medan kritis, lindung tinjautembak, lapang
tinjau-tembak, jalan pendekat, dan rintangan. Hasil penelitian menunjukkan prediksi
perubahan tutupan lahan tahun 2030 mengindikasikan pertumbuhan permukiman
signifikan dengan konversi lahan pertanian. Analisis aspek fisik medan
menghasilkan 69,31% kawasan merupakan ruang pertahanan efektif. Pola spasial
mandala tersusun menjadi empat zona operasional: daerah belakang sebagai
pangkal perlawanan, daerah komunikasi untuk jalur logistik, daerah bekal untuk
persiapan operasi, dan daerah tempur depan sebagai garis pertahanan terdepan.
Implikasi penelitian mencakup perlunya sinkronisasi perencanaan tata ruang yang
mengakomodasi kepentingan kesejahteraan dan pertahanan-keamanan secara
sinergis. Pola spasial tata wilayah pertahanan dinamis ini dapat menjadi
masukan bagi pengambil kebijakan dalam Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
Sekitar Bandara Internasional Yogyakarta.
The construction of Yogyakarta
International Airport on the southern coast of Java, directly adjacent to
Australia, has triggered significant changes in land cover. This area has been
designated a national vital object, requiring dynamic land defense planning to
anticipate potential threats. Research challenges include the uncertainty of
predicting land cover changes until 2030, the lack of identification of
effective defense zones based on the physical aspects of the terrain, and the
absence of a spatial pattern for land defense planning (mandala) that
accommodates the development of strategic areas. This study aims to identify
predicted land cover changes, analyze effective defense zones, and implement a
spatial pattern for land defense planning in the 5,548.62 ha area surrounding
Yogyakarta International Airport. The research method used a descriptive
quantitative approach. Land cover change predictions were performed using the
Cellular Automata-Artificial Neural Network (CA-ANN) method with multitemporal Landsat
imagery data, resulting in a Kappa accuracy of 0.81432. The determination of
effective defense space used the Analytical Hierarchy Process (AHP) method
based on a Geographic Information System (GIS) with 12 physical terrain
parameters, including slope, soil conditions, landforms, water access,
rainfall, built-up areas, vegetation, disasters, river-irrigation networks,
roads and railways, high-voltage electricity, and telecommunications. Weighting
data was obtained through interviews with 10 experienced Indonesian Army
personnel. Efficient defense space was determined using the Simple Additive
Weighting (SAW) method with a Certainty Factor based on five tactical terrain
aspects: critical terrain, fire-reconnaissance cover, fire-reconnaissance
range, approach roads, and obstacles. The results showed that predicted land
cover changes in 2030 indicated significant residential growth, accompanied by
agricultural land conversion. Analysis of the physical terrain resulted in
69.31% of the area being considered as effective defense space. The spatial
pattern of the mandala is structured into four operational zones: the rear area
as the base of resistance, the communication area for logistics routes, the
supply area for operational preparation, and the forward combat area as the
front line of defense. The implications of this research include the need for
synchronized spatial planning that synergistically accommodates welfare and
defense-security interests. This dynamic spatial pattern of defense planning can
provide input for policymakers in the Detailed Spatial Plan for the Area
Surrounding Yogyakarta International Airport.
Kata Kunci : Ruang pertahanan, Sistem Informasi Geografi, Bandara Internasional Yogyakarta, Mandala,Defense Space, Geographic Information System, Yogyakarta International Airport