Penghidupan Masyarakat Berkelanjutan Berbasis Tipologi Dan Karakteristik Wilayah Kepesisiran Di Daerah Istimewa Yogyakarta
Asmorowati, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A.
2025 | Disertasi | S3 Geografi
Masyarakat wilayah kepesisiran sangat
bergantung pada sumber daya alam yang terdapat di wilayah pertemuan antara
darat dan laut. Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan digunakan untuk memahami
strategi penghidupan dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menemukenali tipologi dan karakteristik
wilayah kepesisiran di DIY; (2) menganalisis kerentanan berbasis tipologi dan
karakteristik wilayah kepesisiran di DIY: (a) menganalisis kerentanan wilayah
kepesisiran di DIY, (b) menganalisis kerentanan masyarakat wilayah kepesisiran
di DIY; dan (3) mengevaluasi penghidupan masyarakat berkelanjutan berbasis
tipologi dan karakteristik wilayah kepesisiran di DIY: (a) menganalisis modal
penghidupan masyarakat wilayah kepesisiran di DIY, (b) menganalisis kebijakan
di wilayah kepesisiran di DIY, (c) menganalisis strategi penghidupan masyarakat
wilayah kepesisiran di DIY. Penelitian ini menggunakan metode penelitian
kuantitatif dengan teknik survei. Data primer diperoleh dari 283 rumah tangga
di wilayah Trisik, Parangtritis, dan Baron. Metode penelitian kualitatif dengan
teknik wawancara mendalam dengan delapan tokoh masyarakat mendapatkan informasi
tentang spiritual-transcendental dan kearifan lokasi hamemayu hayuning bawana
di DIY.
Pengumpulan data primer juga dilakukan melalui
observasi lapangan. Data sekunder dikumpukan meliputi model elevasi digital,
citra satelit, dan data statistik. Analisis data hasil survei menggunakan
metode Principal Component Analysis (PCA) pada perangkat lunak Stata 17.
Analisis kerentanan wilayah kepesisiran menggunakan persamaan Gornitz untuk
menghitung Indeks Kerentanan Kepesisiran atau Coastal Vulnerability Index
(CVI).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah
kepesisiran Trisik memiliki tipologi marine deposition coast dengan material
utama pasir serta penggunaan lahan meliputi pertanian, perikanan, pemukiman dan
pariwisata. Indeks Kerentanan Kepesisiran (CVI) Trisik tinggi dan kerentanan
masyarakat wilayah kepesisiran paling tinggi. Modal penghidupan masyarakat
menonjol pada modal manusia dan modal finansial. Rerata persepsi terhadap
kebijakan yang dirasakan masyarakat sebanyak sembilan kebijakan. Strategi
penghidupan utama yaitu intensifikasi dan kerja tambahan. Wilayah kepesisiran
Parangtritis pada Pantai Depok memiliki tipologi marine deposition coast,
dengan material utama pasir serta penggunaan lahan perikanan dan pariwisata.
Pantai Parangkusumo dengan tipologi aeolian coast, material utama pasir, dan
penggunan lahan pariwisata gumuk pasir. Pantai Parangtritis dengan tipologi
primer structurally shaped coast pada ujung timur dan marine deposition coast
dengan material utama pasir dan penggunaan lahan pemukiman dan pairiwisata.
Indeks Kerentanan Kepesisiran (CVI) Parangtritis sedang dan kerentanan
masyarakat paling rendah. Modal penghidupan masyarakat unggul pada modal
sosial. Rata-rata empat kebijakan yang dirasakan masyarakat dan strategi
penghidupan masyarakat yang dominan berupa diversifikasilapangan usaha. Wilayah
kepesisiran Baron memiliki tipologi primer land erosion coast dan tipologi
sekunder wave erosion coast dan marine deposition coast. Material utama batu
gamping (karst) dengan penggunaan lahan perikanan dan pariwisata. Indeks
Kerentanan Kepesisiran (CVI) Baron sedang dan kerentanan masyarakat wilayah
kepesisiran sedang. Kelima modal penghidupan berimbang. Rata-rata tujuh
kebijakan yang dirasakan oleh masyarakat dan strategi penghidupan masyarakat
yaitu dominan yaitu ekstensifikasi dan kerja tambahan. Kehidupan dan
penghidupan masyarakat wilayah kepesisiran memiliki modal berupa spiritual
transcendental dan kearifan lokal hamemayu hayuning bawana yang dilakukan
dengan upaya menjaga lingkungan.
Studi penghidupan masyarakat berkelanjutan
berbasis tipologi dan karakteristik wilayah kepesisiran ini berkontribusi pada
pengelolaan wilayah kepesisiran secara terpadu, khususnya di Daerah Istimewa
Yogyakarta. Penelitian ini menekankan pentingnya menyelaraskan analisis
penghidupan berkelanjutan berbasis aspek lokasi fisik dan sosio-ekonomi
masyarakat dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Coastal communities are highly
dependent on natural resources found in the interface between land and sea.
Sustainable Livelihood Approach (SLA) is employed to understand livelihood
strategies and to enhance community well-being. This study aims to: (1) identify
the typology and characteristics of coastal areas in the Special Region of
Yogyakarta or Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY); (2) analyze vulnerability based on the typology and
characteristics of coastal areas in DIY, including (a) the vulnerability of
coastal areas (Coastal Vulnerability Index) and (b) the vulnerability of coastal
communities; and (3) evaluate sustainable livelihoods based on the typology and
characteristics of coastal
areas in DIY, including (a) analyzing the livelihood assets of coastal
communities, (b) analyzing coastal-related policies, and (c) analyzing
livelihood strategies of coastal communities. A quantitative research design
was employed using a survey method. Primary data were collected from 283
households in Trisik, Parangtritis, and Baron coastal areas. A qualitative
approach was also applied through in-depth interviews with eight community
leaders to obtain insights into spiritual-transcendental values and local
wisdom, hamemayu hayuning bawana, in the Special Region of Yogyakarta coastal
region. Primary data collection was further supported by field observations,
while secondary data included digital elevation models, satellite imagery, and
statistical data. Survey data were analyzed using the Principal Component
Analysis (PCA) method in Stata 17 software. Coastal vulnerability analysis
applied the Gornitz equation to calculate the Coastal Vulnerability Index
(CVI).
The findings indicate that the
Trisik coastal area is characterized by a marine deposition coast typology with
sand as the dominant material and land uses including agriculture, fisheries,
settlement, and tourism. The CVI indicates a high level of coastal
vulnerability, with the highest degree of community vulnerability among the
study sites. Livelihood assets in Trisik are dominated by human and financial
capital, with community perceptions reflecting an average of nine relevant
government policies. The main livelihood strategies observed are
intensification and supplementary work. The Parangtritis coastal
area—particularly Depok Beach—has a marine deposition coast typology, with sand
as the primary material and land uses dominated by fisheries and tourism.
Parangkusumo Beach is characterized by an aeolian coast typology with sand as
the main material and land use
focused on dune tourism, while Parangtritis Beach features a primary
structurally shaped coast typology in the eastern section and marine deposition
coast elsewhere, with sand as the main material and land use dominated by settlements
and tourism. The CVI for Parangtritis indicates a moderate level of
vulnerability, with the lowest community vulnerability among the sites. Social
capital is the dominant livelihood asset, with community perceptions averaging
four relevant policies, and diversification of economic activities as the
primary livelihood strategy. The Baron coastal area exhibits a primary land
erosion coast typology and secondary wave erosion and marine deposition coasts,
with limestone (karst) as the main material and land use focusing on fisheries
and tourism. The CVI for Baron also indicates a moderate level of coastal and
community vulnerability, with livelihood assets evenly distributed across all
five capitals. The community perceives an average of seven related policies,
and the dominant livelihood strategies are extensification and supplementary
work. Overall, the livelihoods of coastal communities are supported by
spiritualtranscendental assets and the local wisdom of hamemayu hayuning
bawana, manifested through environmental stewardship efforts. This study on
sustainable livelihoods based on coastal typology and characteristics
contributes to integrated coastal zone management, particularly in the Special
Region of Yogyakarta. It highlights the importance of aligning sustainable
livelihood analysis with both the physical and socioeconomic dimensions of
coastal communities to support poverty alleviation efforts.
Kata Kunci : penghidupan keberlanjutan, tipologi dan karakteristik, wilayah kepesisiran,sustainable livelihood, coastal, typology