Ajrih Asih Sebagai Makna Arsitektur Pusaka di Kompleks Van Lith Muntilan Magelang -Jawa Tengah
Rosalia Rachma Rihadiani, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng.Ph.D.IPU, Dr.Eng.Ir. Laretna Trisnantari, M.Arch.
2026 | Disertasi | S3 Teknik Arsitektur
Disertasi ini mengungkap Ajrih
Asih sebagai makna arsitektur pusaka melalui pendekatan fenomenologi
transendental. Penelitian dilakukan di Kompleks Van Lith Muntilan, Jawa Tengah,
sebuah kawasan pendidikan Katolik yang berusia lebih dari satu abad dan menjadi
simbol keterpaduan antara pendidikan, religiositas, dan kebersamaan sosial.
Kesadaran awal penelitian ini bertumpu pada pandangan bahwa pelestarian
arsitektur pusaka tidak berhenti pada bentuk dan material, melainkan berakar
pada nilai-nilai hidup yang membentuk relasi manusia, ruang, dan alam. Penelitian
ini bertujuan menyingkap struktur makna yang menghidupi arsitektur pusaka Van
Lith sebagai bentuk kesadaran kultural dan spiritual masyarakatnya. Pendekatan
fenomenologi transendental digunakan untuk menelusuri intensionalitas
pengalaman melalui tahapan epoché, horizontalisasi, reduksi
eidetik, dan sintesis makna. Proses ini dimaksudkan untuk menanggalkan
prasangka teoretis dan menemukan esensi pengalaman murni sebagaimana dihayati
oleh subjek.
Pada tataran empiris, penelitian
ini menelusuri dua belas unit amatan yang diperoleh dari observasi lapangan,
wawancara mendalam, dan telaah arsip. Dua belas unit tersebut meliputi fenomena
ruang, fungsi, sistem bangunan, serta pengalaman spiritual yang terkait dengan
kawasan. Melalui reduksi eidetik, dua belas unit amatan tersebut diringkas
menjadi delapan tema esensial yang merepresentasikan hubungan antara manusia,
aktivitas, dan lingkungan dalam kesadaran ruang pusaka. Delapan tema esensial
kemudian disintesiskan menjadi tiga konsep utama, yaitu: (1) Membangun
Peradaban Baru, yang memuat semangat pelayanan, pendidikan, dan keteguhan
nilai; (2) Kelenturan Tata Kelola Kompleks, yang menandai kemampuan kawasan
menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan identitas; dan (3)
Kemenerusan Keberadaan Arsitektur, yang mencerminkan keberlanjutan nilai
spiritual, fungsi sosial, dan relasi ekologis ruang. Ketiga konsep tersebut
menjadi struktur dasar bagi terumuskannya Ajrih Asih sebagai makna
arsitektur pusaka. Ajrih menandai sikap hormat, kesadaran batas, dan
disiplin terhadap tatanan hidup; sedangkan Asih mencerminkan welas asih,
empati, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan. Keduanya membentuk
keseimbangan antara keteguhan dan kelembutan, antara sakralitas dan
kebersamaan. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa arsitektur pusaka bukan
hanya warisan fisik, melainkan laku etis dan spiritual yang diwariskan melalui
tindakan dan kesadaran kolektif. Ajrih Asih menjadi teori lokal yang
lahir dari perjumpaan kearifan Jawa dan spiritualitas Katolik, memperlihatkan
proses akulturasi yang melahirkan kesadaran ruang yang inklusif dan
berkelanjutan. Secara teoretis, penelitian ini memperluas wacana pelestarian
arsitektur dengan pendekatan fenomenologis yang menekankan makna dan
intensionalitas ruang. Secara praktis, Ajrih Asih menjadi dasar
konseptual bagi desain dan pelestarian arsitektur pusaka yang berorientasi pada
kehidupan, kebersamaan, dan keberlanjutan.
This
dissertation reveals Ajrih Asih's understanding of heritage architecture
through a transcendental-phenomenological approach. The research was conducted at
the Van Lith Muntilan Complex in Central Java, a Catholic educational
institution that is more than a century old and has become a symbol of the
integration of education, religiosity, and social cohesion. The initial
awareness of this research rests on the view that the preservation of heritage
architecture extends beyond form and material, and is rooted in the values of
life that shape the relationship among humans, space, and nature. This research
aims to reveal the structure of meaning that supports Van Lith's heritage
architecture as a form of cultural and spiritual awareness of his people. A transcendental-phenomenological
approach is used to trace the intentionality of experience through the stages
of epoché, horizontalization, eidetic reduction, and the synthesis of meaning.
This process is intended to strip away theoretical prejudices and find the
essence of pure experience as lived by the subject.
At the
empirical level, this study draws on 12 units of observation from fieldwork,
in-depth interviews, and archival research. The twelve units cover spatial
phenomena, functions, building systems, and spiritual experiences related to
the area. Through eidetic reduction, the twelve units of observation are distilled
into eight essential themes that capture the relationships among people,
activities, and the environment within the consciousness of the heritage space.
The eight essential themes are then synthesized into three main concepts,
namely: (1) Building a New Civilization, which contains the spirit of service,
education, and constancy of values; (2) Site Governance Flexibility, which
marks the region's ability to adapt to changes without losing identity; and (3)
Continuity of Architectural Existence, which reflects the sustainability of
spiritual values, social functions, and ecological relations of space. These
three concepts served as the basis for defining Ajrih Asih as the
meaning of heritage architecture. Fear signifies respect, awareness of
boundaries, and discipline towards the order of life, while Asih
reflects compassion, empathy, and concern for others and the environment. Both
form a balance between firmness and tenderness, between sacredness and
togetherness. The findings of this study confirm that heritage architecture is
not merely physical heritage, but an ethical and spiritual practice inherited
through collective action and awareness. Ajrih Asih is a local theory
born from the encounter of Javanese wisdom and Catholic spirituality, showing
the process of acculturation that gives birth to an inclusive and sustainable
awareness of space. Theoretically, this study expands the discourse on architectural
preservation with a phenomenological approach that emphasizes the meaning and
intentionality of space. Practically, Ajrih Asih serves as the
conceptual basis for the design and conservation of architecture oriented
towards life, togetherness, and sustainability.
Kata Kunci : Ajrih Asih, arsitektur pusaka, fenomenologi transendental, Van Lith Muntilan, makna ruang.