EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF DARI MENINGIOMA ORBITOKRANIAL YANG DIRAWAT DI RSUP DR. SARDJITO, YOGYAKARTA
Ayulella Gita Pamenang, Dr. dr. Purjanto Tepo Utomo, Sp. M(K). ; dr. Banu Aji Dibyasakti, Sp.M.
2025 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang : Meningioma merupakan tumor intrakranial yang berasal dari aktivitas neoplasma sel meningothelial atau sel arachnoid yang terdapat di otak maupun sumsum tulang belakang. Salah satu jenis dari meningioma adalah meningioma orbitokranial. Meningioma orbitokranial merupakan tumor yang berasal dari meninges yang melibatkan struktur kranium/tulang tengkorak dan orbita/rongga mata. Penyakit meningioma orbitokranial ini dapat membawa beberapa dampak pada penderitanya, antara lain gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur, penglihatan ganda, hilangnya kemampuan penglihatan, dan proptosis atau mata terlihat menonjol. Selain itu, dapat juga terjadi gangguan neurologis, gangguan otot mata, perubahan bentuk wajah, dan tentunya perasaan tidak nyaman bagi pasien. Untuk data di Indonesia sendiri, masih sulit untuk menemukan jurnal maupun artikel yang memuat data meningioma di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Dilakukannya pengkajian kejadian meningioma dengan epidemiologi deskriptif dapat membantu memberikan gambaran mengenai tren kejadian meningioma, khususnya di Yogyakarta sehingga kedepannya dapat menjadi bahan pertimbangan dikembangkannya kegiatan penanganan dan pengobatan terhadap meningioma orbita yang lebih baik bagi pasien.
Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran klinis pasien meningioma orbitokranial di RSUP Dr. Sadjito Yogyakarta yang terdiagnosis pada tahun 2023.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-sectional deskriptif analitik untuk mengetahui gambaran klinis dan sosiodemografi pasien meningioma orbitokranial di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang tercata dalam rekam medis telat berobat di Unit Rawat Jalan dan Unit Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dan terdiagnosis meningioma orbitokranial pada tahun 2023.
Hasil: Sebanyak 55 pasien dengan diagnosis meningioma orbitokranial memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis dalam penelitian ini. Berdasarkan karakteristik demografi, mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 48 pasien (87,3%). Rerata usia pasien adalah 46,9 tahun dengan rentang usia antara 3 hingga 77 tahun. Kelompok usia terbanyak adalah usia 41–50 tahun, yaitu sebanyak 31 pasien (56,4%). Berdasarkan keluhan klinis awal, gejala yang paling sering dikeluhkan pasien adalah pandangan kabur sebanyak 22 pasien (40%). Hasil pemeriksaan pencitraan menunjukkan bahwa sebagian besar lesi melibatkan area spheno-orbital. Temuan hiperostosis tulang orbita dan basis kranii merupakan karakteristik radiologis yang paling sering dijumpai. Berdasarkan hasil patologi anatomi pada pasien yang menjalani pembedahan, mayoritas kasus tergolong meningioma WHO Grade I, dengan subtipe meningothelial sebagai tipe histopatologi yang paling banyak ditemukan. Terkait tatalaksana, sebagian besar pasien menjalani tindakan operatif sebagai terapi utama, terutama pada kasus dengan gejala klinis progresif dan keterlibatan struktur vital. Sebagian kecil pasien menjalani observasi klinis dan radiologis, khususnya pada lesi dengan ukuran kecil dan gejala minimal.
Kesimpulan: Kasus meningioma orbitokranial di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta paling sering ditemukan pada perempuan usia paruh baya, khususnya kelompok usia 41–50 tahun. Manifestasi klinis utama berupa gangguan penglihatan dan proptosis mencerminkan keterlibatan struktur orbita dan saraf optik. Temuan radiologis yang dominan meliputi keterlibatan spheno-orbital dan hiperostosis tulang. Tatalaksana operatif merupakan pendekatan yang paling banyak dilakukan, terutama pada pasien dengan gejala progresif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran epidemiologi lokal serta menjadi dasar pertimbangan dalam penegakan diagnosis dan perencanaan tatalaksana meningioma orbitokranial.
Background: Meningioma is an intracranial tumor that originates from the neoplastic activity of meningothelial cells or arachnoid cells found in the brain and spinal cord. One type of meningioma is orbitocranial meningioma. Orbitocranial meningioma is a tumor originating from the meninges that involves the cranial structure and orbit. Orbitocranial meningioma can cause several impacts on sufferers, including visual impairment, such as blurred vision, double vision, loss of vision, and protruding eyes. In addition, it can also cause nerve disorders, eye muscle disorders, facial changes, and of course, discomfort for the patient. For data in Indonesia itself, it is still difficult to find journals or articles containing data on meningiomas in Indonesia, especially in Yogyakarta. Conducting a descriptive epidemiological study of meningioma incidence can help provide an overview of meningioma incidence trends, especially in Yogyakarta, so that in the future it can be used as a consideration for developing better management and treatment for orbital meningioma for patients.
Objective: This study was conducted to determine the clinical features of orbitocranial meningioma patients at Dr. Sadjito General Hospital Yogyakarta who were diagnosed in 2023.
Method: This study was a descriptive observational study with a descriptive analytical cross-sectional design to determine the clinical and sociodemographic features of orbitocranial meningioma patients at Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta. The sample in this study was all patients recorded in the medical records who were late for treatment at the Outpatient Unit and Inpatient Unit at Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta and diagnosed with orbitocranial meningioma in 2023.
Results: A total of 55 patients diagnosed with orbitocranial meningioma met the inclusion criteria and were analyzed in this study. Based on demographic characteristics, the majority of patients were female (87.3%). The average age of patients was 46.9 years, with an age range of 3 to 77 years. The largest age group was 41–50 years, with 31 patients (56.4%). Based on initial clinical complaints, the most common symptom was blurred vision in 22 patients (40%). Imaging examination results showed that most lesions involved the spheno-orbital area. Hyperostosis of the orbital bones and skull base was the most common radiological characteristic. Based on the anatomical pathology results in patients who underwent surgery, the majority of cases were classified as WHO Grade I meningioma, with the meningothelial subtype being the most common histopathological type. Regarding management, most patients underwent surgery as the primary therapy, especially in cases with progressive clinical symptoms and involvement of vital structures. A small proportion of patients undergo clinical and radiological observation, particularly in lesions with small size and minimal symptoms.
Conclusion: Orbitocranial meningioma cases at Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta, are most frequently found in middle-aged women, particularly those aged 41–50 years. The main clinical manifestations are visual impairment and proptosis, reflecting involvement of the orbital structures and optic nerve. Dominant radiological findings include spheno-orbital involvement and bony hyperostosis. Operative management is the most common approach, especially in patients with progressive symptoms. The results of this study are expected to provide a local epidemiological overview and serve as a basis for consideration in establishing the diagnosis and planning the management of orbitocranial meningioma.
Kata Kunci : epidemiologi, meningioma orbitokranial, RSUP Dr. Sardjito