Laporkan Masalah

Eksplorasi Drug Related Problems (DRPs) yang Ditemukan Apoteker dan Strategi Penanganannya pada Terapi Pasien Hipertensi di Puskesmas Daerah Istimewa Yogyakarta

Rahmatunisah, Prof. Dr. apt Nanang Munif Yasin, M.Pharm.

2026 | Skripsi | FARMASI

Hipertensi merupakan penyakit kronis dengan prevalensi tinggi di Indonesia yang menjadi penyebab utama komplikasi kardiovaskular. Namun,terapi jangka panjang dan penggunaan polifarmasi meningkatkan risiko Drug Related Problems (DRPs). Apoteker di Puskesmas berperan penting dalam identifikasi dan penanggulangan DRPs, namun kajian terkait temuan dan strategi yang dilakukan di layanan primer masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kejadian DRPs yang ditemukan Apoteker, peran dan strategi penanganannya, serta gambaran hambatan dan peluang dalam menangani DRPs pada pasien hipertensi di Puskesmas Daerah Istimewa Yogyakarta.

Desain penelitian yang digunakan yaitu studi campuran kuantitatif deskriptif dan kualitatif eksploratif pada 10 Apoteker di 10 Puskesmas Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Januari – Februari 2026. Metode pengambilan data kuantitatif pada 10 Apoteker dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner google form melalui WhatsApp. Selanjutnya, responden kualitatif dipilih dengan teknik purposive sampling berdasarkan hasil data kuantitatif. Responden kualitatif dilakukan wawancara berdasarkan pedoman wawancara mengenai peran, strategi penanganan DRPs serta hambatan dan peluang apoteker. Kemudian, dilakukan analisis data kuantitatif secara deskriptif sederhana serta analisis data kualitatif secara tematik dengan metode Braun dan Clarke.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa DRPs yang paling sering ditemukan adalah ketidakpatuhan pasien (100%; 10 dari 10 responden) dan reaksi obat tidak diinginkan (90%; 9 dari 10 responden), dengan temuan kualitatif tambahan berupa kesalahan dosis pada sistem elektronik. Strategi utama apoteker adalah edukasi preventif dan kolaboratif dengan dokter. Hambatan utama ditemukan pada keterbatasan kompetensi dan beban kerja yang tinggi akibat posisi apoteker tunggal (90%; 9 dari 10 responden), sedangkan peluang muncul dari kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan tingginya harapan pengembangan kompetensi klinis apoteker. Validitas data kuantitatif dijaga melalui expert judgement (dosen penguji) dan validitas data kualitatif dijaga dengan triangulasi sumber serta member check dengan responden. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi nyata bagi apoteker dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan mutu terapi dan keselamatan pasien di layanan primer.

Hypertension is one of the chronic diseases with high prevalence in Indonesia, which is the main cause of cardiovascular complications. However, long-term therapy and the use of combination drugs increase the risk of Drug Related Problems (DRPs). Pharmacists at primary health centers play an important role in identifying and managing DRPs, but studies related to findings and strategies carried out in primary care is still limited. Therefore, this study aims to explore the forms of DRPs in hypertensive patients and the strategies used by pharmacists at the Special Region Of Yogyakarta Community Health Center to manage them.

The research design used was a mixed descriptive quantitative and exploratory qualitative study of 10 pharmacists at 10 community health centers in the Special Region of Yogyakarta in January–February 2026. Quantitative data collection from the 10 pharmacists was conducted by distributing a Google Form questionnaire via WhatsApp. Furthermore, qualitative respondents were selected using purposive sampling based on the quantitative data results. Qualitative respondents were interviewed based on interview guidelines regarding the role, DRP management strategies, and obstacles and opportunities for pharmacists. Then, simple descriptive quantitative data analysis and thematic qualitative data analysis were performed using the Braun and Clarke method.

The results of the study show that the most common DRPs found were patient noncompliance (100%; 10 out of 10 respondents) and adverse drug reactions (90%; 9 out of 10 respondents), with additional qualitative findings of dosing errors in the electronic system. The main strategies of pharmacists are preventive and collaborative education with doctors. The main obstacles found are limited competence and high workload due to the position of sole pharmacist (90%; 9 out of 10 respondents), while opportunities arise from the Primary Care Integration (ILP) policy and high expectations for the development of pharmacists' clinical competence. The validity of quantitative data was maintained through expert judgment (examiner lecturers) and the validity of qualitative data was maintained through triangulation of sources and member checks with respondents. The results of this study are expected to form the basis for concrete recommendations for pharmacists and policymakers to improve the quality of therapy and patient safety in primary care. 

Kata Kunci : Hipertensi, drug related problems, apoteker, puskesmas, strategi penanganan

  1. S1-2026-494984-abstract.pdf  
  2. S1-2026-494984-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-494984-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-494984-title.pdf