UPAYA REKONSILIASI KONFLIK DI DESA MAREJE, KECAMATAN LEMBAR KABUPATEN LOMBOK BARAT
Mariam Supiati, Diah Kusumaningrum, S.I.P ., M.A., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional
Konflik yang terjadi antara dua dusun di Desa Mareje, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat merupakan manifestasi dari konflik konflik laten yang berakar pada pemusatan peran sosial, ketimpangan akses ekonomi, dan pengaruh politik pada figur tertentu. Hal ini kemudian mendorong terciptanya ketimpangan yang bersifat struktural dan memicu munculnya kecemburuan sosial dan prasangka di kalangan sebagian warga masyarakat. Pasca peristiwa pembakaran rumah di Dusun Ganjar, butuh waktu kurang lebih satu bulan untuk masyarakat kembali hidup berdampingan. Kenyataan ini tidak menjadikan trauma yang dialami korban hilang dan hubungan yang retak akibat konflik kembali seperti semula saat sebelum konflik. Oleh sebab itu, dalam rangka mengembalikan kembali kondisi kerukunan dan perdamaian di Desa Mareje perlu upaya rekonsiliasi. Penelitian ini hendak menguraikan bagaimana upaya dan apakah hasil dari rekonsiliasi konflik antara Dusun Bangket Lauk dan Dusun Ganjar berkontribusi pada situasi perdamaian antara kedua belah pihak. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif untuk menganalisis bagaimana upaya rekonsiliasi konflik yang telah dilakukan di Mareje, dan bagaimana kontribusinya terhadap perdamaian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa upaya rekonsiliasi di Mareje terjadi dalam dua tahapan yakni melalui mekanisme kearifan lokal gawe rapah dan rekonsiliasi sehari-hari. Gawe rapah sendiri berhasil menjadi ruang pertemuan sekaligus simbol kerukunan masyarakat. Sementara itu, rekonsiliasi sehari-hari berhasil menjadikan Mareje sebagai desa sadar kerukunan dan berhasil merubah sikap dan perilaku masyarakat.
The conflict that occurred between two hamlets in Mareje Village, Lembar Subdistrict, West Lombok Regency was a manifestation of latent conflicts rooted in the concentration of social roles, economic inequality, and political influence on certain figures. This then led to structural inequality and triggered social jealousy and prejudice among some members of the community. After the burning of houses in Ganjar Hamlet, it took approximately one month for the community to return to living side by side. This reality did not erase the trauma experienced by the victims, nor did it restore the relationships that had been damaged by the conflict to their pre-conflict state. Therefore, in order to restore harmony and peace in Mareje Village, reconciliation efforts are needed. This study aims to describe how the reconciliation efforts between Bangket Lauk Hamlet and Ganjar Hamlet contributed to peace between the two parties. The author uses a qualitative method with descriptive analysis to analyze how conflict reconciliation efforts have been carried out in Mareje and how they have contributed to peace. The results of this study indicate that reconciliation efforts in Mareje occurred in two stages, namely through the local wisdom mechanism of gawe rapah and daily reconciliation. Gawe rapah itself succeeded in becoming a meeting place and a symbol of community harmony. Meanwhile, daily reconciliation succeeded in making Mareje as a village that aware of harmony and succeeded in changing the attitudes and behavior of the community.
Kata Kunci : Konflik, Rekonsiliasi, Kearifan Lokal, Perdamaian