Mitigasi produksi metana (CH4) Enterik pada ruminansia melalui penambahan rumput laut sebagai aditif pakan
Nur Hidayah, Prof. Dr. Ir. Kustantinah, DEA; Ir. Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M.Anim.St., Ph.D., IPM., ASEAN Eng; Ir. Andriyani Astuti, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu Peternakan
Penelitian dilakukan dalam tiga tahap untuk mengeksplorasi potensi rumput laut sebagai aditif pakan untuk mengurangi emisi metana (CH?) pada ternak ruminansia. Tujuannya adalah untuk (1) mengidentifikasi komposisi kimia—termasuk profil nutrien dan metabolit sekunder—dan mengevaluasi produksi gas in vitro rumput laut tunggal; (2) mengevaluasi efek penambahan rumput laut dalam berbagai pakan basal (rumput gajah dan Total Mixed Ration/TMR) melalui fermentasi in vitro; dan (3) mengevaluasi in vivo efek penambahan rumput laut dalam pakan TMR terhadap emisi CH? dan kinerja rumen pada ternak ruminansia. Delapan spesies rumput laut alami dikumpulkan dari Pantai Drini dan Sepanjang, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia untuk dievaluasi. Rumput laut tersebut terdiri atas tiga spesies rumput laut hijau (Chaetomorpha linum (O.F.Mull.) Kutz, Enteromorpha compressa, dan Cladopora sp.) dan 5 spesies rumput laut merah (Gelidium spinosum (S.G.Gmelin) P.C.Silva, Hypnea pannosa, Acanthopora muscoides (L.) Bory, Gelidium amansii (J.V.Lamouroux), dan Palisada perforata (Bory) K.W.Nam). Hasilnya menunjukkan bahwa rumput laut C. Linum, E. Compressa, A. spicifera, dan P. perforata memiliki komponen mudah larut, flavonoid, fenol, dan tannin yang lebih tinggi serta produksi CH4 yang rendah sehingga berpotensi sebagai agen penurun produksi CH4 ternak ruminansia. Evaluasi in vivo menggunakan kambing Kacang menunjukkan bahwa penambahan P. perforata pada 5,00?han organik (BO) dalam pakan basal TMR (60% rumput gajah dan 40% konsentrat) menunjukkan hasil yang paling menjanjikan. Perlakuan ini menghasilkan pengurangan terbesar dalam emisi CH? dan populasi protozoa, sekaligus meningkatkan karakteristik fermentasi rumen, asupan dan kecernaan nutrien, keseimbangan nitrogen, total asam lemak terbang (VFA), proporsi propionat, sintesis protein mikroba, kadar glukosa dan zat besi, dan jumlah sel darah merah. Hal ini juga menghasilkan proporsi asetat yang lebih rendah, rasio asetat terhadap propionat, perhitungan emisi CH?, dan kadar sel darah putih, limfosit, monosit, dan neutrofil. Kesimpulannya yaitu penambahan P. perforata pada 5,00% BO dalam TMR yang terdiri dari 60% rumput gajah dan 40% konsentrat menyajikan strategi yang menjanjikan untuk meningkatkan produktivitas ruminansia sekaligus mengurangi dampak lingkungan melalui pengurangan emisi metana enterik
This study was conducted in three stages to explore the potential of seaweed as a dietary additive for reducing enteric methane (CH?) emissions in ruminants. The objectives were: (1) to identify the chemical composition—including nutrient profiles and secondary metabolites—and evaluate in vitro gas production of single seaweed species; (2) to assess the effect of seaweed inclusion in different basal diets (Napier grass and Total Mixed Ration/TMR) through in vitro fermentation; and (3) to evaluate in vivo the impact of seaweed supplementation in TMR diets on CH? emission and rumen performance in ruminants. Eight seaweed species, naturally collected from Drini and Sepanjang beaches in Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia, were evaluated. These included three green algae (Chaetomorpha linum (O.F. Mull.) Kütz, Enteromorpha compressa, and Cladophora sp.) and five red algae (Gelidium spinosum (S.G. Gmelin) P.C. Silva, Hypnea pannosa, Acanthopora muscoides (L.) Bory, Gelidium amansii (J.V. Lamouroux), and Palisada perforata (Bory) K.W. Nam). The results showed that C. linum, E. compressa, A. muscoides, and P. perforata demonstrated higher levels of soluble components, flavonoids, and tannins, as well as significantly lower in vitro CH? production, indicating their potential as methane-reducing agents. In vivo trials using Kacang goats revealed that inclusion of P. perforata at 5.00% organic matter (OM) in a TMR diet (60% Napier grass and 40% concentrate) yielded the most promising results. This treatment led to the greatest reductions in CH? emissions and protozoa populations, while improving rumen fermentation characteristics, nutrient intake and digestibility, nitrogen balance, total volatile fatty acids (VFA), propionate proportion, microbial protein synthesis, glucose and iron levels, and red blood cell counts. It also resulted in lower acetate proportion, acetate-to-propionate ratio, predicted CH? emissions, and levels of white blood cells, lymphocytes, monocytes, and neutrophils. In conclusion, supplementation of P. perforata at 5.00% OM in a TMR composed of 60% Napier grass and 40% concentrate presents a promising strategy to enhance ruminant productivity while mitigating environmental impact through reduced enteric methane emissions.
Kata Kunci : aditif pakan, karakteristik fermentasi, mitigasi metana, rumput laut