ASPEK KETENAGAKERJAAN PADA INDUSTRI PERTUKANGAN KAYU DIDESA TEMUWUH (Studi Kasus Di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta)
LINNA ELFI KADARSIH, Ir. H. Djoko Suharno Radite, M.S
2003 | Skripsi | S1 KEHUTANANMasalah yang dihadapai industri pertukangan kayu di pedesaan adalah kontinuitas bahan baku, tersedianya tenaga terampil, permodalan dan pemasaran produk. Penelitian di industri pertukangan kayu di Desa Temuwuh, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul selama bulan November sampai Desember 2002 bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi, kualifikasi tenaga kerja, cara pengupahan dan struktur pendapatan tenaga kerja, besamya penyerapan tenaga keija dan mencari altematif pengembangan industri pertukangan kayu tersebut. Metode analisis data adalah deskriptif terhadap sampel industri pertukangan kayu yang dibagi menjadi Industri Daun Pintu (472 unit) dan Industri Mebel Kayu (322 unit ). Pengambilan sampel dilakukan secara random sebanyak 25 unit sampel untuk masing-masing industri. Cara pengambilan data adalah dengan wawancara dan kuisioner, yang meliputi keadaan sosial ekonomi tenaga keija dan pengusaha, kualifikasi tenaga kerja, cara pengupahan, pengadaan bahan baku dan pemasaran produk . Tenaga keija pada industri pertukangan umumnya tenaga keija laki-laki, berumur lebih dari 20 tahun (84%), dengan kondisi sosial ekonomi rendah, dan didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (50%). Tenaga kerja dikualifikasi menjadi tenaga terampil (62%) dan tenaga pemula (38%). Cara pengupahan tenaga keija adalah upah harian dan upah borongan. Upah tenaga terampil secara borongan pada industri daun sebesar Rp. 500.000,- sampai Rp. 625.000,- per bulan, sedangkan industri mebel kayu sebesar Rp. 700.000,- sampai Rp. 1.125.000,- per bulan. Dibandingkan dengan UMP Kabupaten Bantul (Rp. 360.000,-/bulan) pendapatan per bulan tenaga kerja borongan sudah berada di atas UMP, sedangkan tenaga keija harian masih ada sebagian yang berada di bawah UMP (10%). Jumlah tenaga keija yang terserap pada industri daun pintu sebanyak 892 orang sedangkan pada industri mebel kayu sebanyak 573 orang. Altenatif pengembangan industri pertukangan kayu di arahkan untuk mengubah pola pikir masyarakat yang kurang berkembang, juga masalah kesejahteraan tenaga kerja yang masih kurang, kualitas produk yang kurang standar dan tenaga keija yang kurang terampil kemampuannya, desain produk yang masih sederhana dan pemasaran produk masih labil.
Kata Kunci : Ketenagakerjaan, Pertukangan Kayu, Penyerapan Tenaga Keija