Peranan kepriwisataan Tawangmangu dalam pembangunan wilayah kabupaten Dati II Karanganyar
Prasetyo Kristianto, Drs. Sujali, M.S.; Drs. Joko Christanto, M.Sc.
1995 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHPembangunan wilayah menempati posisi yang vital dan amat menentukan keberhasilan Pembangunan Nasional, karena itu bagi perencana pembangunan wilayah harus mengoptimalkan berbagai sektor, termasuk dalam hal ini subsektor pariwisata. Peranan kepariwisataan dalam pembangunan wilayah pada garis besarnya berintikan pada tiga segi yaitu segi ekonomi (pendapatan), segi sosial (penciptaan lapangan kerja), segi budaya (memperkenalkan kebudayaan lokal atau obyek wisata kepada wisatawan). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kontribusi pendapatan kepariwisataan dalam Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) Kabupaten Dati II Karanganyar, mengetahui proyeksi kebutuhan tenaga kerja pada industri pariwisata, dan klasifikasi tingkat perkembangan obyek wisata di Tawangmangu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai. Metode penelitian survai merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dan atau data baik secara instansional maupun secara individu. Penelitian ini lebih menitikberatkan pada survai instansional, karena penekanan analisisnya adalah pada analisis data sekunder. Adapun teknik analisisnya dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis kuantitatif yang digunakan meliputi analisa tabel frekuensi, proyeksi tenaga kerja, dan metode skoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan kepariwisataan Tawangmangu memegang peranan yang cukup besar terhadap subsektor pariwisata Kabupaten Dati II Karanganyar. Secara keseluruhan kontribusi pendapatan kepariwisataan terhadap Pendapatan Asli Daerah Sendiri Kabupaten Dati II Karanganyar cukup besar. Sementara itu dari hasil proyeksi, kebutuhan tenaga kerja pada hotel-hotel di Tawangmangu adalah sebesar 8% per tahun pada hotel melati dan 10% per tahun pada hotel berbintang. Kebutuhan tenaga kerja tersebut untuk tenaga kerja langsung di hotel, sementara itu di luar kegiatan ini perkembangan hotel berperanan besar terhadap penyerapan tenaga kerja seperti rumah makan, usaha hiburan, cinderamata, usaha angkutan umum, pedagang buah atau makanan khas daerah setempat, biro perjalanan wisata. Hasil lain dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat perkembangan obyek wisata dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Tingkat perkembangan obyek wisata tinggi berpusat pada tiga simpul yaitu Hutan Wisata Grojogan Sewu, Taman Ria Balekambang, dan Taman Ria Suralaya. Klasifikasi tingkat perkembangan obyek wisata ini ditentukan oleh variabel pendapatan, jumlah pengunjung, jumlah tenaga kerja, luas areal obyek wisata, dan infrastruktur.
-
Kata Kunci : Pariwisata,Pembangunan wilayah