Perbedaan Kadar Urea Saliva pada Anak Stunting dengan Karies dan Anak Tidak Stunting Bebas Karies di Kapanewon Imogiri Kabupaten Bantul (Kajian Awal di Kapanewon Imogiri)
Diva Luthfiana Lathifah, drg. Trianna Wahyu Utami, MDSc., ; Bekti Nur 'aini, S.Kp.G., M.P.H.,
2026 | Skripsi | ILMU KEPERAWATAN GIGI
Karies gigi merupakan penyakit rongga mulut yang bersifat
multifaktorial. Salah satu penyebabnya adalah status gizi. Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yang menyebabkan
terganggunya komponen saliva termasuk kadar urea yang berperan dalam mekanisme buffer dengan meningkatkan pH saliva.
Penelitian ini bertujuan
mengetahui perbedaan kadar urea saliva pada anak stunting dengan karies dan anak tidak stunting bebas karies di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul.
Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional
yang melibatkan enam sampel
anak usia 3-5 tahun yang terdiri dari tiga anak stunting dengan karies dan tiga anak tidak stunting bebas karies. Pengukuran kadar urea dilakukan menggunakan
metode Liquid Chromatography–High
Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS). Analisis statistika yang dilakukan
meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan Independent T-test.
Hasil penelitian menunjukkan rerata luas area urea pada
kelompok anak stunting dengan karies sebesar 1461,67
± 331,90, sedangkan pada kelompok anak tidak
stunting bebas karies 1820,33 ±
750,82. Uji Independent T-test menunjukkan
tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p = 0,491).
Meskipun demikian, kelompok anak tidak stunting
bebas karies memiliki kecenderungan nilai urea yang lebih tinggi.
Temuan ini menunjukkan bahwa kadar urea saliva tidak
berbeda secara signifikan antara kedua kelompok, namun pola peningkatan
kadar pada anak tidak stunting bebas
karies dapat menggambarkan potensi kontribusi urea dalam mekanisme proteksi
terhadap karies.
Dental caries is a multifactorial oral disease. One of
its causes is nutritional status. Stunting is a condition of chronic
malnutrition that causes disruption of saliva components, including urea
levels, which play a role in the buffer mechanism by increasing saliva pH. This study aims to determine the
difference in saliva urea levels in stunted children with caries and
non-stunted children free of caries in Kapanewon Imogiri, Bantul Regency.
The study design used was cross-sectional, involving six
samples of children aged 3-5 years, consisting of three stunted children with
caries and three non-stunted children free of caries. Urea levels were measured
using the Liquid Chromatography–
High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS) method. Statistical analyses
included normality tests, homogeneity tests, and Independent T-test.
The results showed
that the mean urea area in the group of stunted children
with caries was 1461.67 ± 331.90, while
in the group of non-stunted children free of caries
it was 1820.33 ± 750.82. The Independent T-test showed no significant
difference between the two groups (p = 0.491). However, the group of
non-stunted children free of caries tended to have higher urea values. These
findings indicate that the salivary urea levels did not differ significantly
between the two groups, but the pattern of increase in levels in non-stunted
children free of caries may illustrate the potential contribution of urea in
the protective mechanism against caries.
Kata Kunci : Urea, Stunting, Karies