Laporkan Masalah

Model prediksi konversi lahan pertanian ke non pertanian di kec. Kartasura, Baki, Grogol dan Mojolaban 2000-2006

Okto Dear Putra, Drs. Su Ritohardoyo, M.A.

2008 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Fungsi kota Surakarta sebagai pusat pertumbuhan bagian selatan da n timur Jawa Tengah memicu proses urbanisasi yang pesat di kota Surakarta. Jenuhnya lahan perkotaan di wilayah administratif kota Surakarta membuat proses urbanisasi yang terjadi bergeser ke wilayah-wilayah yang berbatasan dengan kota Surakarta dalam bentuk konversi lahan pertanian ke non pertanian. Penelitian ini bertujuan mempelajari konversi lahan pertanian ke non pertanian yang terjadi, memahami pengaruh faktor gaya sentrifugal terhadap luas konversi lahan pertanian, mengungkap model yang menerangkan variasi konversi lahan pertanian dan menyusun implikasi prediktif terhadap rencana tata ruang berdasar model yang diungkap. Penelitian ini menggunakan analisis data sekunder dan analisis peta dengan unit analisis desa-tahun. Luas konversi lahan pertanian dipelajari menggunakan statistik deskriptif teknik tabel silang dan analisis peta. Pengaruh faktor gaya sentrifugal dipahami menggunakan korelasi product moment Pearson dengan memperhatikan variasi nilainya antar wilayah. Pengungkapan model dilakukan. menggunakan analisis regresi panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama tahun 2000-2006 wilayah penelitian mengalami konversi lahan pertanian ke non pertanian seluas 200 ha. Total konversi paling luas terjadi di kecamatan Kartasura, yaitu seluas 86 ha. Kecamatan Mojolaban mengalami total konversi lahan pertanian terkecil, yaitu seluas 31 ha. Distribusi keruangan fenomena konversi lahan pertanian ke non pertanian tidak menunjukkan kecenderungan mendekat ke arah kota Surakarta. Kepadatan penduduk kota Surakarta menunjukkan korelasi positif yang konsisten dengan konversi lahan pertanian ke non pertanian di seluruh unit desa pada tingkat konfidensi 95%. Luas lahan pertanian tahun lalu menunjukkan korelasi yang variatif dengan konversi lahan pertanian ke non pertanian di seluruh unit desa pada tingkat konfidensi 95%. Model konversi lahan pertanian ke non pertanian yang diungkap baru dapat menerangkan 38,67% variasi nilai konversi lahan pertanian yang sekaligus membawa akibat ke masih kurang validnya implikasi prediktif yang dapat diberikan

Surakarta city function as growth centr for southeastern part of Central Java have triggered vast urbanization process within the city. Lack of space for urban area development within Surakarta city causes the urbanization process moves outward to peripheral areas forming agricultural land conversion. This research goals are to study the agricultural land conversion facts, to understand centrifugal forces factor correlation to agricultural land conversion, to reveal a model which explains agricultural land conversion variation and to make predictive implication that might arise to spatial arrangement policy at the study area. This research exerts secondary data analysis and map analysis with analysis unit of village-year. Agricultural land conversion was analyzed using crosstab technique of descriptive statistics and map analysis. Centrifugal forces factor correlation are examined using Pearson product moment correlation with specific focus on its value variation over region. The model are revealed by using panel regression analysis. The research concludes that during the period of 2000 to 2006, the study area had suffered 200 hectares of agricultural land conversion. Largest agricultural land conversion took place at Kartasura district at 86 hectares, while smallest one took place at Mojolaban district at 31 hectares. Agricultural land conversion spatial distribution did not show any proximity to Surakarta city. Surakarta population density demonstrates consistent positive correlation to agricultural land conversion in all region at confidence level of 95%. Agricultural land avaibility demonstrates vary correlation to agricultural land conversion in all region at confidence level of 95%. Revealed agricultural land conversion model can only explains 38,67% of agricultural land conversion variation which implies less valid predictive implications.

Kata Kunci : Model, Perubahan Penggunaan Lahan, Konversi Lahan Pertanian,Model, Land Use Change, Agricultural Land Conversion

  1. S1-2008-150602-abstract.pdf  
  2. S1-2008-150602-bibliography.pdf  
  3. S1-2008-150602-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2008-150602-title.pdf