Cultural Trauma of War and Resilience of Afghan Women in A Thousand Splendid Suns by Khaled Hosseini
Cecilia Ade Natasya, Achmad Munjid, M.A., Ph.D.
2026 | Skripsi | SASTRA INGGRIS
Afghanistan merupakan salah satu negara termiskin di dunia yang kondisinya semakin diperparah oleh perang, yang pada akhirnya menyebabkan trauma kultural dan pada akhirnya menimbulkan penderitaan bagi masyarakat, khusunya perempuan Afghanistan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana perang melahirkan trauma kultural, dampaknya, proses rekonsiliasi, serta resiliensi pada perempuan Afghanistan, khususnya melalui tokoh Laila dan Mariam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menerapkan lay trauma theory oleh Jeffrey Alexander, konsep rekonsiliasi trauma oleh Dominick LaCapra, serta konsep resiliensi oleh Wagnild and Young. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A Thousand Splendid Suns merupakan representasi trauma kultural dalam karya sastra yang disebabkan oleh perang. Dengan menerapkan teori Jeffrey Alexander, peneliti menggunakan elemen-elemen penciptaan trauma sebagai narasi utama untuk mengidentifikasi trauma kultural. Perang menjadi fokus utama penderitaan perempuan Afghanistan sebagai korban konflik. Dampak yang dialami Laila dan Mariam dalam novel meliputi kematian orang terkasih, kerawanan pangan, segregasi rumah sakit, keterbatasan dalam akses pendidikan dan sumber daya kesehatan, pembatasan mobilisasi perempuan, serta kekerasan dalam rumah tangga. Dampak-dampak ini memunculkan manifestasi dari trauma (acting out) yang ditandai dengan mimpi buruk, kilas balik, dan pembunuhan. Secara bertahap, Laila dan Mariam menemukan kedamaian (working through), yang ditandai dengan adanya pasangan untuk bercerita, penerimaan masa lalu, dan sikap optimis terhadap masa depan. Resiliensi dalam tokoh Laila dan Mariam ditandai dengan kesabaran, kegigihan, kemandirian, tujuan dan makna hidup, serta penghargaan terhadap keunikan kehidupan.
Afghanistan is one of the poorest countries in the world, exacerbated by war, which caused cultural trauma that ultimately leads to suffering for the people, especially Afghan women. This research aims to examine how war gives rise to cultural trauma, its impacts, the reconciliation process, and resilience in Afghan women, specifically through the characters of Laila and Mariam. This research uses a qualitative method by applying Jeffrey Alexander’s lay trauma theory, Dominick LaCapra’s concept of trauma reconciliation (acting out and working through), and Wagnild and Young’s concept of resilience. The results show that A Thousand Splendid Suns is a representation of cultural trauma in literary works caused by war. By applying Jeffrey Alexander’s theory, the researcher used the creation of trauma as a new master narrative to identify cultural trauma. The war is the main focus of the suffering of Afghan women who are victims of conflict. The impacts experienced by Laila and Mariam in the novel include the death of loved ones, food insecurity, hospital segregation, limited access to education and health resources, restriction in women’s mobility, and domestic violence. With these impacts came the trauma manifestation (acting out), characterized by nightmares, flashbacks, and killings. Gradually, Laila and Mariam find peace (working through), marked by having a partner to talk to, accepting the past, and being optimistic about the future. Resilience in the characters of Laila and Mariam is characterized by patience, persistence, self-sufficiency, life’s purpose and value, and uniqueness of life.
Kata Kunci : Afghan women, A Thousand Splendid Suns, cultural trauma, reconciliation, resilience, war