Intensitas Serangan Herbivora di Agroekosistem Sawah pada Kawasan Konservasi Burung Hantu, Cancangan, Wukirsari, Daerah Istimewa Yogyakarta
Anisah Qurrotu'Ainii, Mukhlish Jamal Musa Holle, S.Si., M.Env.Sc., D.Phil.
2026 | Skripsi | BIOLOGI
Indonesia adalah negara agraris dimana padi merupakan
komoditas pangan utama, namun agroekosistem sawah menghadapi tantangan dari
berbagai hama yang mengancam hasil panen padi. Burung hantu (Tyto alba)
merupakan salah satu agen pengendalian hayati tikus sawah dan hama lain. Studi
ini bertujuan untuk mengukur dampak kehadiran burung hantu terhadap tingkat
herbivori yang disebabkan oleh hama vertebrata dan hama invertebrata di
ekosistem pertanian padi di Desa Cancangan, Sleman, Yogyakarta. Penelitian
dilakukan di delapan plot sawah dalam kawasan konservasi burung hantu dengan empat
perlakuan berbeda di tiap plot, yaitu kontrol (K), penggunaan jaring/eksklusi
burung hantu (J), penggunaan mulsa/eksklusi tikus sawah (M), dan penggunaan
jaring dan mulsa/eksklusi burung hantu dan tikus (MJ). Variabel yang diukur
meliputi intensitas folivori (serangan vertebrata dan invertebrata pada tanaman
padi) dan intensitas granivori (konsumsi beras) serta pengaruh luas lahan
terhadap pola serangan hama. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak ada efek
signifikan dari perlakuan masing-masing serta pengaruh luas lahan terhadap pola
serangan hama. Sementara itu, analisis regresi linier menunjukkan bahwa luas
lahan tidak secara signifikan mempengaruhi variabel ekologi. Temuan ini
menunjukkan bahwa interaksi burung hantu dan tikus dalam agroekosistem sawah
diatur oleh dinamika multi trofik kompleks. Faktor-faktor seperti laju predasi
yang terbatas, umpan balik ekologi evolusi, struktur lanskap, dan praktik
pertanian lokal mempengaruhi dinamika hama secara lebih signifikan daripada
intervensi predator tunggal. Studi ini menekankan perlunya pendekatan
agroekologi terintegrasi diluar strategi pengendalian biologis terisolasi untuk
mengelola populasi hama secara efektif dan meningkatkan layanan ekosistem dalam
sistem produksi padi.
Indonesia is an agrarian country where rice is the main
food commodity, but the rice agroecosystem faces challenges from various pests
that threaten rice yields. Barn owls (Tyto alba) are one of the
biological control agents for rice field rats and other pests. This study aimed
to assess the effect of barn owl presence on the level of herbivory caused by
vertebrate and invertebrate pests in the rice farming ecosystem of Cancangan
Village, Sleman, Yogyakarta. The research was conducted in eight rice field
plots within a barn owl conservation area with four different treatments in
each plot, namely control (K), use of nets/barn owl exclusion (J), use of
mulch/rice field rat exclusion (M), and use of nets and mulch/barn owl and rat
exclusion (MJ). The variables measured include the intensity of folivory
(vertebrate and invertebrate attacks on rice plants) and the intensity of
granivory (consumption of rice grains), as well as the effect of land area on
pest attack intensity patterns. The Kruskal-Wallis test showed no significant
effect of each treatment and the influence of land area on pest attack
patterns. Meanwhile, linear regression analysis showed that land area did not
significantly affect ecological variables. These findings indicate that the
interaction between owls and rats in rice agroecosystems is regulated by
complex multitrophic dynamics. Factors such as limited predation rates,
evolutionary ecological feedback, landscape structure, and local agricultural
practices have a more significant effect on pest dynamics than single predator
intervention. This study emphasizes the need for integrated agroecological
approaches beyond isolated biological control strategies to effectively manage
pest populations and enhance ecosystem services in rice production systems.
Kata Kunci : Agroekosistem sawah, Burung hantu, Herbivori, Folivori, Granivori / Rice agroecosystem, Owls, Herbivores, Folivores, Granivore