Laporkan Masalah

Aplikasi Penginderaan Jauh untuk kajian persebaran keberadaan desakota kasus daerah kota Cilacap

Winstor Yoistovell Muloke, Drs. Zuharnen, M.S.

2003 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh manfaat sistem penginderaan jauh fotografis dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengetahui persebaran desakota dan mengkaji persebaran keberadaan desakota dan memetakan keberadaan desakota tersebut. Penelitian dilakukan di sebagian wilayah Kabupaten Cilacap, yaitu di Kecamatan Cilacap Selatan, Kecamatan Cilacap Tengah, Kecamatan Cilacap Utara, Kecamatan Kesugihan dan Kecamatan Jeruklegi. Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah foto udara pankromatik berwarna skala 1: 20000 tahun 1999, Foto udara pankromatik berwarna sebagai sumber data utama tersebut diinterpretasi untuk memperoleh peta penggunaan lahan dan peta indikator fasilitas perkotaan, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk menentukan keberadaan desakota daerah penelitian. Untuk mengetahui ketelitian dan kebenaran hasil interpretasi foto udara tersebut, maka dilakukan pengecekan lapangan dengan cara mencocokan hasil interpretasi dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Indikator yang digunakan untuk penentuan desakota dalam penelitian ini adalah indikator yang dikemukakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, yaitu indikator ekonomi berupa persentase rumahtangga tani, indikator demografi yaitu kepadatan penduduk tiap km dan indikator fasilitas perkotaan yang terdiri dari fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, jalan yang dapat dilalui kendaraan roda 3 dan 4, kantor pos dan telekomunikasi, bangunan pasar, kompleks pertokoan, bank, pabrik, gedung bioskop, listrik umum dan rumah makan. Indikator demografi dan ekonomi diperoleh dengan menggunakan data sekunder, sedangkan indikator fasilitas perkotaan diperoleh melalui interpretasi data penginderaan jauh fotografis, kecuali listrik umum dan rumah makan menggunakan data sekunder. Untuk penentuan desakota itu sendiri dilakukan dengan cara pengharkatan ketiga indikator diatas, yang mana apabila nilai keseluruhan pengharkatan suatu area ? 16 maka dikategorikan sebagai desa, apabila memiliki nilai julat antara 17-25 maka dikategorikan sebagai desakota, sedangkan apabila nilainya ? 26, dikategorikan sebagai kota. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan foto udara pankromatik berwarna dalam menyajikan data penggunaan lahan sebesar 88, 73% dan untuk indikator fasilitas perkotaan sebesar 83, 72 %. Setelah dilakukan pengharkatan ketiga indikator, yaitu indikator ekonomi, indikator demografi dan indikator fasilitas perkotaan, maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: wilayah yang berkategori kota adalah Tambakreja, Tegalreja, Sidakaya, Cilacap, Tegalkamulyan, Sidanegara, Gunungsimping dan. Kebonmanis. Sedangkan yang termasuk berkategori sebagai wilayah desakota adalah Lomanis, Donan, Gumilir, Mertasinga, Tritih Kulon dan Karangtalun. Wilayah yang berkategori desa adalah Menganti, Karangkadri, Jengrana, Kuripan Kidul, Tritih Wetan dan Tritih Lor.

The purposes of this research is to know the useful and the rule of aerial photographic and Geographic Information System (GIS) to determine distribution of desakota area and also studying and mapping its existence. The research has been done in the part of Cilacap Regency that covered of District of Cilacap Selatan, Cilacap Tengah, Cilacap Utara, Kesugihan and also Jeruklegi. The main of data source that used in this research is panchromatic colour aerial photograph scale 1: 20,000 of 1999, Panchromatic air photo as main data source interpreted to obtain land use map and urban facilities indicator map, and henceforth used as a base to determine desakota area. To know the detail and the truth of the interpretation result of air photo had done fieldwork by means of crosschecking between interpretation result and real field situation recently. The indicator has been used to determine desakota area in this research is proposed by Indonesia Central Bureau of Statistic i.e. Economic indicator (percentage of peasant household), demographic indicator i.e. population density per kilometer squares, and urban facilities indicator that consisted of Urban facility comprises 16 indicators such as: Education facility, Health Facility, Cinema, accessible road for small-motorized vehicle and car, Telecommunication & Post Office, Market Building, Shopping Complex, Bank, Factory, Food-stall house / Restaurant and Electric line. Economic and demographic indicators had gotten with use secondary data, whereas urban facilities indicator had taken via photographic remote sensing data interpretation. (Except electric line and food-stall house /restaurant was use secondary data). Determination of desakota area itself had done through score manner. It requirements is, first, if totally value score of area is ? 16, it categorized as rural, secondly, if the range value of area between 17 and 25, it categorized as desakota, and, thirdly, if totally value score of area is ? 26, it categorized as urban. The results of research shown detail of panchromatic colour aerial photograph are 88, 73% to land use data and 83, 72 to urban facility indicator. Based on indicator scoring that is economic, demographic and urban facility indicators had obtained the result of research as follow: Kelurahan Tambakreja, Tegalreja, Sidakaya, Cilacap, Tegalkamulyan, Sidanegara, Gunungsimping and Kelurahan Kebonmanis categorized as urban area, while Kelurahan Lomanis, Donan, Gumilir, Mertasinga, Tritih Kulon, Karangtalun categorized as desakota area, and Desa Menganti, Karangkadri, Jengrana, Kuripan Kidul, Tritih Wetan and Tritih Lor categorized as rural area.

Kata Kunci : Persebaran desa kota,Penginderaan jauh,Cilacap,Jawa Tengah

  1. S1-2003-94289-abstract.pdf  
  2. S1-2003-94289-bibliography.pdf  
  3. S1-2003-94289-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2003-94289-title.pdf