Optimasi Perencanaan Sistem Tenaga Listrik Jangka Panjang Menuju Net-Zero Emissions: Studi Kasus di Nusa Tenggara Barat
ELDA ALFANDY, Ir. Lesnanto Multa Putranto, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., SMIEEE.; Prof. Ir. Sarjiya, S.T., M.T., Ph.D., IPU.
2026 | Tesis | S2 Teknik Elektro
Mewujudkan dekarbonisasi mendalam
pada sistem ketenagalistrikan memerlukan pergeseran strategis dari pembangkitan
berbasis fosil menuju pemanfaatan energi baru terbarukan. Di Nusa Tenggara
Barat, ketergantungan terhadap batubara masih cukup kuat, ditunjukkan oleh
keberadaan PLTU 17 MW di Sumbawa Barat serta rencana pembangunan PLTU Bima
FTP-1 berkapasitas 2×10 MW pada tahun 2026 sebagaimana tercantum dalam
RUPTL 2025–2034. Tantangan lainnya adalah ketidakseimbangan antara pusat beban
dan pusat suplai energi, dimana Pulau Lombok merupakan wilayah dengan permintaan
listrik tertinggi, sementara potensi energi terbarukan terbesar justru berada di
Pulau Sumbawa. Kondisi ini menjadikan Sumbawa sebagai wilayah strategis dalam mendukung
percepatan transisi energi dan penguatan ketahanan sistem kelistrikan di Provinsi
Nusa Tenggara Barat. Studi ini mengembangkan model Generation Expansion Planning
menggunakan kerangka OSeMOSYS untuk menganalisis jalur transisi kelistrikan
periode 2026–2050. Enam konfigurasi sistem yaitu BAU dan 100RE pada mode terisolasi
untuk Sumbawa dan Lombok, serta BAU dan 100RE pada mode interkoneksi Sumbawa–Lombok,
dievaluasi berdasarkan kebutuhan investasi, biaya operasi, dan total emisi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 100RE Interconnected memungkinkan tercapainya
dekarbonisasi penuh pada tahun 2050 sekaligus meningkatkan keandalan sistem.
Pada skenario ini, Sumbawa berperan sebagai pusat produksi energi terbarukan yang
menyalurkan hingga 3,769.24 GWh listrik ke Lombok pada tahun 2050, selaras dengan
arah kebijakan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. Selain itu, 100RE Interconnected
menghasilkan nilai LCOE yang lebih rendah sebesar Rp1,290.83/kWh jika dibanding
100RE Isolated melalui transfer energi antar pulau dan peningkatan pemanfaatan
energi terbarukan. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi sistem kelistrikan
antar-pulau merupakan strategi penting dalam percepatan pencapaian target
bauran EBT di Nusa Tenggara Barat.
Achieving deep decarbonization in
the power system requires a strategic shift from fossil-fuel-based generation
toward the utilization of renewable energy sources. In West Nusa Tenggara,
dependence on coal remains significant, as indicated by the operation of a 17
MW coal-fired power plant in West Sumbawa and the planned development of the
Bima FTP-1 coal power plant with a capacity of 2×10 MW in 2026, as
stated in the RUPTL 2025–2034. Another major challenge is the imbalance between
load centers and energy supply centers, where Lombok Island represents the
region with the highest electricity demand, while the largest renewable energy
potential is located on Sumbawa Island. This condition positions Sumbawa as a
strategic region in supporting the acceleration of the energy transition and
strengthening power system resilience in West Nusa Tenggara Province. This
study develops a Generation Expansion Planning model using the OSeMOSYS
framework to analyze power system transition pathways for the period 2026–2050.
Six system configurations are evaluated, namely BAU and 100RE under isolated
operation for Sumbawa and Lombok, as well as BAU and 100RE under interconnected
operation between Sumbawa and Lombok, based on investment requirements, operating
costs, and total emissions. The results indicate that the 100RE Interconnected scenario
enables full decarbonization by 2050 while simultaneously improving system reliability.
Under this scenario, Sumbawa acts as a renewable energy production hub, supplying
up to 3,769.24 GWh of electricity to Lombok in 2050, in line with the policy direction
of the National Electricity General Plan. Furthermore, the 100RE Interconnected
scenario yields a lower LCOE of Rp 1,290.83/kWh compared to the 100RE Isolated
scenario, driven by inter-island energy transfers and higher utilization of
renewable energy resources. These findings emphasize that inter-island power
system integration is a key strategy for accelerating the achievement of
renewable energy targets in West Nusa Tenggara.
Kata Kunci : generation expansion planning, transisi energi, pensiun dini PLTU, integrasi energi terbarukan, strategi interkoneksi.