Teknologi Penanganan Pascapanen Benih Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) Sebagai Upaya Mengurangi Kerusakan Selama Penyimpanan
Nugroho Siswanto, Prof. Dr. Ir. Nursigit Bintoro, M.Sc., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng.; Dr. Joko Nugroho Wahyu Karyadi, S.TP., M.Eng; Dr. Sri Rahayoe, S.TP, MP., IPM. ASEAN Eng., APEC Eng.
2026 | Disertasi | S3 Mekanisasi/Teknik Pertanian
Bawang merah merupakan sayuran yang digunakann sebagai bumbu masakan, hal ini menyebabkan kebutuhan masyarakat semakin meningkat setiap tahunnya. Meningkatnya kebutuhan masyarakat harus dipenuhi dengan peningkatan produksi bawang merah. Kondisi ini menjadikan kebutuhan benih juga semakin meningkat seiring meningkatnya luas tanam untuk pemenuhan produksi. Benih bawang merah berasal dari sebagian hasil panen yang disimpan untuk masa tanam berikutnya. Benih bawang merah selama penyimpanan akan mengalami penurunan kualitas berupa susut bobot/losses dan kerusakan umbi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penanganan pascapanen yang dilakukan oleh petani dalam menjamin ketersediaan benih bawang merah; mempelajari pengaruh pemberian pestisida dan penyinaran UV-C terhadap kualitas benih bawang merah selama penyimpanan; dan menentukan pengaruh konsentrasi oksigen dan suhu ruang penyimpanan menentukan pengaruh konsentrasi oksigen dan suhu ruangan penyimpanan terhadap kualitas bawang merah. Penelitian ini terdiri tiga tahap, yaitu : Tahap 1 (Wawancara petani terkait kegiatan pascapanen bawang merah yang dilakukan KT Ngudi Makmur Parangtritis Bantul dan KT Gombol Rengaspendawa Brebes); tahap 2 (perlakuan pemberian pestisida 4 taraf (kontrol, sistemik, kontak dan kontak + sistemik) dan penyinaran UV-C 4 taraf (kontrol, 2 jam, 7 jam dan 12 jam) dengan 3 kali ulangan, yang disimpan selama 90 hari); tahap 3 (Desain penelitian dengan dua faktor, yaitu konsentrasi O2 yang terdiri dari 3 tingkat (5%, 10%, dan 21%) dan suhu ruang penyimpanan yang terdiri dari 3 tingkat (5ºC, 15ºC, dan 28ºC)). Variabel diamati meliputi jumlah jamur, % kerusakan umbi, % susut bobot, warna umbi (L*, a*, b*, hue*, C*, delta E), kekerasan, TPT, daya tumbuh dan respirasinya. Hasil penelitian tahap 1, penanganan pascapanen bawang merah yang dilakukan petani masih terbatas dan kurang baik, hal ini terlihat dari susut bobot yang mencapai 25-65%; tahap 2, (pemberian pestisida dan penyinaran UV-C dapat menekan perubahan warna umbi 5-7%, variabel jumlah jamur 5 perlakuan masuk orde 1 dan 11 perlakuan masuk orde 0. Untuk % kerusakan umbi dan % susut semua perlakuan masuk orde 0; tahap 3 (Untuk parameter warna, perlakuan T 15°C + 5% O2 memiliki penurunan terkecil pada nilai C*, delta a*, dan peningkatan terkecil pada nilai delta E, sedangkan perlakuan T 5°C + 5% O2 memiliki peningkatan terkecil pada nilai Hue*, delta b*. Perlakuan T 5°C + 5% O2 memiliki penurunan terkecil pada nilai kekerasan (delta kekerasan), yaitu 5°C (115,49-120,70 kgf), 15°C (147,00-153,40 kgf), dan 27°C (157,01-194,47 kgf), serta memiliki peningkatan terkecil pada nilai TPT (delta TPT), yaitu untuk 5°C (2,42-2,87°brix), 15°C (3,18-3,33°brix), dan 27°C (3,57 - 4,02 °brix)). Hasil penelitian dapat disimpulkan, penanganan pascapanen existing petani masih belum optimal karena susut bobotnya masih tinggi berkisar 25-65%; Perlakuan terbaik treatment benih kombinasi pencucian akar + pestisida sistemik + penyinaran UV-C 7 jam; Perlakuan terbaik penyimpanan bawang merah pada ruang atmosfir termodifikasi, yaitu pada suhu 5ºC + 5% O2.Bawang merah merupakan sayuran yang digunakann sebagai bumbu masakan, hal ini menyebabkan kebutuhan masyarakat semakin meningkat setiap tahunnya. Meningkatnya kebutuhan masyarakat harus dipenuhi dengan peningkatan produksi bawang merah. Kondisi ini menjadikan kebutuhan benih juga semakin meningkat seiring meningkatnya luas tanam untuk pemenuhan produksi. Benih bawang merah berasal dari sebagian hasil panen yang disimpan untuk masa tanam berikutnya. Benih bawang merah selama penyimpanan akan mengalami penurunan kualitas berupa susut bobot/losses dan kerusakan umbi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penanganan pascapanen yang dilakukan oleh petani dalam menjamin ketersediaan benih bawang merah; mempelajari pengaruh pemberian pestisida dan penyinaran UV-C terhadap kualitas benih bawang merah selama penyimpanan; dan menentukan pengaruh konsentrasi oksigen dan suhu ruang penyimpanan menentukan pengaruh konsentrasi oksigen dan suhu ruangan penyimpanan terhadap kualitas bawang merah. Penelitian ini terdiri tiga tahap, yaitu : Tahap 1 (Wawancara petani terkait kegiatan pascapanen bawang merah yang dilakukan KT Ngudi Makmur Parangtritis Bantul dan KT Gombol Rengaspendawa Brebes); tahap 2 (perlakuan pemberian pestisida 4 taraf (kontrol, sistemik, kontak dan kontak + sistemik) dan penyinaran UV-C 4 taraf (kontrol, 2 jam, 7 jam dan 12 jam) dengan 3 kali ulangan, yang disimpan selama 90 hari); tahap 3 (Desain penelitian dengan dua faktor, yaitu konsentrasi O2 yang terdiri dari 3 tingkat (5%, 10%, dan 21%) dan suhu ruang penyimpanan yang terdiri dari 3 tingkat (5ºC, 15ºC, dan 28ºC)). Variabel diamati meliputi jumlah jamur, % kerusakan umbi, % susut bobot, warna umbi (L*, a*, b*, hue*, C*, delta E), kekerasan, TPT, daya tumbuh dan respirasinya. Hasil penelitian tahap 1, penanganan pascapanen bawang merah yang dilakukan petani masih terbatas dan kurang baik, hal ini terlihat dari susut bobot yang mencapai 25-65%; tahap 2, (pemberian pestisida dan penyinaran UV-C dapat menekan perubahan warna umbi 5-7%, variabel jumlah jamur 5 perlakuan masuk orde 1 dan 11 perlakuan masuk orde 0. Untuk % kerusakan umbi dan % susut semua perlakuan masuk orde 0; tahap 3 (Untuk parameter warna, perlakuan T 15°C + 5% O2 memiliki penurunan terkecil pada nilai C*, delta a*, dan peningkatan terkecil pada nilai delta E, sedangkan perlakuan T 5°C + 5% O2 memiliki peningkatan terkecil pada nilai Hue*, delta b*. Perlakuan T 5°C + 5% O2 memiliki penurunan terkecil pada nilai kekerasan (delta kekerasan), yaitu 5°C (115,49-120,70 kgf), 15°C (147,00-153,40 kgf), dan 27°C (157,01-194,47 kgf), serta memiliki peningkatan terkecil pada nilai TPT (delta TPT), yaitu untuk 5°C (2,42-2,87°brix), 15°C (3,18-3,33°brix), dan 27°C (3,57 - 4,02 °brix)). Hasil penelitian dapat disimpulkan, penanganan pascapanen existing petani masih belum optimal karena susut bobotnya masih tinggi berkisar 25-65%; Perlakuan terbaik treatment benih kombinasi pencucian akar + pestisida sistemik + penyinaran UV-C 7 jam; Perlakuan terbaik penyimpanan bawang merah pada ruang atmosfir termodifikasi, yaitu pada suhu 5ºC + 5% O2.
Red onions are vegetables used as cooking ingredients, causing demand to increase every year. Consequently, the demand for seeds also increases to meet production needs. Therefore, efforts are needed to ensure the sustainable availability of seeds. During storage, red onion seeds experience a decline in quality in the form of weight loss and bulb damage. This study aims to determine the effectiveness of post-harvest handling carried out by farmers in ensuring the availability of shallot seeds; to examine the effect of pesticide application and UV-C irradiation on the quality of shallot seeds during storage; and to determine the effect of oxygen concentration and storage room temperature on the quality of shallots. This study consisted of three stages, namely: Stage 1 (Interviews with farmers regarding red onion post-harvest activities carried out at KT Ngudi Makmur Parangtritis Bantul and KT Gombol Rengaspendawa Brebes); Stage 2 (treatment with 4 levels of pesticide application (control, systemic, contact, and contact + systemic) and 4 levels of UV-C irradiation (control, 2 hours, 7 hours, and 12 hours) with 3 replicates, stored for 90 days according to farmer practices); Stage 3, which was the best treatment in stage 2, was followed by a two-factor research design, namely O2 concentration consisting of 3 levels (5%, 10%, and 21%) and storage room temperature consisting of 3 levels (5ºC, 15ºC, and 28ºC). The variables observed included the number of fungi, ?mage to tubers, % weight loss, tuber color (L*, a*, b*, hue*, C*, delta E), hardness, TSS, growth rate, and respiration. The results of phase 1 of the study (post-harvest handling of shallots by farmers is still limited and inadequate, both in terms of drying methods after harvesting, drying time, handling before storage, and storage of shallots); Phase 2 (the variable number of fungi in 5 treatments was in order 1 and 11 treatments were in order 0. For % bulb damage and % weight loss, all treatments entered order 0; stage 3 (For color parameters, the T 15°C + 5% O2 treatment had the smallest decrease in C* and delta a* values and the smallest increase in delta E value, while the T 5°C + 5% O2 treatment had the smallest increase in Hue* and delta b* values. The T 5°C + 5% O2 treatment had the smallest decrease in delta hardness, namely 5°C (115,49-120,70 kgf), 15°C (147.00-153.40 kgf), and 27°C (157.01 -194.47 kgf), and had the smallest increase in TSS value (delta TSS), namely for 5°C (2,42-2,87°brix), 15°C (3.18-3.33°brix), and 27°C (3.57-4.02°brix)). The research results can be concluded that existing post-harvest handling by farmers still needs to be improved because the weight loss is still high, ranging from 25-75%; The best treatment for seeds is a combination of root washing + systemic pesticides + 7 hours of UV-C irradiation; The best treatment for storing shallots is in a modified atmosphere chamber, at a temperature of 5ºC + 5% O2.
Kata Kunci : Bawang merah, susut bobot, pascapanen, UV-C , MAS