Perbedaan persepsi suami istri terhadap nilai anak di Kecamatan Metinaro dan Kecamatan Dili Barat Kabupaten Dili Propinsi Timor-Timur
Clara Maria Nunes de Carvarlho, Dr. Djamaludin Ancok; Dr. Sjafri Sairin
1995 | Tesis | S2 KependudukanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepsi responden suami istri tentang nilai anak, pertimbangan untuk menambah/tidak menambah anak lagi, jumlah anak masih hidup dan jumlah anak yang diharapkan laki-laki maupun perempuan dalam keluarga berdasarkan faktor-faktor sosial, ekonomi dan psikologi yang mempengaruhinya di 2 (dua) kecamatan di Kabupaten Dili (Metinaro dan Dili Barat). Diperkirakan, agama, tingkat pendidikan, status pekerjaan dan status tempat tinggal responden suami istri berpengaruh positif terhadap persepsi tentang nilai anak, jumlah anak masih hidup dan jumlah anak yang diharapkan laki-laki maupun perempuan. Untuk menguji perkiraan (hipotesa) ini dilakukan wawancara terhadap dua ratus pasangan suami istri di 2 (dua) kecamatan sampel yang memenuhi syarat desa dan kota serta mempunyai tingkat prevalensi KB yang berbeda. Sampel tersebut dipilih secara ‘purposive’. Data yang diperoleh dari lapangan dianalisa dengan tabulasi frekuensi dan analisis variansi. Hasil nilai rata-rata dari hubungan antara variabel perbandingan maupun interaksi 2-jalan antara variabel pengaruh dengan variabel terpengaruh menunjukkan bahwa sebagian besar responden suami beragama Katolik di desa, berpendidikan rendah dan berstatus pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap mempunyai persepsi yang positif tentang nilai anak dan mempertimbangkan untuk menambah anak lagi. Sebaliknya sebagian besar responden istri di kota beragama Protestan, berpendidikan tinggi dan berstatus pekerjaan dengan penghasilan tetap mempunyai persepsi yang negatif tentang nilai anak dan mempertimbangkan untuk tidak menambah anak lagi dalam keluarga. Sebagian besar keluarga responden yang beragama Protestan di desa, berpendidikan tinggi dan berstatus pekerjaan dengan penghasilan tetap mempunyai jumlah anak masih hidup laki-laki terbanyak; sebagian besar responden Animisme di desa, berpendidikan tinggi dan berstatus pekerjaan dengan penghasilan tetap mempunyai jumlah anak masih hidup perempuan terbanyak. Sedangkan sebagian besar responden suami Animisme di desa, berpendidikan rendah dan berstatus pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap menginginkan jumlah anak ideal terbanyak laki-laki daripada perempuan. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa secara umum variabel status tempat tinggal responden dan kovariat (umur dan usia kawin pertama) mempunyai pengaruh yang sangat signifikan (P < 0,05) terhadap adanya perbedaan persepsi tentang nilai anak, pertimbangan untuk menambah/tidak menambah anak lagi, jumlah anak masih hidup dan jumlah anak yang diharapkan. Di samping itu, hasil penelitian ini menunjukkan pula bahwa rata-rata tingkat kematian bayi/anak dalam keluarga responden di Metinaro lebih tinggi (0,86) daripada dalam keluarga responden di Dili Barat (0,32). Diperkirakan tingginya tingkat kematian bayi/anak di Metinaro disebabkan oleh faktor-faktor di luar penelitian ini, yaitu faktor internal (kesehatan ibu) dan faktor eksternal (pelayanan kesehatan dan air bersih yang kurang memenuhi bagi kebutuhan masyarakat, terutama pada musim kering).
The aim of the study is to investigate the perception of the husbands and wives toward the value of children, the desire to add/not add more children, the number of the living children, the number of desired children (dependent variables) and to find out factors which influence that (independent variables). The study was carried out in the two subdistricts of Dili Regency (Metinaro and West Dili). It was hypothesized that the religion, education, occupation status and the status of the area of the husband and wife respondents have positive influence toward the dependent variables. To test the hypothesis, an interview was conducted to two hundred husband and wife respondents in two sample subdistricts having different status of area, Metinaro (rural) West Dili (urban) and different prevalences of family planning. The samples selection was conducted using purposive sampling. The obtained data analysed using frequency table and analysis of variance. The mean rating between independent variables or 2-ways interaction independent variables with dependent variables shows that the majority of the Catholic husband respondents, living in rural area, with low level education and non-permanent salary have positive perception on the value of children and desire to add more children; the majority Protestant wife respondents, living in urban area, with high level education and permanent salary have a negative perception on the value of children and desire to not add more children; the majority Protestant families living in rural area, with high level education and permanent salary have a higher number of living male children; the majority Animisme families living in rural area, with high level education and permanent salary have a higher number of living female children; and the Animisme husband respondents living in rural area, with low level education and non-permanent salary have a higher number of the desired male children than the female children. The result of the analysis of variance shows that the status of area and the covariates have a strongly significant influence (P < 0,05) toward the dependent variables. Besides, the study also shows that the families in Metinaro have a higher rate of infant/children mortality than the families in West Dili. It has estimated that the high rate of infant/children mortality in Metinaro is influenced by the other factors out of this study.
Kata Kunci : Nilai anak, Suami Istri