Kajian Risiko Kesehatan Lingkungan Permukiman di Sempadan Rel Kereta Api Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta
Linta Aulia, Prof. Dr. Lutfi Muta'ali, S.Si., MT; Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si
2026 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan
Pertumbuhan penduduk dan migrasi di Kota
Yogyakarta menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan permukiman, yang memicu
munculnya permukiman liar di area sempadan rel kereta api. Kecamatan
Gondokusuman merupakan wilayah dengan lintasan rel kereta api terpanjang di
Kota Yogyakarta (2,1 Km) dan memiliki kepadatan permukiman yang tinggi di
sepanjang jalur tersebut. Kondisi permukiman yang berada pada jarak 2 hingga
17,5 meter dari rel ini melanggar regulasi dan berisiko terhadap kesehatan
lingkungan akibat buruknya sanitasi dan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi gambaran sanitasi dan karakteristik rumah, mengkaji
risiko kesehatan lingkungan dengan metode Environmental Health Risk
Assessment (EHRA), serta merumuskan strategi penataan permukiman di
sempadan rel kereta api Kecamatan Gondokusuman. Penelitian ini dilakukan di
Kelurahan Demangan dan Baciro dengan melibatkan 39 rumah tangga yang bersedia
sebagai responden melalui metode purposive sampling. Data dikumpulkan melalui
wawancara dan observasi lapangan menggunakan instrumen kuesioner EHRA serta
form ceklist sanitasi permukiman. Temuan menunjukkan bahwa di Kelurahan
Demangan, 73,33% rumah tangga berada di risiko kesehatan lingkungan rendah dan
26,67% rumah tangga berada di risiko kesehatan lingkungan sedang. Sedangkan di
Kelurahan Baciro, 70,83% rumah tangga berada di risiko kesehatan lingkungan
sangat rendah dan sisanya 29,17% rumah tangga berada di risiko kesehatan
lingkungan rendah. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan
antara status kepemilikan tanah (tenurial) dengan kualitas sarana sanitasi
(p=0,028), di mana legalitas lahan mendorong penghuni untuk berinvestasi pada
infrastruktur sanitasi yang lebih baik. Risiko kesehatan lingkungan di wilayah
studi tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur fisik (hardware),
tetapi sangat didominasi oleh perilaku penghuni (software). Strategi
penataan yang direkomendasikan mencakup pendekatan zonasi prioritas melalui
program jangka pendek (pembangunan IPAL komunal), jangka menengah (peremajaan
ventilasi rumah), dan jangka panjang (edukasi PHBS dan pengelolaan sampah
berbasis komunitas).
Population growth and migration in Yogyakarta
City have led to an increase in the need for residential land, which has
triggered the emergence of illegal settlements in the railway border area.
Gondokusuman District is an area with the longest railway track in Yogyakarta
City (2.1 km) and has a high density of settlements along the line. The
condition of the settlement, which is located at a distance of 2 to 17.5 meters
from the rails, violates regulations and poses a risk to environmental health
due to poor sanitation and infrastructure. This study aims to identify the
sanitary overview and characteristics of the house, assess environmental health
risks using the Environmental Health Risk Assessment (EHRA) method, and
formulate a settlement arrangement strategy at the border of the railway line
of Gondokusuman District. This research was conducted in Demangan and Baciro
Villages by involving 39 households who were willing as respondents through the
purposive sampling method. Data was collected through interviews and field
observations using EHRA questionnaire instruments and settlement sanitation
check forms. The findings showed that in Demangan Village, 73.33% of households
were at low environmental health risk and 26.67% of households were at moderate
environmental health risk. Meanwhile, in Baciro Village, 70.83% of households
are at very low environmental health risk and the remaining 29.17% of
households are at low environmental health risk. The results of the statistical
test showed a significant relationship between land ownership status and the
quality of sanitation facilities (p=0.028), where land legality encouraged
residents to invest in better sanitation infrastructure. Environmental health
risks in the study area are not only influenced by the availability of physical
infrastructure (hardware), but are strongly dominated by the behavior of
residents (software). The recommended structuring strategies include a priority
zoning approach through short-term programs (construction of communal WWTP), medium-term
(rejuvenation of house ventilation), and long-term (PHBS education and
community-based waste management).
Kata Kunci : Risiko Kesehatan Lingkungan, Permukiman Sempadan Rel, EHRA, tenurial