Karakteristik Elektrokardiografi pada Anak dengan Duktus Arteriosus Persisten
Dhea Fahriati, Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes., Ph.D., Sp.A(K); dr. Nadya Arafuri, M.Sc., Sp.A(K)
2026 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang: Duktus arteriosus persisten (DAP) merupakan penyakit jantung bawaan asianotik yang menyebabkan shunt kiri ke kanan antara aorta dan arteri pulmonalis. Besarnya shunt dipengaruhi oleh ukuran duktus dan dapat menimbulkan perubahan hemodinamik yang berdampak pada struktur serta aktivitas listrik jantung. Elektrokardiografi (EKG) merupakan pemeriksaan yang mudah diakses dan berpotensi membantu evaluasi awal pasien DAP.
Tujuan: Menganalisis karakteristik elektrokardiografi pada anak dengan DAP berdasarkan ukuran duktus.
Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang pada anak dengan diagnosis DAP terkonfirmasi ekokardiografi dan menjalani pemeriksaan EKG di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2022–2024. Parameter EKG yang dianalisis meliputi frekuensi denyut jantung, durasi dan amplitudo gelombang P, interval PR, durasi QRS, amplitudo gelombang R dan S, aksis, irama, serta hipertrofi atrium dan ventrikel. Analisis bivariat menggunakan uji Kruskal–Wallis dan Chi-square.
Hasil: Sebanyak 73 subjek dianalisis. Irama sinus (98,6%) dan aksis normal (84,9%) merupakan temuan terbanyak pada semua kelompok ukuran DAP. Sebagian besar parameter numerik EKG tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Namun, terdapat hubungan bermakna antara ukuran DAP dengan kejadian hipertrofi jantung (p=0,020), pembesaran atrium kiri (p=0,007), hipertrofi biventrikular (p<0 p=0,046).>
Kesimpulan: DAP besar berhubungan dengan dampak hemodinamik yang lebih signifikan terhadap jantung. EKG berpotensi menjadi alat skrining awal untuk mengidentifikasi anak dengan risiko hemodinamik tinggi.
Background: Patent ductus arteriosus (PDA) is an acyanotic congenital heart disease causing a left-to-right shunt between the aorta and pulmonary artery. Ductal size determines shunt magnitude and may affect cardiac structure and electrical activity. Electrocardiography (ECG) is an accessible diagnostic tool that may assist early evaluation.
Objective: To analyze electrocardiographic characteristics in children with PDA according to ductal size.
Methods: A cross-sectional analytic study was conducted in children with echocardiography-confirmed PDA who underwent ECG examination at Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta (2022–2024). ECG parameters included heart rate, P wave duration and amplitude, PR interval, QRS duration, R and S wave amplitude, axis, rhythm, and atrial/ventricular hypertrophy.
Results: Seventy-three subjects were included. Sinus rhythm (98.6%) and normal axis (84.9%) were predominant. Most numeric ECG parameters showed no significant differences. Ductal size was significantly associated with cardiac hypertrophy (p=0.020), left atrial enlargement (p=0.007), biventricular hypertrophy (p<0 p=0.046).>
Conclusion: Larger PDA size is associated with greater hemodynamic impact. ECG may serve as an initial screening tool to identify high-risk pediatric patients.
Kata Kunci : Duktus arteriosus persisten, elektrokardiografi, hipertrofi jantung, hipertensi pulmonal, anak